
Aedion yang sedang menggendong tubuh kecil William tidak bisa menggerakkan tubuhnya, sebuah cahaya merah memancar dan menyelimuti tubuhnya.
"Sepertinya hukuman hari lalu tidak cukup untukmu, Constantine."
Isaac berbicara dengan penuh tekanan, rasa pening menyerang kepala William.
Keturunan dewa yang hanya bisa memusnahkan bangsa penghisap darah hanya dengan darah mereka yang bisa memusnahkan bangsa penghisap darah.
Namun, ada ramalan yang berkata bahwa darah yang mengalir pada keturunan dewa dapat memakmurkan bangsa penghisap darah.
Sesuatu benda asing yang dingin menyentuh kulit pergelangan tangannya dan kedua kakinya, hawa dingin hingga menusuk ke tulang membuatnya mengerutkan dahi.
Manik yang identik dengan warna langit malam itu terbuka, ruangan yang luas dan tidak ada apapun kecuali sebuah panggung dengan darah yang mengalir deras jatuh ke lantai.
Panggung yang hanya bisa diisi satu orang dewasa dan beberapa orang anak kecil itu terdiri dari Aedion Constantine yang memiliki keadaan tidak baik, kedua tangan yang terpasung serta tubuhnya yang tidak terhalang kain itu terluka.
Mulutnya terbuka lebar berguna meraup udara dengan rakusnya. "Oh, manusia kecil ini sudah siuman." Senyuman lebar pria berstatus tinggi mengejutkan William yang baru sadar akan keadaannya yang tak jauh sama dengan Dion.
"Constantine, sudah kukatakan kau tidak perlu mengatakan hal apapun pada seorang manusia. Bocah itu hanya kugunakan untuk menjadikan Ethel sepenuhnya menjadi milikku." Ujar Isaac.
Pria dengan pakaian putih berjalan dengan kedua tangan yang ia tautkan di belakang punggungnya. Setiap kakinya melangkah tercipta sebuah retakan kecil pada lantai putih yang bersih itu.
Tangan itu terangkat ke atas udara, sebuah aliran aura mengumpul di satu tempat, yaitu genggaman tangan Isaac.
Aliran aura itu di layangkan ke arah William yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
Namun, seorang pria dewasa menghadang serangan dengan energi yang besar itu, darah kembali mengalir deras.
"Tak kusangka Aedion de Constantine yang kurekrut memiliki rasa belas kasihan terhadap manusia kecil yang lemah."
"He-hei, berhenti. Bukankah dia tangan kananmu, dia kan orang yang kau percayai. Kenapa kau melukainya?"
Kaki jenjang dengan pakaian yang menyelimuti kedua kaki yang sudah dipenuhi darah itu berhenti.
"Orang yang dipercayai? Bocah, kau harus mempelajari isi hati bangsa vampir. Kami tidak memiliki rasa seperti kalian, para manusia pada umumnya."
"Kami membunuh sesama, membantai keluarga kami, menyiksa siapapun yang menghalangi tujuan kami, baik itu teman, keluarga, atau bahkan ... kekasih." Ujar Isaac.
Pria berambut ikal itu berlutut dengan tatapan mata yang kosong, mulutnya yang terbuka lebar meraup udara dengan rakus seolah tidak dapat menghirup udara, tubuh bagian depan yang terluka parah serta rasa sakit dan lelah yang luar biasa.
__ADS_1
"Bersyukurlah karena kau terlahir sebagai adik dari gadis yang kusukai. Kau tidak akan kubunuh dengan mudah."
Pria dengan surai putih dan manik mata merah itu memperlihatkan punggungnya yang bebas pelindung terhadap kedua laki-laki yang sedang lemah.
"Ethel mencurigai ruang bawah tanah, maka sebab itu kau kupindahkan ke sini, Manusia kecil." Ujar Isaac.
Pasung yang mengikat kedua tangan dan kaki William terlepaskan sejak suara pintu menginterupsi. "Basillius, Nona Galiadne menunggu anda di ruang makan."
"Katakan aku akan segera datang bersama dengan adik kesayangannya." Ia tersenyum dengan mata merah yang melirik dari ekor matanya.
+
Suasana hening ruang makan dengan dekorasi ruangan yang sedikit menyeramkan itu runtuh dengan suara yang tidak asing di telinganya.
Langkah kaki pendek itu berlari mendekap tubuh gadis dari belakang. "Kakak!" William berseru senang dengan kedua tangan yang mendekap erat leher Ethel.
Gadis berparas rupawan itu menoleh dengan air mata yang meluncur dari mata kirinya, mulutnya terbuka tidak percaya.
Ia membalas dekapan adik bungsunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. "Liam..."
"Sepertinya kalian benar-benar menganggapku tidak ada ya?"
Suasana sendu menyentuh hati yang diciptakan oleh kakak beradik seorang manusia yang tinggal di dunia bangsa vampir hancur dengan suara berat seorang pria yang memimpin bangsa vampir, Nark de Melchias.
Anak kecil itu bergerak duduk di samping kakaknya, menundukkan kepala tak berani menatap ke arah sebrang dimana pria yang baru saja berbicara kejam di depannya duduk.
"Liam, kenapa wajahmu pucat? Kau sakit? Perlukah kita memanggil dokter?" Ethel bertanya.
Perhatian serta lirikan manik mata merah Nark terpusat pada wajah penuh keringat William. "Sepertinya dia takut, apa kita perlu membawanya ke dokter?"
Pria bersurai putih itu bangkit melangkahkan kakinya mendekati William yang menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang terkepal di atas pahanya.
"Nak, apa yang kau rasakan sampai tidak ingin menatapku?" Nark bertanya.
Tubuh William bergetar merasakan hawa membunuh yang begitu kuat menyelimutinya. Hawa yang identik di ruang penghakiman dimana pria ini sedang menyiksa tangan kanannya sendiri.
"Ka-kakak bisakah kita segera kembali ke kamar kakak? Kantuk menyerangku." Ujar anak kecil itu sembari menarik kecil gaun yang dipakai Ethel.
"Maaf, Yang Mulia. Saya rasa Liam sedang kurang sehat, saya permisi." Ujar Ethel melewati Nark tanpa meliriknya.
__ADS_1
"Panggilkan Dante M. D'artagnan ke istana segera, telat satu menit jangan harap akan melihat matahari esok hari." Titahnya pada seorang pelayan.
Derap suara langkah kaki memenuhi lorong yang luas dan besar berdekorasi antik, pintu dengan ukiran spesial terbuka oleh seorang pria yang terengah-engah.
"Yang Mulia?" Gadis itu terkejut dengan keadaan yang dialami seorang Raja.
Nark yang datang dengan napas yang terengah-engah serta butir-butir keringat yang membasahi kening, serta leher.
William tersentak dari tidurnya dan bersembunyi di balik tubuh Ethel.
"Aku membawa seorang dokter terpercaya di bangsaku, namanya Dante M. D'artagnan. Vampir bangsawan yang menetap di utara untuk mencari bahan eksperimen yang akan memenuhi kebutuhan obat-obatannya." Nark menyingkirkan tubuhnya dari pintu dan memperlihatkan seorang pria dengan surai putih identik dengan Rael.
Kedua tubuh manusia bangsawan itu menegang, pria bersurai putih dengan kacamata dan manik mata yang merah tersenyum.
Ilusi tentang Rael pun berada pada diri pria itu. "Rael?" Ethel bergumam.
"Maaf, Nona?"
Dengan kasar ia mengusap wajahnya yang sempat basah oleh air mata yang jatuh. "Tidak, saya hanya bergumam."
Dante memeriksa setiap inci tubuh luar maupun dalam William dengan seksama, keningnya mengerut menandakan tidak ada apapun yang terjadi pada tubuh anak itu. "Maaf, apa adik anda sering berhalusinasi?"
"Tidak. Liam sangat jarang berhalusinasi karena kami selalu memperlakukannya dengan baik, apa dia sakit?"
Lirikan mata itu beralih pada pria yang berdiri di belakang Ethel dengan pandangan malas. Apa Raja yang memperlakukannya dengan buruk? Pikir Dante.
"Akhir-akhir ini tubuhnya sering bergetar ketakutan, lebih baik hindari hal-hal yang membuatnya trauma."
Sang dokter bangkit dengan sebuah senyuman manis, gadis itu termenung dengan air mata yang menggenang siap jatuh kapan saja.
"Dimana Aedion Constantine, Yang Mulia? Bukankah setiap saat dia berada di sisi anda kemanapun anda pergi?"
"Dia sedang menjalani masa hukuman di ruangan putih." Bisik Nark.
Kendali yang memegang penuh atas tubuh Raja Vampir adalah Nark.
Namun, seseorang yang terkuat mengatakan bahwa iblis yang bersemayam di dalam tubuhmu bisa saja kalah akan pengaruhmu atau bahkan bisa mengalahkan pengaruhmu atas kendali tubuhmu.
"Ingat, Isaac. Tubuh seorang anak kecil manusia tidak seperti tubuh anak kecil bangsa iblis ataupun vampir. Tubuh mereka lebih rentan terluka, jika kau menyiksanya seperti yang kau lakukan terhadap tangan kananmu itu, dia akan mati." Dante mendekatkan wajahnya pada indra pendengar Nark.
__ADS_1
Sebuah tangan putih dan dingin menyentuh pundak yang beralaskan pakaian putih. "Siapa yang kau panggil Isaac, Dante?"
Bersambung...