
𝟏𝟕. [𝐁𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧] 𝐓𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐒𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢
______________________________
Ledakan kencang terdengar oleh mereka, tubuh Nark terbaring di atas tanah yang rusak ke dalam karena tubuhnya yang dibanting oleh Carveth dengan kuat. "Aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar bertambah kuat."
Darah mengalir dari indra penciuman dan mulutnya. Dengan susah payah ia bangkit dengan tekanan aura Carveth yang mendominasi atas kendali tubuhnya. "Kau kuat dengan kekuatanmu atau Isaac yang mengambil alih atas kendalimu, Nak?"
Sebuah serangan langsung mengarah pada Carveth yang tengah mencekik leher Nark dengan senyuman yang menghina. "Huh, Raja Iblis. Apa kau yang dipilih oleh penguasa iblis yang sekarang atau yang...dulu?" dia menyeringai.
Dahi Xavier mengerut, dirinya merasa terhina dengan pertanyaan yang tidak langsung menyakiti hatinya. "Memang diriku ini dipilih oleh Yang Mulia Isaac sebelum dia diusir dari dunia para penguasa. Tapi bukan berarti aku lemah."
Tangan Nark mencengkram lengan Carveth hingga darah mengalir dari luka yang diciptakan Nark itu, wajahnya datar dan tersenyum. "Carveth, lama tidak berjumpa. Bagaimana dengan dunia para penguasa sekarang? Kuharap berantakan dan hancur, hahaha." ujar Isaac dengan nada sarkas.
"Isaac... Jadi benar, kau yang mengalahkan pasukan yang diperintahkan langsung oleh Osiris. Tidak mungkin anakku yang mengalahkannya, secara kekuatan, dia itu lemah."
Isaac melangkah menjauh dari Carveth dan berdiri di depan Xavier yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Lemah? Aku memang mengambil alih tubuh anak itu, tapi yang mengakhiri perang itu adalah Nark, dia tidak lemah. Dia hanya belum bisa mengendalikan kekuatannya sepenuhnya."
Isaac menggenggam sebuah bilang pedang yang dibuat dari kekuatannya. Dia tetap mempertahankan senyumannya di wajahnya itu. "Sudah lama kita tidak bertarung, ingin coba bertarung lagi, kawan?" ia tersenyum manis.
Carveth dan Isaac adalah seseorang yang selalu bersama layaknya teman sehidup semati. "Tentu, kenapa tidak?" dia tersenyum dan datang menyerang Isaac dengan sebuah bilang pedang.
Dahulu, sebuah suara benturan antara besi dan besi terdengar mengganggu indra pendengaran. Seorang pria tampan sedang saling bertarung dengan senyuman manis di wajah mereka. Mereka adalah penguasa bangsa vampir dan iblis, mereka bertarung dalam rangka berlatih.
"Kau semakin kuat, kawan." ujar Isaac.
"Kau juga." ujar seorang pria bersurai putih sedikit panjang, Carveth.
Mereka saling membenturkan bilah pedang mereka hingga pedang itu hancur menjadi kepingan kecil dan terbang terbawa arus angin. Mereka saling menatap satu sama lain, lalu tertawa dan terbaring di tanah setelah selesai bertarung.
"Suatu hari nanti, bertarunglah denganku, Carveth. Entah sebagai teman atau musuh, jangan menahan dirimu."
__ADS_1
"Kau juga. Kita buktikan siapa yang terkuat diantara kita." seru Carveth dengan tangan yang terangkat ke atas udara dan mengepal.
"Tentu aku." sahut Isaac. Tangannya terkepal di atas udara, tepat di sebelah tangan Carveth.
Dalam kegelapan malam, mereka saling berbaring di tanah yang hampir rusak karena pertarungan yang hebat antara mereka. "Menurutmu, di masa depan bagaimana nasib kita?" ujar Isaac.
"Entahlah. Di antara kita, Osiris lah yang memimpin."
"Hanya dia yang menentukan nasib kita ke depannya, jika kita berpisah...bagaimana?"
Semua itu terjadi, saat ini. Seorang penguasa bangsa vampir dan seorang penguasa bangsa iblis terdahulu. "Semua menjadi kenyataan, Carveth."
"Ya.. dan kini kita musuh, kita tentukan siapa yang terkuat di antara kita, Isaac." ujar Carveth.
Dalam sinar matahari yang baru saja terbit dan menyinari tubuh mereka, mereka berlari mendekat satu sama lain dan pedang berbenturan. Senyuman di antara mereka bukan lagi senyuman manis antar teman, melainkan senyuman gila antar musuh.
"Bagaimana perasaanmu sejak diusir oleh Osiris, Isaac kawanku?"
Aura kesedihan tersirat di mata Isaac, mata merah yang terlihat kejam dan seram menyiratkan kesedihan. "Sulit diartikan. Pria brengsek si Osiris tanpa alasan yang jelas mengusirku dari dunia penguasa!"
Pedang itu tergerak ke atas udara dan menggores kulit wajah Carveth hingga pria bersurai panjang itu melangkah mundur. Wajah Isaac menggelap. "Untuk apa kau membela Osiris, padahal kau tahu kebenarannya."
+
Xavier tidak bisa berhenti bergetar. Isaac dan Carveth terluka di mana-mana, luka gores itu mengakibatkan darah mereka terus mengalir dan membuat para vampir mutan berdatangan. "Kau yang membuat vampir mutan, brengsek. Tidak ada gunanya mereka diciptakan." seru Isaac.
Mereka saling menjaga punggung mereka dan mengacungkan pedang mereka ke sekumpulan vampir mutan yang mengelilingi mereka. "Isaac, bagaimana jika kita taruhan. Siapa yang paling banyak membunuh vampir mutan, dialah yang terkuat di antara kita."
"Huh, akulah yang akan membunuh semua. Kau cukup diam menonton saja."
Ribuan vampir mutan itu mulai mengerang dan berlarian menyerang dua orang pria yang memegang pedang dan tersenyum dengan menundukkan kepala dan menekuk kakinya sebelum berlari cepat dan mengayunkan senjata mereka ke segala arah membunuh para mutan itu.
__ADS_1
Darah mutan itu menempel di wajah tampan mereka, senyuman gila antar teman itu kembali. Mereka menggila menyerang vampir mutan hingga darah berceceran di mana-mana. "Lihat, aku yang membunuh lebih dari ratusan vampir." ujar Isaac.
"Aku yang membunuh hampir 1000 vampir mutan, jika tidak percaya, kau bisa tanya pada bocah Raja iblis di belakang sana."
Isaac menoleh pada Xavier yang terduduk lemas. Ia mendekat dan berjongkok di depan Xavier, tangannya mengusap kepala Xavier dan tersenyum. "Oh, kau yang kupilih sebagai Raja ya? Jadi katakan, siapa yang membunuh lebih banyak?"
Dengan aura intimidasi, ia tersenyum dengan lebar dan mata yang terpejam. "A-aku tidak tahu..." ujar Xavier.
"Huh, bocah itu tidak tahu. Kau berbohong, Carveth." seru Isaac.
Carveth diam. Mata merahnya melirik tangannya yang mulai retak. Ia bertarung bersama Isaac sampai matahari terbenam. Dia menunjukkan punggungnya dan berjalan, tangannya terangkat dan melambai.
"Sampai jumpa, Isaac. Sudah saatnya aku kembali." ujar Carveth.
Isaac berbalik ke arah yang berlawanan. Dante dan Dion datang berlari ke arahnya. "Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" ujar mereka.
Isaac melihat ke belakang, di mana Carveth sudah tidak ada di sana. Terlihat kesedihan di matanya. "Ethel, dia baik-baik saja kan?" ujar Isaac.
"Xavier, kembalilah. Jaga bangsamu, penguasa akan datang menghancurkan bangsa kita." Ujar Isaac pada anak kecil yang terduduk lemas.
Sebuah angin berhembus menandakan ia telah pergi ke dunia iblis, mata merah Isaac yang menyiratkan kelelahan menatap kembali Dante dan Dion. "Ethel bagaimana?"
"Dia baik-baik saja, Yang Mulia."
Isaac berjalan di lorong dan tiba di pintu besar ruang tidur Ethel, pintu itu terbuka menampakkan seorang gadis cantik yang tengah membaca buku di sofa dengan gaun tidurnya yang tipis.
Isaac datang dan memeluk gadis itu, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ethel. "Bisa aku memelukmu seperti ini sebentar saja?"
"Tentu, Tuan."
Isaac merasa tidak enak di dalam hatinya, berjumpa dengan teman lamanya dan bertarung dengannya kembali sebagai musuh. "Aku bertemu teman lamaku, dan kami bertarung bersama kembali..."
__ADS_1
"Sebagai musuh.."
Bersambung..