
"hidup ini penuh cobaan makanya harus dicobain"
~Lala~
"Morning!!" Teriak gadis itu dengan semangat menuruni anak tangga.
"Kasian anak tangganya di injak" ucap Aila yang terlalu polos.
"Emang tangga punya anak?" Tanya pheonix ketularan polos dari adiknya.
"Pembahasan pagi ini agak kurang masuk akal yah" ucap zura menatap kedua orangtuanya yang hanya berfokus pada makanan mereka. Orangtua yang acuh yang bahkan tak bisa membagi waktu dengan putri satu-satunya yang mereka punya.
Zura menatap sendu suasana pagi ini. Air matanya hampir jatuh namun ia berusaha menahannya lalu ikut bergabung dimeja makan.
Hening. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut orangtuanya yang mempuat zura sedikit kecewa. Ia sangat berharap bisa berbicara dengan orangtua nya namun,semua itu hanya harapan yang tidak pernah menjadi kenyataan.
Zura meninggalkan meja makan lebih dulu dengan sesendok makanan yang masih tersisa di piring nya.
"Habisin dulu Ra" ucap zero lembut pada anaknya tersebut. Zura lantas menatap ayahnya itu dengan berbinar. Setidaknya sekarang ayahnya memperhatikan walaupun hanya hal sekecil itu.
"Daddy gak lagi kesambet kan?" Ucap zura sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Zero. Zero yang melihat itu hanya menatap datar kearah zura sementara itu Zera,istrinya hampir mengeluarkan semua makanan yang ada di mulutnya.
"Kenapa pada nahan ketawa? Ada yang lucu hm?" Ucap zero penuh penekanan diakhir kalimatnya yang berhasil membuat yang lain hanya menunduk takut.
Zera meninggalkan meja makan setelah menghabiskan makanannya. Ia harus segera pergi ke kekaisaran lain untuk mengurus sesuatu.
"Sekarang,habiskan makanannya" ucap zero mengusap lembut pucuk kepala Zura.
__ADS_1
"Oke"jawabnya semangat lalu memakan suapan terakhir dari makanannya.
"Tar Daddy temenin zura latihan" ucap zero dingin. Namun hati zura terasa menghangat tapi bagaimana caranya? Di satu sisi ia sangat bahagia akan menghabiskan waktu bersama ayahnya sementara disisi lain,ia harus menjalani hidup sebagai 2 peran lainnya.
Sebuah Ide terlintas dipikiran Zura yang akan bisa memperlancar semuanya.
"Okeh" ucap zura berlari sembari melompat-lompat kecil dan bersenandung dengan ria.
-------------
"Arh,portal sialan. Bisa pelan dikit gak sih?" Ucap zura sedikit kesal karena terlempar dengan kasar dari portal.
"Sekarang,Daddy gak ada disini dan gak akan tau ini semua" ia lalu melafalkan mantra dan membuat 2 kloning yang benar-benar persis seperti dirinya.
"Okeh,kau jalani hidup sky,dan yang satu lagi sebagai Nadhia. Ngerti?" Ucap zura sembari menunjuk keduanya silih berganti.
"Masalah selesai" ucap zura bangga dengan ide jeniusnya lalu kembali ke kamar.
-----------------
Kloning pertama yang memerankan Sky menarik portal tersebut hingga menghilang.
"Akhirnya nyampe,tapi yakin gak akan nyantai sih" benar saja. Tak lama,seember air pel disodorkan ke depan gadis itu.
"Sana beres-beres" ucap Lexa sembari melemparkan pel lantai dengan kasar ke arah Sky.
"Iya" jawab sky nurut lalu mulai membereskan rumahnya yang sudah terlihat seperti kapal pecah.
__ADS_1
---------------
Disisi lain, kloning kedua terlempar kasar kearah tembok pagar yang ada di halaman belakang sekolah. Nadhia meringis kesakitan merasakan punggungnya yang hampir remuk akibat benturan yang cukup kuat.
"Kok cuman kehidupan sebagai Nadhia aja yah yang kejamnya minta ampun? Bahkan benda mati pun juga ngasih masalah" ucap Nadhia bingung.
"Cupu udah sampe nih,tumben ga pake seragam?" Ucap gadis itu, Grace. Nadhia panik bukan main. Bagaimana ia bisa melupakan hal sepenting itu?
"A-aku mau ke toilet" ucapnya lalu berlari cepat kearah toilet. Nadhia mengunci pintu toilet itu dengan tergesa-gesa. Ia mengatur nafasnya yang memburu lalu memfokuskan diri untuk menggunakan kekuatan nya.
"Ah,berhasil" ucap Nadhia lega melihat seragam yang sudah terpasang ditubuhnya. Ia lantas keluar dari toilet dan berjalan menuju kelasnya. Bagaimana tidak dibully? Penampilannya dengan kacamata bulat dengan bingkai hitam, rambut pendek yang di kepang dua dan wajah polos yang benar-benar mebuatnya seperti murid culun lainnya.
Nadhia memasuki kelas itu, XI MIA 2. Tidak usah bingung,zura mencapai kelas ini di umur 14 tahun karena kecerdasannya yang diatas rata-rata.
Grace masih membuntuti gadis itu sampai ke bangkunya. Nadhia menatap kearah Grace yang masih menatapnya.
"Lo jangan berani deket-deket sama Arthur kalo Lo mau hidup Lo tetep tenang" ucap grace penuh penekanan di setiap kata-katanya.
"Aku kan cuman bantuin ngasih tau cara ngerjain soal doang" ucap Nadhia santai. Grace merasa diremehkan dengan jawaban Nadhia.
Grace lalu menjambak rambut hitam gadis itu. Menariknya kasar. "Lo gak usah macam-macam sama gw" ucap grace menatap Nadhia tajam.
Jiwa zura ditubuh Nadhia pun keluar. Mata merahnya menyala terang membuat Grace terheran. Zura menatap Grace lekat-lekat yang lantas membuat gadis itu terlontar ke sudut kelas.
"Gw cuma mau hari ini nggak ada yang ganggu. Ngerti Lo?" Ucap zura menatap tajam Grace bahkan lebih tajam dari tatapan Grace sebelumnya.
Ia mengatur nafasnya sebelum kembali ke jiwa Nadhia. Nadhia pun bernafas lega setelah menatap sekitar yang kosong.
__ADS_1
"Langit,gak pernah ngucapin kalo dirinya tinggi" ucap Nadhia lalu kembali ke bangkunya.