
Dante merasakan sebuah kekuatan besar akan datang dan menghancurkan dunia ini, sinar aneh tadi memunculkan sebuah batu meteor dari langit dan mulai menyerang secara acak. "Nona, mari cari tempat berlindung!" ujar Dante.
Gadis itu menoleh mencari keberadaan Isaac yang berlumuran darah. "Yang Mulia Raja pasti akan baik-baik saja, beliau adalah orang yang kuat."
Meteor itu terus jatuh dan menimpa beberapa vampir dan bangsa bersayap putih, meteor yang mampu membunuh siapapun. "Constantine, pergilah dan lindungi Ethel sampai aku datang." ujar Isaac.
Pria berambut ikal itu enggan bergerak menjauh dari Isaac sedikitpun, ia hanya diam di samping tubuh Isaac yang sedang mengatur pernapasannya yang sedikit terganggu. "Dante sudah cukup untuk melindunginya, Yang Mulia."
Komandan yang memimpin itu memiliki kekuatan penyembuh di mana luka-luka yang dihasilkan Isaac mulai menutup. "Sepertinya si brengsek ini mendapatkan kekuatan dari bajingan Osiris." ujar Isaac dengan nada amarah.
Pria itu dengan tiba-tiba berada di samping Isaac dan menyerangnya hingga tubuh Isaac terpental jauh dan Constantine hanya diam terpaku. "Berhentilah melawan, iblis."
Isaac terjatuh dengan manik matanya yang memutih menandakan ia tak sadarkan diri. "Kemana sikap aroganmu tadi yang mengatakan bahwa perang ini adalah kematian pasukan bangsa bersayap putih."
"Gadis manusia yang bersama mu itu, seharusnya tidak berada di dunia yang kejam ini."
Pria itu menghampiri gadis yang berlari mencari tempat perlindungan, ialah yang dicari oleh para petinggi ketiga bangsa.
Sebuah tombak merah turun dari langit menusuk langsung tubuh pria yang hendak berjalan ke tempat di mana Ethel berada. "Jangan berani kau melangkahkan kakimu ke tempat gadis itu, brengsek."
Tombak itu langsung hancur begitu pria bersayap putih itu menyentuhnya. "Kau salah paham, aku hanya akan menempatkan gadis manusia itu ke tempat di mana ia berada. Bukan di sini. Aku tidak mungkin membunuh manusia, itu tidak diperintahkan."
Angin berhembus kencang disertai aura merah yang bercampur menjadi satu dan mencabik-cabik tubuhnya secara perlahan. "Berhenti berdalih. Kau mendekati gadis itu, maka aku akan membuatmu menderita daripada kematian yang mendatangimu."
Pria itu menggenggam pedang yang terbuat dari kekuatannya, pedang yang disinari oleh cahaya putih. "Kau kuat. Tapi tak sekuat yang kuduga."
"Kukira Isaac yang hampir memusnahkan bangsa vampir sendirian itu lebih kuat dari dugaanku."
Isaac tak sadarkan diri. Ia menggunakan kekuatannya dengan pikiran yang tak sadar, itu hanya akan membuat dampak buruk terjadi pada tubuhnya.
Kekuatannya semakin membesar seiring berjalannya waktu, sebuah sulur merah muncul keluar dari tanah dan mengikat tubuh Isaac. Selagi adanya sulur yang mengikat erat tubuh Isaac, kekuatannya tidak terbatas dan akan terus menyerang pria bersayap putih itu.
__ADS_1
"Kau menggunakan kekuatan ketika tak sadarkan diri, patut kuberi pujian. Tapi tetap saja akan berdampak buruk pada tubuhmu."
Cahaya merah muncul dari langit dan sesuatu tak terduga muncul di permukaan tanah. "Kau membuat kloning-ku?"
"Aku penasaran bagaimana rasanya melawan diri sendiri, jadi kuciptakan kloningan dirimu untuk melawanmu."
"Fisik, penampilan, kekuatan, sama persis denganmu." ujar Isaac.
*
Gadis itu duduk bersandar di batu dengan tubuh adiknya yang tertidur di dalam dekapannya, ia menatap langit yang mengeluarkan sinar aneh terus menerus. Cahaya putih dan merah yang saling bertubrukan membuat angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya.
Mereka berlindungi di sebuah gua di mana tak ada siapapun yang berada di sekitarnya, kecuali Dante yang sedari tadi terus-menerus mengerahkan kekuatan untuk membuat pelindung.
"Sepertinya kita akan menetap di sini sampai Yang Mulia datang menyelamatkan kita, keadaan di medan perang semakin berbahaya."
Dion berusaha menggerakan tubuhnya yang tak bisa digerakkan begitu pria bersayap putih itu melewati tubuhnya begitu saja. "Di wilayahku, semua tak bisa bergerak kecuali aku yang memerintahkannya." ujar pria itu.
"Sampaikan pada petinggimu, kau tidak akan bisa membunuh Isaac." Seru Isaac.
Pria itu melangkah mundur, sulur merah itu mengikat tubuhnya yang terluka akibat serangan beruntun milik musuhnya. "Bisakah kau menyerah saja? Aku hanya datang karena diperintahkan."
"Menyerah sama saja dengan mati."
Seringaian tercipta di wajah pria bersayap putih itu. "Patut diberi pujian, seorang iblis tak kenal menyerah." ia terkekeh dengan sebuah sulur yang membawa tubuh seorang gadis yang merontak-ronta untuk dilepaskan.
"Tapi kurasa gadis ini adalah kunci untuk kau menyerah." ujarnya.
Sulur itu menghilang bersamaan dengan Ethel yang menjaga jarak. "Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu." ujarnya.
"Tapi bisakah kau meminjamkanku tubuhmu sebentar sampai iblis itu mati?" Pria itu menyalurkan sebuah tenaga ke dalam tubuh Ethel yang perlahan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Manik biru Ethel berubah menjadi biru di mana biru itu lebih muda daripada miliknya yang seperti biru langit pada malam hari. "Mari lanjutkan."
Gadis itu melesat maju mendekati sulur merah yang mengikat tubuh Isaac dan menyerangnya secara bersamaan. "Aku tidak tertarik melawan seseorang yang tak sadarkan diri."
"Jadi bangunkan dirimu jika tidak mau gadis ini pergi dari sisimu, iblis." Seru pria itu.
Gadis itu terus menebas sulur itu hingga tubuh Isaac terjatuh ke tanah dengan lemah. "Bangunlah..." lirih Ethel meneteskan cairan pada wajah Isaac yang tak sadarkan diri.
"Bangun, Nark."
Manik mata merahnya kembali, melihat gadis di sampingnya dengan sesuatu yang berbeda. Ia tersenyum dan menyentuh wajah cantik gadisnya. Namun, sesuatu yang tajam menusuknya. "Ethel?" lirih Nark.
Darah mengalir dari mulutnya, ia mencoba untuk bangkit dan menjauh dari Ethel yang sedang dikendalikan. "Kau mengendalikannya?" gumam Nark tidak percaya.
"Maaf, hanya ini jalan satu-satunya membuatmu putus asa." ujar pria itu.
"Jika tidak mau gadis itu pergi, maka lawanlah. Lawan sampai titik darah penghabisanmu, iblis."
Berbanding balik dengan ucapan pria itu, Nark terus menghindari tebasan Ethel yang terus menuju padanya. Bagaimana bisa ia melawan seseorang yang begitu ia cintai? Pikirnya. "Berhentilah, Ethel."
"Berhenti? Aku tidak akan berhenti sampai kau melawanku, itu yang dikatakan oleh tuan."
Sebuah aura merah mengumpul di tangan Nark membentuk sebuah senjata untuk melawan gadis itu, darah mengalir dari matanya. Bukan darah karena terluka, melainkan air mata darah karena melawan ketakutan terbesar dalam dirinya.
Melawan seseorang yang ia cintai. "Baiklah, mari mati bersama." ujar Nark.
Kekuatan yang berbanding terbalik menciptakan asap yang tebal menghalangi pertarungan antar seseorang yang saling mencintai. Pedang yang menusuk kedua tubuh yang perlahan meretak.
"Sesuai janjimu Isaac, titik darah penghabisan. Dialah yang bertahan sampai akhir adalah yang menang."
Bersambung...
__ADS_1