THE VAMPIRE ; Nark De Melchias

THE VAMPIRE ; Nark De Melchias
XII. The fate of Death


__ADS_3

Pria vampir itu kehilangan keseimbangan begitu hendak bangkit, luka di dadanya tidak menutup akibat serangan dari gadis yang ia cintainya.


Didekap dengan erat gadis yang tidak sadarkan diri itu dalam dekapannya. Mata yang mengeluarkan darah menciptakan kekuatan yang luar biasa kuat.


"Titik darah penghabisan akan dimulai saat ini, brengsek." Nark mengambil alih sepenuhnya dalam kendali di tubuhnya, Isaac tak sadarkan diri sejak menggunakan kekuatannya.


Suara yang besar hingga membuat darah mengalir keluar dari indra pendengaran, getaran asing yang merusak tanah dan sebuah angin yang berputar yang mencabik-cabiknya.


"Jika benar bahwa saat ini adalah takdir kematianku, maka aku biarkan aku membunuhmu."


Seekor naga merah melintasi langit yang menggelap karena kekuatan yang dikerahkan oleh Nark. Petir saling menyambar satu sama lain menghiasi langit yang menghitam membuat suasana menjadi gelap.


Naga yang menyerang langsung pria bersayap putih itu dengan taring yang ia tunjukkan, sekali serangannya membuat ledakan besar ditempat.


Sebuah lubang yang besar dan dalam dengan tubuh pria pemimpin pasukan bersayap putih yang sudah tidak memiliki tenaga.


"Bisa-bisanya aku kalah oleh bangsa setan seperti kalian,"


"Mau ditaruh di mana wajahku, aku sangat malu bahkan untuk menghadap kepada-Nya."


Darah keluar dari luka akibat serangan naga itu, seekor naga yang tercipta dari kekuatan Nark. Serangan utama yang ia miliki.


"Kau tidak akan menghadap pada petinggimu, karena kau sudah mati di sini. Di tanganku saat ini." ujar Nark.


+


Dante berkeringat mencoba menyembuhkan luka yang ada ditubuh Ethel, tubuhnya mulai membusuk akibat tenaga pria itu dan serangan yang diciptakan Nark pada saat-saat terakhir kesadaran Isaac memudar.


"Aku tidak bisa menyembuhkannya. Jiwanya sudah tidak di dalam tubuhnya." ujar Dante.


William yang mendekap tubuh kakaknya menangis dengan kencang sehingga pakaian putih itu basah akan air matanya.


Seolah disambar petir, jantung Nark berhenti berdetak sejenak.


Butir keringat jatuh dari keningnya, manusia seperti gadis yang terbaring lemah adalah tindakan ceroboh membawanya ke dunianya yang seharusnya gadis itu tewas di tangannya pada saat ia membantai dunia manusia.


Aura keputusasaan menghampiri Nark dan menyelimuti tubuh pria itu. Constantine hanya diam menatapi tubuh Ethel yang mulai membusuk dan mengeluarkan sedikit aura berwarna seperti makhluk dari ketiga bangsa. Aneh. Pikir nya.


"Sepertinya jiwanya masih berada di dunia, bukan di alam para Roh dan Jiwa makhluk hidup yang sudah mati berada." Constantine berceletuk.


Sebuah portal dibuka oleh constantine yang bersiap untuk mencari jiwa yang seharusnya masih di dunia, tempat di mana makhluk hidup yang memiliki nyawa itu berada.

__ADS_1


"Jika anda ingin menangisi dan membiarkan jiwanya memudar tak apa, Yang Mulia." Ujarnya.


Portal itu menuju langsung ke tempat di mana suasana sejuk dan hening menyingsing, tempat seorang gadis dengan darah keturunan dewa berada.


Rerumputan hijau menari-nari mengikuti irama angin yang berhembus. Hening tanpa ada satu suara bising dan tak ada tanda-tanda penghuni.


"Apa kau yakin Ethel ada di sini, Aedion?" ujar Nark.


Dion menatap ke sebuah gua, manik mata merahnya menyala. "Sepertinya gadis itu tidak jauh dari sini, Yang Mulia."


Sebuah getaran mengguncang tubuh mereka, suara geraman makhluk liar menggema. Sinyal panggilan yang diserukan terdengar sahutan yang segera datang memberi bala bantuan.


"Seekor monster." ujar Nark.


Sekumpulan monster mengerikan mengelilingi nya, Dion dan Nark saling memunggungi dan tersenyum lebar seolah menikmati suasana menegangkan ini.


"Kita berlomba, siapa yang akan menghabisi monster ini lebih banyak dia yang menang." ujar Nark.


"Boleh saja, Yang Mulia." Sahut Dion.


Mereka bergerak cepat mencakar, menebas, mengerahkan kekuatan mereka hingga monster itu tewas dengan darah yang menggenang mengotori rerumputan.


Dion berjalan ke arah gua di mana suara geraman itu terdengar. Seekor monster kecil duduk dengan melipat kedua kakinya silang.


Di depannya, jiwa gadis yang mereka cari tengah di ikat dengan mulut yang tersegel. "Hei, monster brengsek. Apa yang kau lakukan padanya?" geramnya.


Monster yang terlihat lebih kecil daripada yang mereka bunuh sebelumnya. "Dia lebih kuat dari yang tadi." ujar Nark menyerang monster itu yang telah berada di belakang Dion dengan cepat.


"Sepertinya kau yang terkuat di antara mereka." Nark tersenyum miring.


+


Seorang bangsawan vampir kelelahan melawan seekor monster kecil yang memiliki kecepatan di atas rata-rata.


Luka yang mereka dapati tidak sebanding dengan luka yang mereka tuju pada monster itu. "Lucu sekali, seorang Raja vampir kelelahan melawan monster."


"Apa jadinya dunia vampir jika memiliki raja lemah seperti kau," sindir monster itu.


"Kau menang hanya karena kecepatan mu yang di atas rata-rata."


Sebuah pedang muncul di atas udara. Pedang yang memancarkan aura merah yang terasa kuat dan mengintimidasi.

__ADS_1


"Mari kita lihat seberapa angkuhnya dirimu setelah ini."


Pepohonan terbelah begitu angin berhembus kencang bersamaan dengan sebuah serangan yang diciptakan oleh Nark.


"Semoga kau tenang di alam sana." ujar Nark.


Nark menghampiri tubuh gadis yang tak sadarkan diri. Ikatan yang mengikat kedua kaki dan tangan itu di buka dengan mudah.


Namun sesuatu yang aneh terjadi. Tubuhnya seakan menjadi tranparan dan menghilang. "Apa artinya ini, Aedion?" tanya Nark.


Jejak hitam tertinggal sesaat sebelum tubuh gadis itu menghilang. "Ini seperti berburu harta karun." gumam Dion.


Nark menggeram rendah.


Aura memancar keluar dan menimbulkan getaran kuat hingga bebatuan dan tanah terbelah. Tempat yang damai dan indah itu kini hancur berantakan dengan puing-puing bebatuan berserakan.


"Beraninya kau... menghancurkan tempat yang sudah lama kubangun."


Nark melirik seseorang yang baru saja tiba dengan sebuah pedang tipis dengan aura seperti bangsa bersayap putih.


"Kembalikan Ethel. Gadis yang kalian sekap." ujar Nark.


Kening pria bertubuh kecil itu mengkerut. Jiwa seorang gadis yang baru saja dilihat olehnya, jiwa yang terasa kosong tanpa adanya gairah hidup.


"Ah jiwa yang kosong itu."


"Sebaiknya kalian berhenti mencarinya, jiwa yang kosong sama saja sudah mati."


Manik merahnya membesar. Pedangnya dikerahkan untuk mengerahkan serangan yang terpusat pada seorang anak kecil yang berdiri di hadapannya dengan angkuh.


Serangan yang kuat diterima oleh anak kecil yang mampu memecahkan serangan itu dengan bilah pedang miliknya.


"Gadis manusia itu, seharusnya sudah lama mati."


"Takdir hidup yang seharusnya tewas sudah lama, tapi masih hidup karena suatu hal."


"Kuyakin kau pasti tahu tentang hal ini, Yang Mulia Raja." ujarnya dengan sebuah senyuman dan tatapan mata yang misterius.


"Relakanlah, jiwa gadis itu tak lama akan segera ke dunia para alam roh dan jiwa makhluk hidup yang tak bernyawa berada."


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2