
"*jangan pernah menganggap dirimu tidak berguna,bahkan debu saja berguna untuk tayamum bagi umat Islam"
~salam toleransi*~
para hadirin di dalam ruangan itu hanya menatap dengan tercengang. "apa benar itu zura?" ucap mereka didalam hati
sementara zura dan arsha sudah meninggalkan tempat itu setelah mempersembahkan penampilan yang luar biasa.
"hah,ca. gw capek lari" keluh gadis itu.
"gitu doang udah capek. dasar siput" ucap Arsha menjulurkan lidahnya.
"awas aja Lo" ucap zura menatap laki-laki itu seakan ingin membunuhnya.
"awas apa?" tanyanya membuat zura tersenyum jahil. zura lalu mencabut sehelai rambut dari kepala laki-laki itu yang membuat sang empunya meringis menahan sakit.
"awas rambutnya" ucap zura dengan senyum manis tanpa dosanya.
"ngeselin lu anjir"
"dahlah,gw pengen balik ke dimensi lain. nanti yang lain khawatir"
"siapa coba yang khawatirin anak nakal kaya Lo"
"gw gak nakal ya" sangkal gadis itu.
"lah? tujuan Lo ke dunia manusia untuk apa anjir?"
"cuma nyari perhatian dan kasih sayang "
"jangan jadi orang yang haus kasih sayang ra" ujar laki-laki itu membuat zura kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"kalo Lo pikir gw orang yang haus kasih sayang,Lo salah. gw cuma kurang perhatian dari orangtua gw ca" ujar gadis itu dengan raut wajah bersalah.
"ga usah dipikirin lagi,gimana kalo kita bangun dunia fantasi buat Lo sendiri?" ucap laki-laki itu membuat zura menatapnya dengan mata berbinar.
"ayolah,tapi dimana?"
"Lo pulang dulu. besok kita izin sama Daddy Lo" ucap Arsha dibalas anggukan oleh zura.
"makasih buat semuanya ca. gw ga yakin bakal bertahan sampai dititik ini kalo bukan karena Lo"
"buat apa terimakasih? gw ga suka Lo berterimakasih sama gw Ra, lagipun bukannya sahabat itu harus selalu menjaga dan melindungi satu sama lain?"
zura mengangguk sembari tersenyum. hatinya menghangat. oh tuhan,kenapa baru sekarang kau memberikan sosok seperti arsha ke dalam hidupnya?.
"kapan pun lo butuh,gw bakal selalu ada Ra sampai maut sendiri yang nantinya akan memisahkan kita" ucap laki-laki itu tulus.
"alay anjir!" sarkas zura sembari menoyor dahi laki-laki itu.
"kalo sakit kenapa nggak ngebalas?"
"Lo tau kan gw cinta mati sama Lo? jadi ga mungkin gw nyakitin orang yang gw cintai walaupun itu hanya luka kecil" ujar laki-laki itu membuat zura tersenyum. laki-laki itu sangat menyukai wajah tulus dan manis gadis itu dikala ia tersenyum.
"ayo gw antar pulang" ujar laki-laki itu menggenggam tangan zura. sembari meneleportkan dirinya dan gadis itu bersamaan ditempat yang sama.
*******
"Ra darimana? kenapa pake baju begituan?" tanya Zera yang baru tida di kekaisaran itu melihat zura muncul ditemani seorang laki-laki yang dikenali nya.
"loh? Arshani? bukannya kau ditugaskan ke dunia manusia? bagaimana bisa kenal dengan zura?"
"gapapa kok mom,mom pasti capek ayo masuk" ujar zura yang entah dari kapan memeluk ibunya itu.
__ADS_1
"iya ayo,Arshani,tidak mau masuk dulu?"
"masih banyak masalah yang harus diurus Ratu"
"ah,baiklah".
'terlalu formal ga sih?' ujar zura didalam hatinya.
Arsha melambaikan tangannya kearah zura sembari tersenyum dan tak lama setelah itu menghilang.
"zura kenal dia dimana?" tanya Zera mengelus rambut putih yang serupa dengan rambutnya tersebut.
"uhm itu,zura ikut akademi yang sama kaya dia" jawab zura asal-asalan.
"oh,ayo masuk" ucap Zera menggandeng tangan putrinya itu. tunggu,ibunya mengapa berubah selembut ini? ia juga menjadi perhatian.
zura mengikuti langkah ibunya sesekali melompat riang seperti anak kecil.
"Aku pulang sayang!" teriak Zera dengan ceria membuat zero seketika keluar dari ruang kerjanya dan secara spontan memeluk istrinya itu.
"daripada jadi nyamuk mending ke kamar deh" ucap zura lalu melangkah masuk ke kamarnya.
gadis itu merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan lembut. ia lalu memasangkan earphone miliknya memainkan game favorit nya. gadis itu sangat bahagia hari ini. dengan pesta,Arsha dan sekarang ibunya telah kembali.
dari semua yang pergi meninggalkan gadis itu,yang paling ia rindukan adalah ibunya. ia memainkan game itu dengan lihai.
seraya tersenyum,ia sesekali menjatuhkan air mata bahagianya. inilah hadiah tuhan untuknya. yang membuat ia sangat bahagia.
hal ini menyadarkannya bahwa waktu tidak menentukan kebahagiaan,bisa saja kebahagiaan kita tertunda namun lebih berarti daripada kebahagiaan orang lain. "tuhan,bagaimana caranya berterima kasih dan meminta maaf kepadamu? pasalnya aku selalu menginginkan diriku mati" ujar gadis itu dengan seksama mendengarkan lagu yang terputar di handphone miliknya.
"hari ini aku sangat bahagia,sangat" ucap gadis itu terdengar oleh lawannya di game itu.
__ADS_1