THE VAMPIRE ; Nark De Melchias

THE VAMPIRE ; Nark De Melchias
XIX. [Ενότητα] η ατμόσφαιρα είναι γεμάτη ζεστασιά


__ADS_3

𝟏𝟗. [𝐁𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧] 𝐒𝐮𝐚𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐤𝐞𝐡𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭𝐚𝐧


________________________________


Suasana di ruang makan menjadi hening dan canggung dengan wajah Ethel yang memerah dengan bercak merah di lehernya yang semakin bertambah. "Kakak, apa kau alergi?" William bertanya.


"Alergi? Kenapa kau bertanya ketika kau tahu aku tidak punya alergi apapun?" ujar Ethel melihat wajah Liam dengan wajah bingung. 


Jari telunjuknya yang kecil itu menunjuk lehernya sendiri dan berucap, "Ada bercak merah di leher kakak. Aku penasaran karena di istana tidak ada nyamuk." ujarnya. 


Aedion yang melihat leher Ethel begitu William memperagakannya, ia menahan senyuman yang terukir di wajahnya. "Maaf, Tuan Muda. Nona Galiadne tidak mengalami alergi atau di gigit nyamuk, tapi seseorang-" 


Ethel menutup mulut Dion agar kalimat tabu bagi anak kecil itu tidak terucap. "Hanya luka kecil, sebentar lagi juga sembuh." ujar Ethel menyela ucapan Dion. 


Ethel beralih menatap Dion dan menatapnya tajam. "Jangan berbicara hal dewasa di depan anak kecil, Aedion." 


Pria dengan surai ikal itu terkekeh kecil, senyuman terukir di wajah dinginnya yang terkesan datar. "Maaf... maafkan saya, Nona. Tapi tingkah polos Tuan Muda sungguh membuatku tidak bisa menahan senyumanku." ujarnya tersenyum manis dengan kedua mata yang terpejam. 


Suasana menghangat begitu pelayan dan semua orang yang di ruang makan melihat Aedion tersenyum manis untuk pertama kalinya. "Kukira kau tidak bisa tersenyum, Dion." ujar Nark. 


"Tentu bisa, Yang Mulia. Hanya saja, tidak ada seseorang yang bisa membuat saya tersenyum sejauh ini." 



Angin di sore hari berhembus kencang dengan dedaunan yang terbang mengikuti arus angin. Taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga itu melambai ke kanan dan ke kiri. Seorang gadis duduk di kursi memandangi matahari yang hendak terbenam dengan seorang pria yang duduk di sampingnya. 


"Bagaimana perasaanmu begitu tinggal di duniaku?" ujar Nark dengan surai rambut yang melambai-lambai mengikuti arus angin yang berhembus. 


Pupil biru milik gadis manusia itu melebar menatap Nark yang terlihat tampan di matanya. Dia senyum, pria yang dahulu berdarah dingin itu menarik sudut bibirnya sedikit membentuk sebuah senyuman tipis. 


"Setidaknya di sini aku tidak kesepian. Di sini orang-orangnya juga baik, dan pemikiranku tentang vampir tidak selalu jahat. Vampir ada yang baik."


Nark menyentuh punggung tangan gadis itu dengan sentuhan lembut, perlahan ia menggenggamnya hingga Ethel memandangnya dengan tatapan terkejut. 


Mereka tertawa dengan sinar matahari yang menyinari mereka. Kening mereka saling menyentuh satu sama lain. "Ethel, maukah kau menjadi pendamping hidupku?" ujar Nark. 


Semburat merah memenuhi wajah cantik gadis manusia itu, ia menundukkan kepala mengalihkan pandangannya ke tanah yang berumput hijau. 

__ADS_1


"Aku merasa senang kau mencintaiku begitu dalam. Tapi kau tahu kan bahwa kita adalah dua makhluk yang berbeda?" Ethel tersenyum sendu menatap wajah Nark yang disinari matahari yang hampir terbenam. 


Nark menggigit bibir bawahnya hingga rasa amis terasa di indra perasanya. "Kau tidak suka? Aku akan berusaha keras agar menjadi manusia dan hidup bersamamu. Jika kau tidak ingin menjadi vampir sepertiku." Nark melirih dengan sedih. 


"Kau vampir murni, apa ada cara mengubah vampir murni menjadi manusia seutuhnya? Itu adalah hal yang terdengar mustahil." ujar Ethel. 


Pupil biru itu menatap matahari yang mulai tenggelam dan suasana menjadi gelap. Ethel bangkit dengan tangan Nark yang menahannya. "Kau-" 


Ucapan itu tidak terucap karena Nark menarik Ethel ke pangkuannya dan menciumnya dengan tangan yang memeluk erat tubuhnya. "Akan kulakukan apapun untuk bisa hidup bersamamu." bisik Nark. 


"Bagaimana jika taruhannya nyawamu?" Ethel bertanya dengan napas yang tidak teratur. "akan kulakukan itu, Nona." Nark menyeringai. 


"Kau tadi bertanya cara agar aku bisa menjadi manusia kan? Akan kuberitahu sekarang, tapi kau tidak boleh merintih kesakitan." Nark berujar dengan senyuman misterius yang membuat Ethel penasaran. 


Dengan anggukkan gadis itu, perlahan Nark mendekati leher gadis itu yang tak terhalang kain.


Kedua taring tajamnya mencuat keluar dan menusuk permukaan kulit gadis itu dengan cepat. 


Tubuh gadis itu tersentak kecil, pria itu dapat merasakannya bahwa gadis itu hendak berteriak kesakitan. "Inilah caranya agar aku bisa menjadi manusia." 


Ia mengusap wajah Ethel dengan lembut dan tersenyum. "Darahmu yang merupakan darah keturunan dewa mampu menjadikan vampir murni menjadi manusia seutuhnya." bisik Nark. 


Tangan kecil itu mengangkat wajah Nark yang tengah disembunyikan di pundaknya. Ia mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.


"Jangan menjadi manusia jika cara satu-satunya itu menyakiti orang yang kau cintai. Kau begini saja bisa berada di sisiku." ujar Ethel. 


"Tapi... bagaimana jika kau tewas terlebih dahulu sebelum aku? Kurasa aku tidak dapat menahan rasa kesepian itu.." lirih Nark. 


"Entahlah, takdir kematian hanya Tuhan yang tahu. Jika itu terjadi maka ikhlaskan lah aku, tapi jika yang tewas duluan adalah kau. Maka aku akan menunggumu bahkan jika itu artinya aku mati dan bertemu denganmu di alam sana."


Nark menangis dengan memeluk erat tubuh kecil itu. Alam adalah saksi bisu dari pernyataan cinta mereka yang tulus dan terkesan romantis itu.


"Maka aku akan menunggumu bereinkarnasi dan menjadikanmu sebagai istriku di kehidupan yang lain." bisik Nark mencium pipi Ethel dan tersenyum manis.


Air mata itu menjadikan matanya memerah dan sembab, senyuman manisnya seakan-akan menandakan aura kesedihan. "Berjanjilah padaku untuk baik-baik saja, Nark. Aku tahu kau Raja vampir, tapi bukan berarti kau abadi." 


"Aku akan menepati janji itu, Sayang. Akan kutepati janji itu, namun jika tidak maka aku akan meminta pada Tuhan untuk segera mempertemukan kita."

__ADS_1


"Entah di kehidupan ini atau di kehidupan yang lain."


+


Rasa ketakutan memenuhi ruang makan begitu Sang Raja dan gadis pujaannya pergi serta pengawalnya Aedion de Constantine untuk menikmati hari yang cerah itu.


Anak kecil manusia itu berlari meninggalkan ruang makan yang sudah bertumpah darah seorang pelayan. 


"Monster..." gumamnya sembari menangis dengan derasnya. 


Karpet yang berada sepanjang koridor itu membuatnya terjatuh dengan lutut yang tergores akibat permukaannya yang sedikit kasar.


"Kenapa kau lari? Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari para pelayan yang haus akan darahmu itu." 


"Kemarilah, William. Kakakmu akan marah jika seperti ini." ujar orang itu. 


"Kakakku tidak akan marah karena aku menyelamatkan diriku dari monster yang membunuh kakak laki-lakiku di depan mataku!" seru William. 


Ia bangkit dan berlari ke ruang tidur nya. 


Suasana ruang tidur William begitu mencekam dan gelap. Anak kecil itu begitu ketakutan, ia mengunci pintu dan meringkuk di ranjang dengan selimut yang menyelimuti tubuh kecil itu.


Tak jarang ia menggumamkan nama kakak perempuannya. 


"Ethel... cepatlah ke istana.." gumamnya. 


Jendela kamarnya berbunyi, ia membuka lilitan selimut itu dari dirinya. Dan menatap takut ke arah jendela yang berbunyi tanpa adanya apapun. 


"Angin?" ujarnya. 


Ia berjalan dengan tangan kecil yang terulur untuk membuka jendela itu. Namun kaca jendela itu pecah bersamaan dengan sebuah tangan yang mencekik lehernya. 


"Kau tikus kecil, beraninya lari dariku." 


Pria itu mendekatkan wajahnya pada William yang menangis ketakutan.


"Andai kau tidak ada, mungkin kakakmu itu sudah milikku selamanya. Dan karena yang pertama kali menemukan Ethel adalah Nark, andai semua itu adalah aku." 

__ADS_1


"Kau... tidak pantas untuk kakakku." 


Bersambung...


__ADS_2