
𝟏𝟒. 𝐒𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐤𝐚𝐢𝐬𝐚𝐫𝐚𝐧
_________________________________
Suasana hening dengan kejadian di mana seorang gadis mengingat adik laki-laki nya dan melupakan semua hal yang terjadi dengannya. "Apa kau kenal Nark? Aedion? Dante?" William bertanya.
Gadis itu memasang wajah tidak mengerti. "Siapa yang kau sebutkan? Kau berteman dengan anak bangsawan lain?"
Tubuh anak kecil itu menegang begitu sang kakak memegang pundaknya dengan tatapan yang bingung. Wajah cantiknya tidak menunjukkan dia sakit parah. Sebuah tangan pria merangkul tubuh lemah Ethel dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Mereka orang-orangku, Ethel. Tidak perlu cemas dengan adikmu. Dan dia Dante, seorang dokter di kediamanku." ujar Nark.
Nark melirik Dante yang sedang memerika denyut nadi dan detak jantung gadis itu. "Yang- Maksudku Arsene, sepertinya kita harus bicara mengenai ini." ujar Dante.
Kedua pria itu meninggalkan ruang tidur Ethel dan meninggalkan gadis itu bersama Dion dan William.
Koridor yang sepi dan tidak ada satupun pelayan menjadi tempat mereka bicara. "Kurasa kejadian Nona Galiadne yang lupa ingatan ini disebabkan karena jiwa yang diserap oleh seseorang, Yang Mulia." ujar Dante.
"Jiwa yang diserap mampu menghapus ingatan? Siapa orang itu?" ujar Nark dengan pupil mata yang menyala dan tangan yang mengepal.
Suara keras terdengar begitu mereka berbicara. Nark terkejut dengan kaki yang berlari ke arah ruang tidur gadis pujaannya. Semua luluh lantak dengan dinding yang hancur.
Dinding itu hancur dengan seorang misterius yang memakai jubah hitam untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia menghadang pedang Dion dengan sihirnya. Aura tekanan yang diciptakan darinya membuat Nark cukup berkeringat.
"Apa kau Nark? Raja Vampir abad ini?" Seringaian tercipta di wajahnya yang tertutupi itu.
"Datanglah ke tempat yang ada di surat itu. Jika tidak, kau akan merasakan apa yang dilakukan oleh pemimpin kami dulu." Ia melemparkan sepucuk surat pada Nark, lalu menghilang tanpa merasa bersalah.
Nark menarik tubuh gadis itu dan memeluknya, mengusap air matanya dan memberinya sebuah kecupan di dahi dan matanya yang sembab karena air mata. "Tidak apa, aku di sini untuk melindungimu. Tak ada yang berani menyentuhmu lagi, aku janji." bisiknya.
Tangannya yang berada di punggung gadis itu mengeluarkan sebuah cahaya merah dan menghilang. "Dante, urus William. Dion, urus kerusakan ini. Mulai saat ini, Ethel tidur di ruanganku sampai kamarnya selesai."
Tubuh itu dibawa oleh Nark ke ruang tidurnya, ruangan yang gelap dan hening, luas dan begitu besar untuk seorang diri. "Untuk sementara kau tidur di sini bersamaku sampai kamarmu selesai diperbaiki."
Pupil merah nya melihat tubuh gadis itu yang bergetar ketakutan dan memandang dengan tatapan kosong. "Ethel?"
"Aku... takut." gumam Ethel.
__ADS_1
Seluruh istana digemparkan oleh sang Raja yang dalam keadaan amarah besar karena seorang gadis pujaannya yang terluka karena rakyatnya.
"Y-yang Mulia, sudah saatnya makan malam." seorang pelayan datang ke ruang tidurnya dengan ketakutan yang menbuatnya tidak berani mengangkat kepalanya.
Tekanan di dalam ruang tidur sang Raja sangatlah kuat sehingga mereka yang masuk tidak akan bisa berbuat seenaknya.
"Kalian makan saja. Aku tidak lapar." suara dingin dan kejam itu terdengar seperti ratusan tahun lalu saat mereka belum menjajah bangsa manusia.
Kain perban yang melilit leher kecil gadis cantik yang terbaring. Pupil merahnya melihat gadis itu dari kepala hingga kaki, semua terluka.
Lengan dan kaki di perban dengan mata kiri yang diberi perban. "Brengsek. Akan kubunuh semua..." gumamnya dengan tangan yang terkepal.
Pintu terketuk. Seorang anak kecil datang dengan membawa lilin di sebuah wadah. Kepalanya yang diperban itu mendongak menatap wajah Nark.
"B-bolehkah aku tidur di sini, Yang Mulia?" Dengan wahh penuh ketakutan ia berbicara.
Berani sekali bocah ini meminta. Pikir Nark. Tangannya mengangkat tubuh kecil adik laki-laki dari gadis yang dicintainya.
"Tentu, kau pasti cemas dengan kakakmu. Untuk kali ini, aku mengizinkanmu untuk tidur di samping kakakmu."
Anak itu membaringkan tubuhnya di tengah, membuat batas antara Ethel dan Nark.
"Dia akan sembuh." ujar Nark.
Pria itu berdiri menghadap ke luar jendela. Menatap bulan yang hendak menghilang ditelan kabut. "Aku janji dia akan sembuh." ujarnya.
+
Kabut menelan suasana cerah di pagi hari. Kabut yang tebal membuat beberapa orang terhalang penglihatan nya.
Sesuatu muncul di balik kabut itu, seseorang yang tinggi dengan jubah hitam yang menutupi wajah dan tubuhnya. "Nark, kenapa kau tidak datang?" ujarnya bertanya dengan nada sedikit kesal.
Pria itu mendekatinya, dengan sebuah wajah yang sedikit terlihat karena jubah itu terbawa arus angin. "Apa sekarang kau berkhianat pada kakakmu, Adikku sayang?"
Seorang pria yang bersurai hitam dan mata merah, wajah yang cantik. "Kau... yang melukai gadis manusia itu?" gumam Nark.
Sang kakak mengusap rambutnya ke belakang dengan seringai. "Kenapa? Kau marah?" ujarnya.
__ADS_1
Pria itu mendekat dengan tangan yang mengusap lembut kepala Nark dengan tangan yang satunya yang mendekapnya. "Adik kami sudah besar dan jalan sendiri. Dulu kau begitu polos dan harus ditemani." ujarnya.
Taring itu menancap di leher Nark dengan seruan kesakitan Nark yang meraung-raung minta dilepaskan. "Kau.. apa yang kau lakukan, Niell?" Air mata jatuh dari matanya.
Niell melangkah mundur dengan sebuah seringaian, jemarinya dijentikkan dengan sebuah rasa pening yang menyerang kepala Nark. "Tetaplah patuh padaku, Adik kecilku."
Tatapannya menjadi kosong begitu, lututnya menopang tubuhnya dengan air mata yang jatuh mengalir. "Ae..dion..." ujarnya.
"Kau masih lemah untuk menjadi Raja, Adikku."
Surainya ditarik kasar agar mata kosong itu menatap wajah cantiknya. "Kau hanya wadah, kau dipilih menjadi Raja itu karena kau wadah Isaac."
Sebuah serangan membuat Niell melangkah mundur, Dion datang dengan sebuah pedang dan tangan yang menarik Nark agar berada di belakangnya. "Anda kakak laki-laki Yang Mulia Raja, tentu saya menghormati Anda. Tapi karena tindakan Anda sudah termasuk pengkhianatan, maka saya tidak memiliki pilihan lain selain mengeksekusi Anda di sini."
Pedang itu bersinar begitu dikibaskan. Niell tersenyum melihat tindakan Dion yang gegabah. "Pengkhianat? Lihatlah dirimu sendiri, Constantine."
Dahi Dion mengerut dengan kesal, dia berlari menebaskan bilah besi itu ke arah yang sebaliknya. Niell mundur dengan seringaian di wajahnya. "Nark, kau adikku bukankah kau seharusnya melindungiku?" ujarnya.
Pupil mata Dion melebar begitu melihat Rajanya melindungi kakak laki-lakinya. "Y-yang Mulia?"
Pupil merah milik Nark kosong, tubuhnya bergerak diluar kendalinya. "Niell, hal brengsek apa yang kau lakukan?" Seru Dion.
"Ini kali pertamaku mendengar kau berkata kasar, Constantine." Kekeh Niell.
Kabut tebal ini menghalangi Dion bertarung, semua serangannya meleset mengenai Niell karena kabut. Wajahnya terkena sayatan bilah besi dari Nark. "Niell, kau orang terkutuk." ujar Dion.
"Kudengar kau kuat, cobalah untuk mengalahkan adikku yang lemah itu." Ujar Niell.
Pria dengan wajah cantik itu berdiri di belakang Nark dengan tangan yang mendekapnya dan berbisik. "Bunuh Constantine untuk kakakmu ini, Nark." bisik Niell.
Nark menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah Dion tanpa mata yang menyiratkan kehidupan.
Suara derap langkah kaki yang cepat terdengar, suara napas yang terputus dan juga darah yang harum menggoda para vampir untuk melihatnya.
Ethel berlari dan memeluk Nark yang hendak mengayunkan pedang itu. "Nona Galiadne!" Seru Dion.
"Arsene.." bisik Ethel pada telinga Nark.
__ADS_1
"Kembalilah... kau sudah berjanji padaku." ujar Ethel.
Bersambung..