
𝟏𝟖. [𝐁𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧] 𝐃𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐆𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚
_________________________________
"Pasti menyedihkan." Ethel bergumam.
Manik mata birunya melirik darah yang ada di lengan dan wajahnya. Ia menyentuh wajahnya yang ditenggelamkan pada pundaknya yang kecil. Wajah kosong miliknya masih menunjukkan kepedulian pada seorang monster yang telah membantai keluarganya.
"Kau terluka. Itu pasti sakit, apalagi dari seseorang yang dahulunya dekat denganmu." Dia bangkit membuat raut bingung tercipta di wajah Isaac.
Ethel mengulurkan tangan nya membawanya ke ruang mandi. "Duduklah." ujarnya menekan pundak Isaac dan pergi mengambil sebuah wadah berisikan air dan sebuah handuk putih.
Gadis yang hanya terlihat polos dan tidak tahu apa-apa itu membasuh luka darah darah Isaac dengan lembut dan pelan. "Kau sedang...apa?"
"Tentu saja membersihkan darah mu."
Wajah cantiknya itu menunduk, mata indahnya memusatkan pandangannya pada luka tebasan di lengan dan perut Isaac. "Sakit?" dia bertanya.
Pria itu hanya diam merasakan betapa lembut nya Ethel membersihkan darah di lukanya. Rasa sakit dan nyeri tertutupi oleh detak jantung yang berdetak lebih cepat dan keras dari biasanya. "Sudah, sudah bersih, Ethel. Kau bisa berdiri." ujar Isaac.
Wajahnya memerah melihat betapa cantiknya gadis pujaannya, gadis yang hanya ingin dijadikan sebagai budak darahnya. Dan kini pria itu menaruh hati pada gadis manusia.
Isaac berdiri dan mendekat pada Ethel dengan sebuah senyuman. Dia menaruh kedua tangannya di pinggang Ethel dan menariknya mendekat. Wajahnya memerah dengan mata yang sayu menatap wajah cantik gadis manusia itu.
"Yang Mulia?" Pupil mata Isaac melebar, dalam sekejap sebuah benda tak bertulang tengah melumatkan bibir gadis itu.
Tangan besar pria itu menahan kepala belakang Ethel dan meremas lembut surai itu. Ciuman lembut itu berlangsung sedikit lama sehingga tangan kecil Ethel meremas pakaian Isaac menandakan dia kehabisan udara.
"Isaac.." gumam Ethel. Isaac tersadar dan menarik jauh dirinya. Mereka mengambil napas dengan rakusnya.
"Kau tahu namaku?" ujarnya tidak percaya.
__ADS_1
Wajah Ethel memerah matanya sedikit sayu saat ia mengambil napas dengan rakus. Dadanya seolah nyeri saat berciuman dengan pria di depannya. "Apa?" gumamnya tidak jelas.
Isaac merasakan tubuhnya terasa dibakar oleh api, ia maju mendekati Ethel dan meraih kepala gadis itu dengan lembut. Dan menciumnya dengan tangan yang memeluknya dengan erat.
Ethel hanya bisa pasrah dengan tubuh yang dibawa ke ruang tidurnya dan di dudukkan di pangkuan Isaac dengan bibir pria itu yang masih **********. "Kenapa kau tidak membalas ciumanku?" bisiknya.
Napas hangat menerpa wajah Ethel. Dadanya terasa sesak dengan pasokan udara yang berkurang. "Aku tidak tahu caranya." gumamnya diselingi suara napas.
Isaac tersenyum dengan tangan yang mengusap surai coklat Ethel dengan lembut. "Jika kau membalas ciumanku yang ini, aku berjanji akan menyudahinya."
Ciuman itu berlanjut dengan Ethel yang membalas ciumannya. Remasan kuat merusakan tataan rapi pada pakaian Isaac. Ciuman itu berlangsung lama dengan sebuah benda tak bertulang masuk ke dalam rongga mulut gadis itu dan bergerak leluasa di dalamnya.
"Isaac. Aku tidak bisa bernapas.." gumamnya.
Namun, pria adalah pria. Jika pria sudah dikendalikan oleh hasrat, maka indra pendengar pun tidak berfungsi dengan baik. "Isaac!"
Sebuah pukulan kecil memukul pundak Isaac berkali-kali dengan suara gadis yang memanggil namanya terus menerus. Akal sehatnya dikalahkan oleh hasrat dan panas di tubuhnya.
"Maaf, aku hilang kendali." bisik Isaac menempatkan kepalanya pada dada Ethel dan memejamkan matanya mencoba mengendalikan keinginannya yang tengah memuncak.
"Itu tadi... hampir membuatku tidak sadarkan diri." ujar Ethel pelan.
+
Suara burung dan ketukan pintu terdengar di telinga Ethel, gadis itu bangun dan merasakan sebuah benda berat yang melingkar di perutnya. Ia menoleh ke sampingnya, tangan Nark melingkar perutnya dan tertidur.
Ia menyingkirkan tangan itu dan pria itu pun bangun dengan pupil mata yang melebar. Sepertinya ia terkejut. "Kenapa?" suara serak seperti khas orang bangun tidur membuatnya terdengar bertambah berat.
"Sudah pagi. Pelayan mengetuk pintuku." ujar Ethel mencoba bangkit namun tangan besar itu menahannya agar tidak pergi dari ranjang itu.
Nark berdiri dan membuka pintu dengan wajah kesal dan menatap tajam pelayan dan seorang dokter yang berdiri di belakang pelayan itu. "Berani sekali kalian mengganggu waktu tidurku dengan Ethel?" geram Nark.
__ADS_1
Pelayan dan Dante saling bertukar tatapan. Lalu tersenyum manis. "Mohon maaf, Yang Mulia. Tapi sudah saatnya Nona Galiadne bangun, hari sudah siang." ujar pelayan itu sembari membungkukkan tubuhnya.
"Lagipula ini sudah waktunya pemeriksaan." sahut Dante.
Mereka berdua masuk dan melihat seorang gadis yang duduk di tepi ranjang dengan sebuah bercak merah terdapat dileher gadis itu.
Pelayan dan Dante melihatnya, lalu melirik seorang pria yang sudah pasti pelaku dari bercak merah itu. "Apa? Lanjutkan saja tugas kalian." Titah Nark dengan semburat merah.
Seorang pelayan menggiring gadis itu ke ruang mandi dan membersihkan gadis itu serta memakaikannya gaun. Dante mempersiapkan peralatan untuk memeriksa gadis manusia itu. "Kurasa anda sudah melakukan hal panas kemarin malam seusai bertarung dengan teman lama anda, Yang Mulia."
"Malam yang panas? Kami hanya ciuman, panas apanya." Nark berujar dengan nada sarkas. Nark duduk di kursi dengan kaki kanan yang menumpu di atas kaki kirinya.
Gadis itu melangkah masuk ke ruang tidur nya dan duduk di ranjang begitu pintu ruang mandi terbuka. Wajah cantiknya sangat cocok di dandani apapun. "Dia sudah ingat. Menurutmu apa yang membuatnya lupa ingatan?" ujar Nark.
Dante nampak kikuk menyentuh Ethel dengan wajahnya yang cantik itu. "Entahlah, kejadian ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Entah Nona Galiadne adalah seorang manusia dan terkena sebuah sihir atau tidak, saya tidak tahu."
Pemeriksaan Dante ditemani oleh pelayan dan Nark, pupil Nark tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Ethel. Sekilas ingatan kemarin malam memenuhi pikirannya. "Sudah, Yang Mulia. Waktunya makan siang." ujar Dante.
Nark bangkit dan mendekat. "Kalian duluan saja, ada hal yang harus kuurus sebelum ke meja makan." titah Nark.
Dante dan pelayan itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Nark. Pintu ruangan tertutup, segera Nark meraih tengkuk Ethel dan mencium bibir itu dengan agresif. Tubuh Ethel terjatuh ke ranjang dengan Nark di atas tubuhnya.
"Nark!" ujar Ethel di sela-sela ciuman agresif itu.
Ciuman itu semakin panas dengan Nark yang memasukkan benda tak bertulang ke dalam rongga mulut gadis itu. Suara yang sedikit terdengar mesum itu mulai mengeras dengan air liur yang mengalir keluar dari sela-sela.
"Maaf, maaf..kau sangat cantik." bisik Nark dengan bibir yang menyentuh leher Ethel.
Wajah mereka memerah dengan napas hangat yang saling menerpa wajah mereka. Ciuman itu turun ke leher Ethel. Gadis itu merasakan lehernya basah perlahan. "Ethel, mari lanjutkan ini-"
Ketukan pintu terdengar dengan suara anak kecil yang terdengar keras. "Kakak, ayo makan!" seru William.
__ADS_1
Bersambung...