
"mencintai bukan hanya tentang kasih sayang dan perhatian tapi juga mengikhlaskan"
~Roland~
"Nad,gw gak ngerti soal matematika yang ini" ucap Rafael menunjukkan angka dibuku itu.
"Tunggu, bukannya Lo pintar?" Tanya zura berhasil membuat Rafael bungkam.
"Apa salahnya? Kan gw juga manusia" ucap Rafael mengelus rambut zura yang langsung ditepis kasar oleh Arsha.
"Jangan sentuh Nadhia" ucapnya posesif.
"Lo sendiri ada hak apa?" Ucap Rafael tersenyum licik. Arsha memang tak memiliki hak untuk melarang siapapun menyentuh zura.
Bahkan,ia tak bisa menjadikan rasa sukanya menjadi alasan untuk hal tersebut.
"Gw juga ga suka disentuh sama cowok selain ayah dan arsha" ucap zura membuat arsha terdiam. Tunggu,apa ia sedang bermimpi?
"Tapi kalo Lo pengen sahabat juga sama gw sama arsha boleh aja" ucap zura disetujui oleh arsha.
"Ah,iya. Gw Rafael. Salam kenal arsha" ujar Rafael mengulurkan tangannya seraya tersenyum manis.
"Gw Arshani. Salam kenal buat Lo juga" balas arsha menjabat tangan laki-laki itu sebagai tanda perkenalan.
"Kalo gini kan enak" ucap zura mengeluarkan permen dari sakunya. Ia lalu memberikan masing-masing satu permen pada kedua sahabatnya itu.
"Nanti malam ada acara bukan? Pergi bertiga Yuk" ucap zura sembari tersenyum.
"Gw sih ayo aja" ucap Rafael setuju sedangkan arsha hanya terdiam disana.
"Sampai jumpa nanti malam Nad!" Ucap Rafael lalu berlari ke kelasnya sambil melambaikan tangan.
"Ra,gw bukannya gak setuju sama keputusan Lo tapi kalau yang mulia kaisar marah gimana?" Tanya arsha dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Mudah. Kan bisa bikin kloning" ucap zura begitu tenang.
"Ra,gw khawatir sama Lo"
"Tenang aja,gw pastiin Lo ga bakal terlibat" ucap zura mengacungkan jempolnya.
"Kalau ada kontes nyanyi kita tampil yok. Gw denger suara Lo bagus" ucap Arsha antusias.
"Denger darimana lagi? Lagian,mo nampilin lagu apaan?" Tanya zura malas. Ia sangat-sangat benci menghadapi kerumunan orang nanti malam.
"Dari temen Lo lah. Ntar malem lagunya terserah Lo. Dan Soal penggemar Lo gak usah dipikirin,pake ini" ucap Arsha memberikan sebuah topeng.
"Lah? Lain sendiri dong nanti?"
"Gapapa"
"Serah Lo deh" ucap zura memasukkan topeng itu kedalam tasnya.
"Ayo ke kantin" ucap arsha berdiri dari duduknya
"Pelan-pelan anjrit!" Protes zura.
"Gabisa,ntar kita lama ngantrinya"
"Lo buta apa gimana sih!? Baru kita bertiga siswa yang sampai disekolah ini" ucap zura merasa aneh Dengan sikap sahabatnya itu.
"Jam segini udah dihuni sama siswa kalik kantinnya"
"Lah? Padahal lebih dulu gw yang sekolah disini. Kok Lo bisa lebih tau?" Tanya zura heran.
"Iya lah,gw kan berbakat" jawabnya bangga.
"Hii,narsis" ucap zura ingin mencubit ginjal laki-laki ini.
__ADS_1
Dikantin,benar saja. Sudah banyak para siswa yang menghuni kantin sekolah itu.
"Tuhkan,gw bilang juga apa?" Ucap arsha mengalihkan atensinya kepada zura.
"Iya dah si paling tahu"
"Gw manusia bukan tahu"
"Eh,iya juga yah"
"Ayo, kebanyakan ngomong Lo hari ini" ucap Arsha menarik lengan zura. Mengajaknya duduk dibangku dekat jendela.
"Btw Rere sama Lala gak masuk?" Tanya zura
"Kata Daddy Lu sih mereka ada misi"
"Wahh,udah akrab sama Daddy gw nih ceritanya?" Tanya zura jahil
"Iyalah. Siapa dulu?"
"Serah Lo deh"
Hening. Mereka berdua menjadi pusat perhatian disana. Rasa canggung menghantui zura ingin rasanya ia hilang ditelan bumi daripada ditatap oleh banyak orang seperti saat ini.
Siraman air es tiba-tiba mengguyur tubuh zura.
"Mandi wajib dulu yah. Biar najisnya hilang" ucap gadis yang tak lain adalah Grace. Zura mengepalkan tangannya menahan rasa dingin yang menyerang tubuhnya.
"Gw pastiin Lo menyelesaikan hidup Lo dengan cepat,Grace" gumam zura kecil yang tidak bisa didengar oleh Grace.
"Kenapa? Kok gak ngelawan?" Tanya gadis itu sambil tersenyum licik. Arsha menampar wajah gadis itu dengan kasar.
"Wahhh,mau jadi pahlawan kesiangan?" Grace melayangkan tinjunya ke wajah arsha yang lebih dulu di tahan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
"Jangan gangguin zura kalo gak mau hidup lo berantakan" ucapnya lalu pergi dari sana