
"tidak perlu mengubah karakter,kamu menarik dengan caramu sendiri"
~Azura~
"Harusnya ayahmu tidak mempercayakan kekuatan hebat itu kepada gadis lemah sepertimu".
"Aku juga tidak menginginkannya bodoh!" Ucap zura emosi dan bangkit dari jatuhnya.
"Masih punya tenaga untuk berdiri ya?" Zura mengernyit heran sebelum ia kembali terpental keras ke tembok.
Zura meringis merasakan nyeri yang menyerang seluruh tubuhnya. "Aku jadi heran,kenapa ayahmu memiliki anak yang lemah sepertimu? Atau mungkin kau bukan anak nya?" Ucap venom memancing emosi zura.
"Tutup mulutmu bajingan!" Ucap zura menusuk jantung venom yang berhasil dihindari olehnya.
Venom muncul dibelakang zura. Memukul nya keras dari belakang. Zura tak dapat lagi mempertahankan kesadaran nya. Ia terjatuh dengan tenaga yang hampir habis. Venom mencekik leher gadis itu hingga tubuhnya terangkat keatas.
"Gadis lemah sepertimu bukan tandingan ku" ucapnya lalu menyerap semua energi gadis itu lalu menjatuhkannya ke bawah. Zura menatap wajah ayahnya dengan sendu. "Maaf" ucapnya lirih.
*****
"Jadi, tugas kalian adalah membebaskan seorang gadis yang sudah lama terkurung di kristal itu" jelas pheonix tegas dibalas anggukan oleh Lala dan Rere.
"Dan ingat,jika dia terluka sedikit saja maka nyawamu menjadi bayarannya"
Lala dan Rere lalu pergi dari sana menuju tempat yang di maksud.
******
"Kemana sih tuh anak mainnya? Dasar anak pungut gatau diri. Udah syukur di kasih tempat tinggal dan makanan yang layak" ucap Lexa kesal. Pasalnya,gadis itu tak kunjung pulang dari Kemarin.
"Biasa mah,anak gak berpendidikan. Dia kan gak ada orangtua. makanya gatau tata Krama" ucap Axel seenaknya.
"Awas aja kalo pulang tuh anak bakal mamah gebukin pake kayu biar ga bisa jalan sekalian" balasnya dengan marah.
__ADS_1
"Yahh, jangan dong mah. Nanti kita ga punya pelayan lagi. Axel. Juga Gamau tangan kasar gara-gara nyuci,nyapu,ngepel,dan masak"
"Mana mungkin mamah biarin anak kesayangan mamah jadi ba-" ucapan Lexa terpotong ketika bel rumah itu berbunyi nyaring.
"Biar axel aja yang buka mah" ucap Axel lalu membukakan pintu itu dengan lebar. Seorang remaja laki-laki dengan wajah mempesona berdiri didepan rumah itu dengan bunga ditangannya.
"Sky nya ada?" Tanya laki-laki itu membuat Axel tersentak dari lamunannya.
"Maaf,tapi sky lagi gak dirumah. Dia belum pulang dari Kemarin" terlihat raut wajah kecewa dari laki-laki itu.
"Sebentar,Lo siapa?"
"Arshani. Pelanggan setia yang selalu datang ke toko tempat sky bekerja. Berhubung sky gak dirumah, minta nomor hp nya aja kak". Ucap Arsha
"Gw minta nomor Lo aja deh biar bisa komunikasi juga" ucap Alex meembuat Arsha menyebutkan nomor handphone miliknya.
"Nanti kirim nomor sky nya" ucap Arsha sudah muak dengan ulat satu ini.
****
Sosok gadis membantu zura untuk bangun.
"Sebentar,apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya zura heran. Ia baru pertama kali bertemu dengan gadis itu tapi wajahnya terlihat tidak asing.
"Berdirilah dulu, Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang yang harus kita lakukan adalah memulihkan mana mu" ucap gadis itu lalu mentransfer sebagian mana nya.
"Ayahmu, hilang kendali lagi. Seharusnya aku sudah menghapus mode itu dari lama" ucap gadis itu sementara zura hanya diam tak mengerti apa yang gadis itu katakan.
"Dimana venom itu?" Zura lengah,ia hanya menemukan tubuh ayahnya yang masih tergeletak disana.
"Biar aku yang uruss ayahmu. Soal ven-" tak sempat menyelesaikan kata-katanya,sebuah bola api raksasa melayang ke arah gadis itu yang langsung di tepis oleh zura yang sudah beralih ke mode summer.
"Dasar makhluk sampah!" Bentak zura tak suka lalu melemparkan bola api itu ke arah venom. Sekarang,ia juga ikut kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
__ADS_1
Zura lalu beralih ke mode blackseason. Menciptakan sebuah blackhole yang lalu membuat venom menghilang dari hadapannya. Zero kembali sadar namun sedikit heran melihat laboratorium yang berantakan.
Beralih ke zura,gadis itu sudah kembali menguasai dirinya. Ia lalu duduk di lantai nan dingin itu. Pandangannya tertuju ke bawah. Ia sangat membenci dirinya. Hal sebesar ini kenapa harus disembunyikan darinya?.
Zero beralih melihat gadis disampingnya. Hening sebelum gadis itu menangis seperti anak kecil "kakak kemana saja? Aku merindukanmu" tanya gadis itu namun hanya dibalas cengengesan oleh zero.
"Aurora, sekarang sudah besar ya?"
"Dasar bodoh" ucap aurora yang langsung memeluk tubuh zero "kau mendoakan ku agar tidak tumbuh hm?" Lanjutnya.
"Bukan begitu hey!" Zura mengabaikan pertengkaran dibelakang nya. Ia melihat bintang dari dalam laboratorium yang atapnya sudah hancur.
Malam yang indah,dingin dan gelap. Suasana yang sangat disukai oleh zura namun kenapa ia harus merasakan sakit yang luar biasa? Bukan karena ayahnya tapi dirinya sendiri. Ia merasakan luka yang sangat mendalam.
Zura menjambak rambut nya sendiri berusaha melampiaskan emosinya.
"Dia benar-benar tertekan" ucap aurora tiba-tiba.
"Tertekan kenapa? Bukannya dia hanya-"
"Kak, berhentilah berpikir kalau seseorang dalam kondisi baik-baik saja"
"Apa maksudmu?"
"Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Tapi realitanya, dialah yang menyelesaikan masalah ini dan soal venom itu kakak seharusnya menyembunyikan hal itu darinya"
Suara isakan yang sangat pelan keluar dari mulut gadis itu. Suara isakan itu menjelaskan kalau dirinya hanya menangis pelan. Pada kenyataannya,matanya sudah memerah.
Aurora mendekati gadis itu "aku butuh waktu sendiri" pada akhirnya,aurora membiarkan gadis itu pergi.
"Lihat? Dia begitu kacau malam ini. Selain itu setelah aku membaca pikiran nya, bukan hanya kakak yang membuat dia tertekan tapi juga orang lain" perkataan aurora membuat zero yang tadinya menunduk langsung menatap tajam kearah nya.
"Bukan aku. bodoh" ucap aurora dengan wajah datar "dia merahasiakan sesuatu yang besar dari kita dan hanya membutuhkan satu minggu untuk mengungkapkan semua rahasianya. Kita lihat sampai mana ia akan bertahan?".
__ADS_1