
Suasana ruang tidur seorang gadis dipenuhi aura duka dan isak tangis seorang anak laki-laki. William menangis dengan tubuh yang memeluk tubuh sang kakak.
Getaran aneh berasal dari tubuh sang kakak. Dante merasakan aura asing keluar dari tubuh Ethel yang tak sadarkan diri.
"William, menjauhlah. Sesuatu aneh terjadi pada Nona Ethel." ujar Dante.
William ditarik dan bersembunyi di balik punggung Dante yang bersikap waspada. Sebuah serangan kuat menyerang Dante hingga pria itu terpental ke dinding lorong. William menoleh dengan raut wajah terkejut.
"Kakak?" dia bergumam.
Manik mata itu berubah menjadi abu-abu seolah dikendalikan, portal terbuka Nark dan Dion muncul dari Portal itu dengan membawa jiwa Ethel yang tidak sadarkan diri. "Ada apa ini?" Nark bertanya.
Kamar Ethel sedikit berantakan dengan pintu yang rusak. Nark beralih menatap gadis pujaannya yang sudah sadarkan diri dengan mata yang berbeda. "Dante." Panggil Nark.
Pria merupakan dokter bangsa vampir itu datang tanpa terluka sekalipun terpental karena serangan yang Ethel luncurkan kepadanya. "Ya, Yang Mulia?"
Pupil mata Nark bersinar tajam, dengan tangan yang masih menggendong jiwa Ethel. "Apa yang terjadi di sini? Kenapa Ethel bisa sadarkan diri dengan tubuh tanpa jiwa itu?" Nada ucapannya penuh dengan penekanan.
"Saya pun tidak mengetahuinya, Yang Mulia."
Gadis itu berniat menyerang Nark dengan serangan yang sudah disiapkan olehnya, namun sebuah pelindung mematahkan serangan itu. Nark hanya menatapnya tajam dengan pupil matanya yang bersinar. "Siapa kau?"
Jiwa itu melayang dengan aura merah menyelimutinya, jiwa itu perlahan terbang mendekatinya. Getaran aneh membuat tanah berguncang hebat, pupil mata Nark menyala.
"Berani kau menyentuh nya, Tuanmu akan kumusnahkan dari peradaban dunia."
Tangan besar itu menggapai tubuh Ethel yang tengah dikendalikan namun rasa terbakar dan menyengat tangannya terasa sakit.
Namun ia tersenyum, kedua tangan itu terangkat di atas udara dan mendekap Ethel dengan erat. Membisikkan sesuatu yang membuat kendali itu sedikit melonggar.
Dengan kesempatan itu, Nark menyentuh perut Ethel dan mengeluarkan sedikit aura miliknya agar kendali itu sepenuhnya terlepas.
Jiwa Ethel perlahan terjatuh di ranjang milik gadis itu. Ethel tak sadarkan diri begitu Jiwa itu menghilang.
"Dante?" Nark memanggil Dante dengan nada yang bergetar.
"Itu hal biasa, Yang Mulia. Dia akan sadar sebentar lagi."
+
Matahari berganti bulan yang terang. Menyinari ruangan dari sela-sela jendela yang tak tertutup tirai.
__ADS_1
Dia tetap di ruang tidur Ethel, tangannya yang hangat tidak berhenti mengusap wajah dan kepala gadis itu. Sesekali mengusap mata Ethel yang begitu lembut.
"Kapan kau bangun?" Nark bergumam.
Mata merahnya menatap bulan yang indah ditemani oleh beberapa bintang di langit malam. Ia mengingat malam di mana mereka ke dunia manusia dan saat itulah mereka bertemu dengan Ethel.
"Sang Bintang Kekaisaran..." dia bergumam.
Wajahnya sedikit tenang dengan senyuman yang terukir. Dia masih ingat betapa bencinya gadis manusia itu padanya menjadi rasa suka kepadanya.
Gerakan tangan terasa di kulit Nark. Kepala itu beralih pada gadis yang perlahan membuka kelopak mata dan memperlihatkan mata berwarna biru seperti langit di malam hari.
"Kau sudah bangun, syukurlah." dia menggenggam tangan Ethel di dahinya dan memejamkan mata.
Perlahan tubuh gadis itu bangkit untuk bersandar di punggung ranjang. "Anda siapa, Tuan?"
Perasaan sesak, sakit, amarah dan juga tida percaya bercampur menjadi satu dan menyelimuti hatinya.
Tangannya berniat mengusap wajah Ethel, namun gadis itu menepis uluran tangannya secara lembut. "Maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi tindakan Anda sungguh tidak sesuai dengan etika bangsawan."
"Ethel?" Nark bergumam tak percaya dengan setetes air mata yang terjatuh di mata kirinya.
Mata biru itu menatapnya kosong. "Ethel? Apa itu namaku?"
Bagai ditembak ribuan anak panah, jantung Nark sejenak berhenti dan berdetak dengan cepat. Mendengar gadis pujaannya menyebutkan nama pria lain di depannya.
"A-Arsene... siapa?"
Gadis itu tersenyum manis dengan mata yang terpejam. "Arsene kan tunanganku. Kita bertunangan sudah sejak kecil." Dia tertawa di akhir kalimatnya.
"Tunangan?" Nark terus bergumam dengan tangan yang terkepal di atas ranjang.
Dia marah. Matanya di penuhi oleh amarah yang besar hingga matanya memerah. "Ethel—"
"Jika kau bukan Arsene, lalu kau... siapa?" Ethel menyela dengan tatapan kosong.
Dia menangis. Kepala nya terangkat dan sebuah senyuman terukir, wajah penuh kesedihan. "Ya... Aku Arsene..." ujarnya.
Ethel merasakan aura aneh dari pria itu. Namun ia tersenyum begitu pria itu adalah tunangan nya. "Kukira aku diculik, Arsene."
Tubuhnya menegang dikala gadis itu memeluknya secara tiba-tiba. "Ethel?"
__ADS_1
Ethel membuka matanya. Air mata jatuh ke pundak Nark dan membasahi pakaiannya. "Aku mimpi, keluargaku di bantai dan aku hidup di dunia yang berbeda, Arsene."
"Itu mengerikan. Mereka makhluk kejam dan seram. Aku tidak mau hidup bersama mereka." Ethel melirih.
Nark seolah mengerti yang dialami oleh Ethel, dahulu, Isaac datang membantai siapapun yang dilihatnya. Saat itu, dunia vampir hampir musnah.
"Ya, mereka mengerikan. Jadi, jangan jauh-jauh dariku."
Dekapan itu semakin mengerat. Ethel menenggelamkan wajahnya pada dada milik Nark. "Tentu."
+
Suasana pagi hari di mana ruang tidur Ethel dikunjungi oleh Dante, William, dan Dion. mereka melihat seorang gadis yang tengah memeluk tubuh seorang pria paling berpengaruh di dunia vampir.
"Yang Mu—" Nark menaruh telunjuknga di bibirnya dan menatap tajam semua orang yang berdiri di samping ranjang.
Ia perlahan bangun dengan tangan Ethel yang terus memeluknya. "Dia lupa ingatan." ujar Nark.
"Maaf, Yang Mulia? Lupa ingatan?" Dante berujar tidak percaya.
William bersiap menangis. Namun sekuat tenaga ia menundukkan kepala dan menahan tangisannya itu. "William, kau tahu siapa Arsene?"
Dia sontak mengangkat kepalanya, air mata menggenang di matanya. "Y-ya. Arsene De Belvedre adalah tunangan Ethel. Dia seorang Duke muda yang mengikuti perang bersama Duke Belvedre."
"Namun, dia tewas karena peperangan. Dan itu membuat Ethel berubah menjadi diam."
Nark terdiam. Arsene adalah seorang pria yang berharga di hidup Ethel. "Selama ingatannya belum kembali, aku dianggap Arsene oleh nya. Panggil aku Arsene ketika di depannya."
"Kita akan memulihkan ingatannya perlahan dan memenangkan perang dengan penguasa tiga bangsa."
Dia mengusap lembut kepala Ethel yang perlahan mengerutkan dahi sebelum membuka matanya. "Arsene..."
Semua terkejut. Nark hanya tersenyum dengan mata terpejam. "Pagi, Ethel."
"Eh.. Siapa mereka?" ujar Ethel.
"William De Galiadne. Kenapa kau bersama dengan orang asing, kemarilah." Seru Ethel dengan menuntut.
Seseorang dalam ruangan menggertakkan deretan giginya. Melihat seorang gadis yang ia impikan telah kehilangan ingatannya.
"Kakak ingat aku?"
__ADS_1
"Huh? Tentu saja. Kau adikku, William De Galiadne. Kenapa aku harus melupakan adikku?"
Bersambung..