
Seorang pria terbangun dari tidurnya yang cukup membuat luka di tubuhnya menutup.
Mata merah itu menatap sosok Vampir yang jauh lebih kuat darinya sedang menghisap darah seorang manusia. "Yang Mulia?" Dion berucap pelan.
Surai putih itu membalikkan tubuhnya, membuat Dion menatap wajah yang asing di penuhi oleh noda darah manusia. "Oh, lihat. Anjing penurut ku sudah bangun."
Isaac melepaskan genggamannya pada tubuh manusia itu, mendekati Dion yang terpasung erat.
Pria surai putih itu mengulurkan tangan, mencekik leher Sang bangsawan tertinggi setelah anggota kerajaan.
"Constantine, kau adalah bangsawan dengan pengetahuan yang luas. Katakan padaku, apa yang bisa membuatku menjadi manusia seutuhnya."
Suasana ruang penghakiman begitu hening dan dingin. Dion kepala keluarga Constantine terdiam dengan darah yang mengalir dari lukanya.
"Isaac, kau bilang kau benci manusia. Tapi kenapaโ"
"Aku mencintai manusia itu, lebih tepatnya gadis bernama Ethel de Galiadne."
Terkejut? Tentu, Dion berpikir raja yang merupakan makhluk dari bangsa Iblis itu tidaklah memiliki rasa ketertarikan.
"Yang Mulia..."
Rambut ikal itu berkibar karena hembusan angin yang berasal dari sudut ruang penghakiman. "Berhenti bersikap seperti itu, katakan saja." ujar Isaac.
Kulit putih bagaikan orang mati, Dion mencoba untuk tidak tersenyum lebar mendengar Rajanya meneguk air liurnya. "Ramalan zaman dulu pernah berkata bangsa manusia memiliki 1% dari 25% darah keturunan Dewa."
"Darah itulah yang bisa membuat Anda menjadi manusia seutuhnya, hanya dengan menghisap darah mereka selama 100 hari."
Hanya itu yang dapat di katakan oleh Dion yang merupakan pengetahuan luas daripada Vampire lainnya. "Siapa yang keturunan Dewa?"
โค
๐๐ฌ๐ญ๐๐ง๐ ๐๐ฅ๐ฒ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ฆ, ๐๐ฎ๐๐ง๐ ๐ญ๐ข๐๐ฎ๐ซ.
Pintu ruang tidur seorang gadis bangsawan itu terbuka, seorang pria bersurai putih itu berdiri bersandari di pintu.
"Nark," panggil Ethel pelan.
__ADS_1
Rasanya aneh di tatap oleh mata merah yang pernah membantai manusia dan keluarganya.
William, Sang adik pun mendekap Ethel dengan erat. "Ethel, bisakah aku meminjam adikmu beberapa hari ke depan?" Ujar Nark.
Pria bersurai putih itu mendekat, senyuman terukir membuat suasana menakutkan. "Kakak..." William melirih.
Rasa takut menyebar bagai darah yang mengalir ke seluruh tubuh. "Untuk... Apa?"
"Ethel," Mata merah itu menyala, mengendalikan pikiran Sang gadis manusia.
"Iya. Ambillah." Ujar Ethel, mata biru itu berubah menjadi merah layaknya para Vampire.
Isaac, seorang Basilius yang mengendalikan semua yang ia inginkan, termasuk Dunia. Jika ia berkata ini, maka hal itu harus terjadi. Jika tidak, maka dunia akan dihancurkan olehnya.
Hidup nya sebagai manusia akan tercapai dengan menghisap darah keturunan dewa selama 100 hari.
Demi tujuan itu, mengendalikan pikiran bahkan membunuh puh ia akan lakukan.
๐๐๐๐๐ซ๐๐ฉ๐ ๐ฌ๐๐๐ญ ๐ฅ๐๐ฅ๐ฎ...
"Siapa yang keturunan dewa?"
"Dulu ada ramalan di dunia manusia, ramalan yang berbunyi Manusia dengan darah keturunan dewa akan lahir dan mensejahterakan rakyat yang tersiksa. dan tidak lama dari ramalan itu, Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Erebus melahirkan anak."
Isaac tersenyum. Hidupnya dengan Ethel ternyata semudah mengambil permen pada anak kecil yang baru saja bisa berjalan.
Peluang sudah di depan mata, anak dari Kaisar dan Permaisuri yang mereka bunuh berada di genggaman nya.
"Jadi intinya manusia dengan darah keturunan dewa adalah Ethel de Galiadne dan William de Galiadne, bukan?"
Dion mengukir senyuman begitu Raja yang menjadi lawan bicaranya memiliki manik mata yang menyala.
"Tepat sekali, Yang Mulia."
"Beruntung kedua manusia itu tidak mati di peternakan manusia." Isaac bergumam dengan jemari lentik yang menyentuh dagunya.
๐๐๐๐ญ ๐ข๐ง๐ข...
__ADS_1
Darah itu mengalir deras membasahi lantai yang kotor dan kasar itu, tubuh anak kecil itu di angkat hingga kedua kakinya tergantung di udara dengan lemas.
Rintihan anak itu tidak akan mendatangkan seorang pahlawan yang akan datang menyelamatkan nya dari seorang iblis yang sedang memangsa nya.
"Cih, bahkan darah binatang lebih enak rasanya." ujar Isaac menjatuhkan tubuh William dengan kasar.
Bercak darah membekas di tepi bibirnya, mengusapnya kasar dan berdecak kesal.
"Apa darah keturunan dewa setidak enak ini?"
William terbaring dengan lemah serta napas yang terputus-putus, mulutnya terbuka lebar meraup oksigen dengan rakus.
Rasa sakit yang ia dapatkan jauh lebih sakit daripada yang Ethel rasakan di saat Nark menancapkan taring di leher gadis itu.
Isaac jauh lebih kasar. "Kau bisa membunuh adik dari gadis yang kau cintai itu, Basillius." Dion memberikan sebuah kain untuk Isaac.
"Heh, memangnya manusia bisa apa jika aku sudah mengerahkan kekuatan? Aku tinggal membuat gadis itu hanya mengingatku di dalam hidup nya."
Kain yang berwarna putih sekarang dipenuhi dengan noda darah yang membekas di sana.
"Urus tubuhnya. Aku butuh darah itu selama 99 hari ke depan, dan jangan sampai Ethel tahu tempat ini. Jika ia tahu,"
Isaac menarih kerah pakaian Dion dan berbisik, "Kau yang aku salahkan dan berakhir di ruang penghakiman."
Dion menatap tubuh anak kecil yang terbaring lemah di lantai yang kotor hanya bisa menghembuskan napas.
Darah yang keluar dari luka di lehernya mulai menggenang di sekitar tubuhnya.
"Kasihan sekali ya manusia sepertimu yang tidak tahu apapun tapi tetap dimangsa."
Sebuah cahaya merah bersinar begitu Dion mendekatkan tangannya ke arah luka gigit di leher William, luka itu sembuh setelah cahaya merah itu menghilang.
William bangun, ia menatap Dion dengan manik mata nya yang kosong. Mulut kecilnya terbuka berusaha mengatakan sesuatu. Namun, suaranya tidak terdengar sama sekali.
"Apa lukanya masih sakit sampai-sampai kau tidak bisa bersuara atau memang Raja merusak pita suara mu agar tidak bicara tentang hal ini." Dion berujar.
Di lorong ruang bawah tanah yang kotor dan penuh aroma darah, seorang berjalan dengan ringan tanpa harus memikirkan hidup seseorang.
__ADS_1
Ia tersenyum senang begitu merasa hidup impiannya sudah dekat. "Yang Mulia?"
Bersambung..