
"Orang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan. Orang yang optimis melihat peluang dalam setiap kesulitan"
~Rere~
Zura. Gadis itu terbangun dengan kantong mata hitam seperti panda. Mungkin karena asik memainkan game tadi malam hingga tidak tidur. Pikirnya. Ia lalu mengatur penampilan nya dan menghilangkan kantong mata itu.
"Huft..... saatnya sekolah" ucap zura lalu langsung masuk ke portal yang menghubungkan dunia manusia dan kekaisaran itu.
"Lah? Sepi" ujarnya lalu beralih menatap jam ditangannya. Jan 6.30 wajar saja mereka belum datang sementara bel masuk akan berbunyi setengah jam lagi.
"Pantes" ucap zura lalu duduk di bangku nya. Ia lalu mendengarkan musik dari hp nya dengan headset menempel di telinganya. Zura merasa sedikit tenang mulai menulis sesuatu di bukunya. Bukan sesuatu yang penting,namun hanya pelampiasan kegabutannya.
Ia hanya menulis kisah singkat hingga para murid berangsur-angsur masuk ke dalam kelas. Tak banyak yang memperhatikannya. Hanya Lala dan Rere yang berusaha mendekatinya.
"Syarat jadi temen Lo gimana sih Nad? Biar Lo gak cuek-cuek amat sama kita.
"Emang Lo berdua mau jadi temen gua? Secara kan gw pendiem banget"
"Siapa yg gamau anjir temenan Ama cewek cantik,cuek,pinter, dan kuat kaya Lo?"
"Udah,jangan terlalu muji gw" ucap zura lalu menarik satu kursi lagi untuk Rere.
"Gak ribet. Asal kita se frekuensi,kita temen" ucap zura lalu mengeluarkan 3 lembar kertas dan meletakkannya di atas meja. Rere yg duduk disebelah kanan zura hanya bisa menautkan alisnya pertanda bingung.
"Masing-masing ambil satu kertas,tulis hal favorit kalian" lanjutnya ikut menarik 1 lembar kertas dan menuliskan hal favoritnya. Diikuti oleh Lala dan Rere.
"Selesai" ucap ketiganya serempak. Mereka lalu meletakkan kertas masing-masing di atas meja. Zura memeriksa kertas yang ditulis oleh Lala menemukan banyak kesamaan dengannya.
"Anjrit la,Lo gak ngikut-ngikut kan?" Ucap zura tak yakin.
"Idih,gw gasuka ngikut-ngikut orang"
"Nohkan,kita banyak kesamaan"
"Iyakah?"
__ADS_1
"Iya" ucap zura lalu beralih memeriksa kertas dari Rere. Berbanding terbalik dengan lala,Rere menuliskan hal yang sangat biasa-biasa saja dimata zura.
"Okeh,boleh deh" ucap zura mulai ramah kepada kedua teman barunya tersebut.
"Yes,makasih" ucap mereka lalu melakukan tos.
"Hm"
"Kumat lagi" ucap Rere lalu beralih ke bangkunya karena bel masuk telah berbunyi.
------------------
Zura memasuki portal lain yang mengarah ke rumah Lexa dan Axel.
"Anjir,nyampe juga" ucapnya lalu memasuki gudang.
"Udah pulang lu?" Ucap gadis yang sedikit lebih tua dari nya.
"Bacot lu" ucap zura lalu mengacungkan jari tengah nya.
"Udah berani Lo? Ngapain masih disini?" Ucap gadis itu lagi membuat zura naik darah. Mata merahnya menyala membuat Axel sedikit takut.
Zura menahan jiwa serigalanya untuk tidak keluar. Ia tak ingin membuat kesalahan yang fatal dia lalu menarik nafas nya dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan upaya menenangkan dirinya.
"Takut amat" ucap zura menatap remeh kearah Axel.
"Si-siapa yang takut?"
"Orang yang ada di depan gw" ucap zura dengan tenang
"Sana masak,habis itu cuci piring" ucap Axel yang dituruti oleh zura. Ia mulai memasak untuk makan malam.
Masakan itu lalu dihidangkan di meja makan dengan lexa dan Axel yang sudah duduk disana. Zura pun menyusul. "Heh,siapa bilang Lo dapet jatah makan malam? Sana balik ke gudang!" Bentak lexa sembari melemparkan sendok kearah tangan zura yang sedang mencoba mengambil nasi.
Zura lagi-lagi menurut. Ia ke gudang lalu merenungkan bagaimana jika mereka ia bunuh? Pikirnya. Namun,zura tak ingin mengotori tangannya dengan membunuh manusia iblis seperti mereka. Zura mengunci gudang itu dari dalam dan masuk ke portal yang menghubungkan nya dengan dimensi kekaisaran nya.
__ADS_1
------------------
"Huft....." Zura bernafas lega setelah sampai di tengah hutan yang tak terlalu jauh dari kekaisaran. Seorang lalu muncul di sampingnya menemaninya sepanjang jalan.
Yang membuat zura sedikit risih.
Ia memperhatikan tanduk di kepalanya yang menandakan dia berasal dari kekaisaran iblis. "Kenapa?" Tanya zura tidak ramah.
"Apakah benar kamu tuan putri Azura?" Tanyanya membuat zura menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu terimalah hadiah dariku" ucapnya memberikan kalung dengan batu Ruby yang tercetak menyerupai bentuk bukan sabit.
"Aku akan keberatan jika kau menolaknya" ucap nya lalu menghilang begitu saja. Zura tak terlalu menghiraukannya lalu memasang kalung itu dan kembali berjalan ke kekaisaran. Zura merasakan hal aneh,dia lebih lemah dari biasanya. Tapi ia tidak sakit.
Sesampainya didepan pintu kamar,zura jatuh. Tubuhnya lemas,namun ia masih sadar. "Ra? Lo kenapa?" Ucap Nafia menatap serius kearah zura.
"Gatau,ada yang aneh" ucap zura perlahan-lahan kehilangan kesadarannya. Nafia mengerutkan dahinya tak mengerti namun lebih memilih ke ruang kerja zero.
Nafia mengetuk pintu itu 3 kali. "masuk" sahut orang yang berada dibalik pintu itu. Nafia Masuk lalu berlutut. "Maaf mengganggu kaisar,tapi ada masalah dengan tubuh zura" ucap Nafia menjelaskan apa yang dilihatnya.
Zero lalu beranjak menuju kamar zura. Menemukan putrinya terbaring tak berdaya didepan pintu kamar itu. Zero mengangkat tubuh zura. Menidurkan tubuh gadis itu ke kasurnya yang lembut.
Zura perlahan-lahan membuka matanya membiasakan dengan cahaya yang masuk. Ia menemukan zero disamping ranjangnya. Meski sekarang ia tengah berkutik dengan sebuah novel namun zura sepertinya senang karena akhirnya ia mendapatkan kasih sayang dari orang tua nya. Meskipun belum seutuhnya.
Ia menghela nafas kasar membuat zero beralih menatapnya.
"Udah sadar? Sekarang jelasin kenapa bisa lemas kek gitu"
"Gatau,tiba-tiba lemes aja" ucap zura singkat. Sebenarnya lidahnya saja serasa kelu dan berat ketika ia berbicara.
"Yakin?" Ucap zero lalu menarik kalung yang ada dileher zura.
"Kenapa sama kalung itu?" Tanya zura polos.
"Bukan kalungnya yang jadi masalah tapi batu Ruby ini nyerap semua tenaga zura" ucap zero lalu menghancurkan batu Ruby itu hingga menjadi abu.
"Siapa yang ngasih?" Tanya zero dengan mata yang menyimpan dendam.
__ADS_1
"Gatau, tapi dikepalanya kek ada tanduk gitu"
'kaisar iblis sialan' batin zero