THE VAMPIRE ; Nark De Melchias

THE VAMPIRE ; Nark De Melchias
XV. [Τέλος ενότητας] Ο Ναρκς παρελθόν


__ADS_3

𝟏𝟓. [Bagian Akhir] 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐋𝐚𝐥𝐮 𝐍𝐚𝐫𝐤


_____________________________________


Tubuh mereka terjatuh ke tanah dengan Niell yang menghilang tenggelam oleh kabut yang tebal. Dion yang melihat mereka berdua terjatuh mendekatinya dengan tangan yang menopang tubuh lemah Ethel.


"Yang Mulia baik-baik saja, Nona." ujar Dion.


"Tidak, matanya... kosong." ujar Ethel.


Tubuh Nark menjadi kaku dengan tatapan mata yang kosong, darah mulai mengalir keluar tubuhnya. Sekilas ia mendengar ucapan dan perintah sang kakak.


Seorang Raja yang masih berpegang teguh pada pundak orang lain, tak pantas mendapatkan gelar Raja. Dahulu, Nark adalah seorang anak kecil yang polos dan takut oleh orang lain.


Niell De Melchias selalu menempel di sisi Nark yang menyebabkan anak laki-laki itu berpegangan pada tangan Niell. Entah semacam obsesi atau hanya rasa kepercayaan yang besar pada seorang kakak.


"Kau kan sudah besar, kenapa masih menempel?" ujar Niell.


Ia sudah cukup lelah melihat tindakan adik bungsunya yang selalu mengikutinya kemanapun. Tidur di ruang tidurnya, mengikutinya berlatih pedang dan sihir serta takut untuk berteman dengan bangsawan lain.


"Karena aku sayang kakak." ujarnya dengan senyuman manis itu.


Niell hanya bisa menghela napas dan mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Kau bertemanlah dengan Constantine, dia teman di kamp berlatih ku. Usianya seumuran denganku, kurasa kau-"


Suara isak tangis terdengar kecil, Niell berhenti bicara dan melihat air mata jatuh membasahi pipi Nark. "Aku tidak mau! Bangsawan lain itu kejam, aku takut. Bagaimana jika aku diculik lagi? Apa kakak ingin aku pergi dan menghilang?"


Isak tangis itu mengeras. "Nark.."


+


Kelopak mata terbuka, pupil merahnya melihat ke langit-langit ruangan secara perlahan. Tubuhnya sakit begitu ia hendak bangkit. "Kau bangun? Kata Dante jangan bergerak dulu."

__ADS_1


"Lalu, apa dia sudah memberiku pereda sakit?"


Gadis itu diam menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal dengan keringat yang membasahi tangannya. Dia menggelengkan kepalanya. "Kata Dante, darahku bisa menyembuhkanmu."


Nark menatap gadis itu dengan pupil matanya yang merah. "Lalu, kau membiarkanku menghisap darahmu?"


Dengan ragu dan takut, kepala gadis itu mengangguk. Tubuh nya duduk di tepi ranjang dan menatap Nark dengan mata yang takut. Pria itu terkekeh dengan tangan yang menutupi wajahnya diselingi oleh hembusan napas.


"Jangan menatapku seperti itu, aku takut bahwa aku tidak bisa menahan diri untuk menyerangmu. Jika kau tidak mau tak apa." ujar Nark memejamkan mata.


Ethel merasa bersalah dengan kondisi pria itu yang selalu melindunginya dan terluka dan menyembunyikan rasa sakitnya. "Aku sedang proses penyembuhan, bisa kau diam sebentar?" ujar Nark.


Pria itu memejamkan mata dengan tubuh yang menghadap ke langit-langit ruangan dengan aura merah yang keluar dari tubuhnya.


Gadis itu merasa kantuk dan menjatuhkan kepalanya ke ranjang disaat Nark sedang melakukan pemulihan. Rasa lapar Nark memuncak, ia keluar dari ruangan begitu usai memindahkan gadis itu agar lebih nyaman beristirahat.


"Constantine, kemana William?" ujarnya dengan tangan yang menyentuh dinding berguna untuk menopang tubuhnya yang lemah.


"Kau harus menyumbangkan waktu luangmu untuk menyembuhkanku, bocah." ujar Nark dengan nada geram.


+


Ruangan putih itu dipenuhi darah anak kecil yang tengah pasrah ketika taring tajam Nark menusuk permukaan kulit lehernya. Darah jatuh melalui sela-sela, darah itu menodai lantai ruangan itu, tangan kecilnya tidak berhenti mencengkram pundak Nark agar pria itu berhenti.


Namun, seorang Raja tidak mendengarkan bawahannya. Ia menulikan panca indra di tubuhnya dan terus merasakan betapa tidak enaknya darah keturunan dewa yang berada di tubuh William.


Tangan William beralih melambai pada Dion yang berdiri di sudut ruangan, ia hanya diam mengosongkan pandangannya seolah tak peduli. Mata birunya mengeluarkan air mata dengan deras.


Rasa sakit ini begitu menyengat dan membakar tubuhnya dari dalam. "Sudah... ini sakit." ujarnya.


Pria itu menarik dirinya menjauh dari anak laki-laki itu. Ia menyeringai dengan sisa-sisa darah di sekitar mulutnya. "Kau siapa berani memerintahku? Jangan berpikir bahwa kau adik laki-laki dari Ethel kau bisa memerintahku seenaknya. Kau hanya adiknya."

__ADS_1


Tangan itu memukul wajah William hingga anak itu terjatuh ke lantai, Dion datang mendekat dengan tangan yang menahan Nark. "Sudah cukup, Yang Mulia. William hanya manusia biasa, dia bisa mati." ujar Dion.


"Menyingkirlah, Constantine. Aku masih butuh darahnya." ujar Nark.


"Berhenti, Isaac. William bisa mati, dan Nona Galiadne bisa membencimu."


Isaac berhenti dengan pupil merahnya yang bersinar. Ia memukul Dion dengan keras hingga tubuh pria itu terpental dan dindingnya meretak. "I-isaac.." ujar Dioan terbata-bata menahan sakit.


Pria itu melangkah mendekati Dion yang berusaha bangkit, tangannya mencekik leher Dion dan menyudutkannya. "Sejak kapan kau berani melawanku, Constantine?" bisik Isaac.


Surai rambutnya ditarik dengan kasar dan dirantai di lengan kanan dan kiri. "Kau harus dihukum, Constantine." ujar Isaac.


 Semua segala luka sayatan dan cambukan bahkan serta pukulan dari Isaac membuat tubuh Dion lebam dan terluka. Darah keluar dari rongga mulut dan mengalir jatuh ke lantai. "Constantine, kau ditakdirkan dihidupku untuk mengabdi padaku." ujar Isaac.


Wajah Dion tidak memiliki ekspresi apapun, seolah ia tidak merasakan sakit dan takut pada Isaac. Ia hanya diam menganggukkan kepalanya disaat Isaac berjalan mendekati William yang berusaha lari darinya.


"Kenapa kau begitu kejam? Padahal di hadapan kakakku, kau seperti orang yang lembut." Isak tangis itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan air mata yang mengalir.


"Karena aku bersikap seperti untuk menikahi kakakmu. Siapa yang tidak mencari wajah dihadapan orang yang dicintainya? Semuanya pasti begitu, kau manusia pasti mengerti apa yang kubicarakan."


Tangan itu mencekik leher William yang terjatuh, tubuhnya ditekan agar terbaring di lantai yang dingin itu. Air matanya menderas dengan udara yang mulai tertahan karena Isaac yang mencekiknya.


"Sekarang diam dan biarkan aku menyembuhkan diriku."


Kedua taring tajam itu menusuk lehernya lagi, membuat sebuah luka dan tanda di lehernya. Darah mulai mengalir jatuh ke lantai dari celah yang diberikan oleh Isaac. "Isaac, dia bisa mati karena kekurangan darah!"


Pupil merahnya bersinar dengan sebuah serangan yang mendarat di tubuh Dion, menciptakan lebih banyak darah yang keluar dari mulutnya. "Kau diam saja, apa kau tidak ingin Rajamu sembuh? Ini terjadi karena si brengsek Niell yang menaruh obat pada diriku."


 Dion hanya bisa mengatur napas dan memulihkan lukanya yang terus menerus terbuka karena Isaac. "Jika Nona Galiadne melihat ini, apa yang kau lakukan?" ujar Dion.


"Dia tidak mungkin melihatnya, karena dia sedang tidur di kamarku." ujar Isaac dengan sebuah seringaian di wajahnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2