Three Sides

Three Sides
PROLOG


__ADS_3

"jangan pernah menahan air mata, walaupun kau adalah sampah"


~Pheonix~


Anak panah mengenai tepat pada buah apel yang berada diatas kepala seorang gadis Cantik. "Tuhkan,zura bilang juga apa? Zura tuh jago kalo masalah senjata" ucap zura bangga pada gadis itu.


"Narsis banget sih Ra" ucap pheonix. Seorang gadis cantik yang ditugaskan oleh zero untuk menjadi pengawal peribadi zura. Pheonix sendiri memiliki nama asli Syila yang mempunyai 2 orang adik perempuan yaitu Aila dan Nafia. Gelar pheonix sendiri diambil dari wujud lain dari Syila yaitu burung Pheonix yang melegenda.


"Iya dong,zura yang masih 14 tahun ini udah bisa megang senjata sementara kak pheo baru bisa megang senjata pas umur 17 tahun" ucap zura berusaha menahan tawanya kala mengingat pheonix hampir menghancurkan rumah Karna tidak bisa mengendalikan kekuatannya.


"Ledek aja terus. Kualat mampus" ucap pheonix tak terima dirinya terus menerus dipermalukan.


"Cie ngambek. Hahaha" ucap zura ketawa hambar.


"Kenapa tiba-tiba jadi ga mood gitu?"


"Kangen mommy"


"Mommy mu yg disini sibuk. Mommy mu didunia manusia emang ga perhatian?"


"Boro-boro perhatian dipalak tiap hari ada lah"

__ADS_1


"Zura tau? Kak pheo pengen nemenin dan lindungi zura dari mereka tapi belum ada perintah"


"Ih,apa sih kak? Puitis banget. Zura geli dengernya"


"Kak pheo serius"


"Ouh,tunggu nanti kalo Daddy nggak sibuk" ucap zura putus asa.


"Kak denger besok kaisar gak ada kerjaan loh"


"Hah? Yang bener?" Ucap zura seperti menemukan semangatnya lagi


"Yaudah,besok waktu Daddy harus buat zura" ucapnya semangat.


------


Seonggok kain kotor menimpuk wajah manis gadis itu. "Jangan lupa di cuci" ucap wanita paruh baya didepan nya yang bisa dipanggil Lexa dan juga merupakan ibu angkat dari zura.


Setelah itu,Lexa bergegas pergi dari kamar mandi itu. "Sabar Ra, anggap aja mereka setan yang terbuang dari neraka dan kamu Cinderella tanpa Pangeran." Ucap zura pada dirinya sendiri.


Tak ingin berlama-lama,zura menyelesaikan cucian itu dengan tangannya walaupun tangannya sendiri sudah kasar karena terlalu bekerja keras.

__ADS_1


Zura menatap tangannya yang ditutupi berbagai macam pembalut luka yang sudah basah dan terkena oleh zat kimia dari deterjen. Sesekali ia meringis merasakan pedihnya. Bagaimana tidak? Pasalnya luka itu baru beberapa hari yang lalu ia dapatkan.


Zura mencoba memulihkan luka itu dengan mana nya yang tidak terpakai akhir-akhir ini. Dan benar saja. Luka itu benar-benar sembuh setelah beberapa detik.


"Akhirnya...." Gadis itu lalu bernafas lega dan berjalan menuju kamar nya yang berada di loteng rumah--lebih tepatnya gudang--ia merebahkan tubuhnya di tumpukan kain yang tak terpakai mencoba menemukan kenyamanan untuk tidur.


Zura mengambil handphone yang selalu ia simpan dan memainkannya secara diam-diam. Kenapa? Karena jika saja Lexa tau bahwa zura memiliki barang elektronik maka barang itu akan dijual oleh nya untuk mendapatkan uang.


-------


Sebuah buku tulis terlempar kasar ke meja gadis itu. "Heh kutu buku,kerjain PR gw" ucap seorang gadis yang sebaya dengan nya.


"Tapi ini kan tugas kalian,kerjain sendiri lah" ucap zura menolak. Gadis itu lalu menjabak rambut zura dengan kuat membuat kepala zura tengadah keatas.


"Lo berani nolak gw?" Sebuah tamparan dengan kasar mendarat ke pipi mulusnya. Mata merah zura pun memancarkan cahaya seakan siap membunuh siapapun didepannya.


Zura tak ingin melawannya disini. Bisa-bisa ia akan terkena masalah dan dikeluarkan dari sekolah. Zura menatap tajam kearah gadis itu seolah mengatakan "belum waktunya aku membalasmu"


Zura hanya mengerjai gadis itu dengan kekuatan ringan yang ia miliki. Melihat buku gadis itu,zura seakan-akan terpikir sesuatu.


Zura lantas mengendalikan buku itu hingga terlempar kearah pemiliknya sementara gadis itu hanya meringis kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2