
𝟏𝟔. [𝐁𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧] 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠.
_____________________________
Darah membasahi pakaian Aedion di sebuah ruangan putih. Di sana hanya ada Aedion dan William, darah terus mengalir dari tubuh Aedion yang terluka.
"Nark, hentikan sudah. Aku sudah tidak kuat!" William berseru dengan keringat yang memenuhi wajahnya.
Nark yang sedang dikendalikan Isaac hanya diam menyeringai.
Suara isak tangis terdengar begitu pintu ruangan itu terbuka. Semua hening, Nark menoleh. "Ethel?" gumamnya tidak percaya.
Darah di sekitar mulut Nark, tangan yang penuh darah. Kedua orang yang terluka dan mengeluarkan darah.
"Kau, kau... Bukan Arsene." ujar Ethel dengan nada yang dipenuhi isak tangis.
Nark merasa sesak ketika ia melihat gadis pujaannya menangis. "A-aku Arsene." ujar Nark sembari berjalan mendekati Ethel.
Tangan yang penuh darah itu hendak menggapai pundak gadis itu, namun terhenti begitu Nark tahu dirinya sedang kotor.
"Aku minta maaf jika aku bukan Arsene yang kau kenal... Tapi, aku Arsene. Kumohon..."
Seseorang menyeringai melihat Nark yang memohon pada seorang gadis manusia yang bahkan mudah mati.
"Jika kau bukan Arsene. Lalu, kau siapa?"
"Nark... Nark De Melchias. Arsene-mu."
Rasa sakit menyerang kepalanya. Pening rasanya begitu pria asing itu menyebutkan namanya.
"N-Nark, katamu?" Ethel bergumam.
Air mata mengalir dari manik mata birunya. Dia mendongak menatap pria di depannya. "Arsene, Nark? Kau vampir ya, adikku.. Dia tidak sadarkan diri karenamu!"
*
Ruang tidur Ethel memiliki suasana suram dengan perban di leher Sang adik bungsunya.
William tak sadarkan diri ketika ia melihat adiknya di belakang Nark. "Vampir, darah, hewan, mereka ... kejam." Ethel bergumam tidak jelas.
Air mata itu menetes jatuh ke punggung tangan William. Pintu terbuka menampakkan seorang dokter tampan.
"Saya Dante. Saya—"
__ADS_1
"Vampir... Kan?" gumam gadis itu. Dante hanya diam dengan kaki yang melangkah mendekati anak laki-laki yang terbaring lemah.
"Kenapa pria bernama Nark itu menghisap darah adikku? Dia masih kecil. Jika dia ingin, dia bisa menghisap darahku. Akan kuberikan apapun asal jangan adikku."
Dia mendongak menatap Dante dengan mata yang mengalirkan air mata dengan deras.
"Entahlah. Apa kau tahu mengenai ramalan yang berbunyi 'Darah keturunan dewa mampu membuat makhluk kejam menjadi seorang manusia lemah.' Apa pernah kau mendengar itu, Nona?"
Wajah pria itu mendekat pada wajah gadis manusia yang menangis dan kehilangan semangatnya.
Pria masuk dan mengeluarkan aura Dominasinya. "Menjauh dari milikku, Dante. "
Dante menjauh dan membungkuk pada Nark. Dan segera meninggalkan ruang tidur itu.
Pintu ruangan tertutup tanpa dikunci siapapun. Hanya ada Nark dan Ethel yang menangis dengan tatapan mata yang kosong.
"Adikmu memiliki darah keturunan dewa. Sebab itu aku meminum darah adikmu." Penyesalan terlihat jelas di wajah Nark yang berlutut di depan gadis itu.
Tangannya terulur menarik tangan Ethel dan menggenggamnya, mengelus nya pada wajahnya.
"Kau juga memilikinya. Tapi aku tidak ingin menyakitimu." Air mata mulai jatuh dari matanya membasahi punggung tangan Ethel.
Dia menaruh kepalanya pada paha Ethel dan mendongak menatap mata biru gadis yang ia cintai.
"Kenapa kau menghisap darah adikku?"
Nark tersenyum dengan air mata yang jatuh, ia tetap tersenyum. "Aku melakukan ini agar aku bisa bersamamu selamanya, bahkan sampai aku mati." ujar Nark.
"Tapi bukan berarti kau melakukan hal yang dilarang."
Nark mencondongkan wajahnya pada Ethel, dia tersenyum dan berbisik. "Akan kulakukan apapun agar kau tetap bersamamu, meski dunia hancur sekalipun."
"Kau seorang iblis!"
"Ya, dan kau akan tetap menjadi duniaku. Apapun yang terjadi."
*
Ethel diam tak bergerak. Tangan yang berada di perut dan memeluknya dari belakang semakin mengerat.
Entah sejak tadi pagi, Nark selalu menempel di dekatnya. "Hei, aku tidak nyaman."
"Terbiasa lah. Aku akan melakukan ini setiap hari."
__ADS_1
Tangan Nark sedikit bergetar di perut Ethel. "Tanganmu bergetar. Itu membuatku tidak nyaman."
Tangan itu menarik tubuh Ethel dan mengeratkan dekapannya. "Aku takut. Jika aku melepaskan tangan ini, kau akan hilang, meninggalkanku."
"Tidak. Tidak akan pernah kulepaskanmu." ujar Nark semakin mempererat dekapan itu.
Gadis itu sedikit merasa merinding, laki-laki di belakangnya terdengar berbahaya. "Itu menakutkan, aku perlu kebebasan."
"Kau sudah bebas, hanya saja kau dalam berada di bawah kendaliku. Kau milikku, hanya milikku," bisiknya.
*
Suara gemuruh dari atas langit membuat bangsa vampir berlarian keluar, para ksatria berkumpul dan menatap ke langit. Lingkaran hitam itu muncul dengan pasukan bersayap merah.
"Bangsa iblis, untuk apa mereka datang ke bangsa vampir?" Dante mendongak menatap langit yang dipenuhi oleh makhluk bersayap merah.
Suara langkah kaki di lorong membuatnya merinding dan tidak bisa bergerak. "Minggirlah, makhluk rendahan." titah seorang anak kecil.
Seorang anak kecil bersurai hitam dengan mata merah, dia melangkah melewati Dante begitu saja dan berhenti di pintu besar. "Nark." serunya.
Aura merah yang keluar dari tubuhnya membuka pintu itu, matanya membulat melihat seorang Raja vampir tengah mendekap seorang gadis dengan tatapan kosong. "Apa-apaan ini, Nark?" ujar anak itu.
Manik merah itu terbuka dan menatap tajam pada seorang anak kecil yang berdiri di ambang pintu dengan aura merah yang keluar dan mendominasi ruangan.
"Xavier, ada urusan apa kau datang ke duniaku?" ujar Nark.
Tubuh setengah telanjang itu berdiri dari ranjang dan berjalan mendekati anak laki-laki itu. Tubuh lawan bicaranya sangat kecil hingga ia harus menunduk ketika berbicara dengannya. "Aku datang untuk bekerjasama denganmu untuk melawan para penguasa."
Senyuman terukir di wajah Nark, dia menekuk lututnya menyamakan tingginya dengan tinggi anak itu. Tangannya ditaruh di atas kepala anak itu. "Seorang Raja iblis meminta kerjasama denganku? Kemana sikap angkuhmu, Sang Raja Iblis Terhormat?" Sarkasnya.
"Aku serius, Nark. Berhubung Isaac ada di tubuhmu, kemungkinan kita akan memenangkan perang dengan para penguasa."
"Kenapa para penguasa datang? Bukankah dunia kita mereka yang ciptakan?"
Suara ledakan terjadi di luar wilayah istana membuat tanah bergetar hebat. "Siapa orang sialan yang membuat peristiwa seperti ini?" Seru Xavier.
Sebuah tangan mencekik leher Nark dan tersudut di dinding dengan beberapa dinding istana yang dirusak oleh orang itu. "Lama tidak jumpa, Nak. Bagaimana kabar bangsa vampir?"
Pria bersurai putih sedikit panjang dan manik merah yang identik dengan mereka berdua. Aura merah darinya lebih berbahaya. Pria yang berani mencekik seorang Raja Vampir. "Carveth.." ujar Nark susah payah.
"Aku datang karena katanya kau berhasil mengalahkan pasukan yang diperintahkan langsung oleh Osiris." ujar Carveth.
Xavier tak bisa bergerak, kehadiran pria bersurai putih itu mengunci pergerakan siapapun yang ada di ruangan, terkecuali seorang gadis manusia yang tertidur di ranjang. "Kau sudah bertambah kuat, Nak. Aku bangga-"
__ADS_1
"Tidak usah bersikap bahwa kau adalah ayahku, Carveth. Itu menjijikan." Sela Nark sedikit meninggikan nada di hadapan Carveth.
Bersambung..