
"tidak ada manusia yang tak berdosa"
~Nafia~
"Daddy,jadi latihan kan?" Ucap zura menatap ayahnya dengan berbinar. Zero mengangguk pelan dan segera keluar dari ruang kerjanya.
"Jadi,mo latihan dimana?" Ucap zero menyamakan tingginya dengan anaknya tersebut.
"Hutan aja yuk,disini banyak orang nanti kalo meleset malah bikin masalah baru" ucap zura yang belum berani menatap mata ayahnya.
"Aila mau ikut!" Seru Aila tiba-tiba membuat zura kaget dan terjungkal.
"Zura kok rebahan dilantai? Di kamar kan ada kasur. Gede lagi" ucapnya polos
"Iya, kasurnya basah habis di kencingin ikan" Jawab zura sembari berdiri dari duduknya.
"Loh kencing ikan gimana?" Zura menepuk jidatnya tak habis pikir dengan gadis yang lebih tua,namun lebih polos darinya.
"Lupain" ucap zura mulai menyerah. Zero melihat itu hanya menggelengkan kepala lalu melangkah keluar dari kekaisaran diikuti oleh zura dan Aila.
Zero mengeluarkan sebuah pedang kayu "nih ambil,sekarang coba serang Daddy" ucap zero memberikan pedang itu ke zura.
"Hah? Nyerang Daddy? Rasanya gak mungkin"
"Jangan terlalu naif Ra,bisa aja suatu hari nanti Daddy hilang kendali" ucap zero membuat zura khawatir.
"Hilang kendali?" Beo zura
"Iya,sekarang cepat"
"Iya"
Zura lalu beralih ke mode musim semi dan mengambil pedang itu.
"Sebentar,kata siapa boleh pake kekuatan?" Ucap zero menahan tangan zura yang ingin mengambil pedang kayu itu.
"Hah? Gak boleh ya? Iya deh" Ucapnya lalu beralih ke wujud normal. Zero melepaskan tangan zura membiarkan gadis itu mengambil pedang kayu tersebut.
Zura mulai mengarahkan pedang itu ke ayahnya dan memulai pertandingan. Pertandingan itu berlangsung sengit dengan kekuatan keduanya yang hampir setara.
Zura terpental membuat lengannya terluka. Beruntungnya,dia mempunyai regenerasi yang cukup cepat. Zura masih terduduk disana memikirkan bagaimana nasibnya kalau ayahnya benar-benar hilang kendali? Oh,moongodness aku rasa kau tidak adil pada gadis yang satu ini.
Zero menghampiri zura memastikan anaknya itu benar-benar tidak terluka. Namun yang ia temukan gadis itu masih melamun dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ra,kenapa? Daddy terlalu keras ya?" Ucap zero khawatir. Sementara zura menggelengkan kepalanya dengan pelan. Kepalanya mengadah keatas berusaha mencegah air mata itu jatuh.
"Gapapa kok dad,emang Daddy aja yang kuat makanya zura gak bisa ngalahin" ucapnya lembut
"Sebenernya serangan zura udah cukup kuat cuman Karna zura kurang fokus" ucap zero mengusap lembut surai hitam anaknya tersebut.
'oh moongodness,apakah ini nyata? Aku merasakan ini semua masih mimpi' hati gadis itu menghangat. Ia menutup mata perlahan menikmati kehangatan tersebut.
-----------------
__ADS_1
"Oi! Bangun pemalas!" Ucap seorang wanita paruh baya sembari menyiramkan segayung air ke wajah gadis cantik yang sekarang masih mengatur nafasnya yang memburu lantaran kaget.
"Bun,bisa nggak gak usah siram-siram?" Ucap Sky mulai emosi dengan semua hari yang ia lalui diawali dengan siraman air.
"Ngelawan kamu!?"
"Iya,aku ngelawan! Capek tau nggak tiap hari disiram!" Sky melemparkan gayung itu ke arah Lexa yang tepat mengenai kepalanya.
"Sekarang gimana rasanya? GIMANA RASANYA BANGS*AT!" Bentak Sky emosi
"Lo udah berani ngelawan ya sama bunda?" Ucap seorang gadis yang sedikit lebih tua dari Sky
"Dan Lo sama aja kek bunda Lo. SAMA-SAMA BRENGS*K" Ucap sky lalu kembali ke gudang. Rasanya ia terlalu kejam hari ini hatinya menjadi begitu lemah matanya merah menahan air mata yang akhirnya jatuh beriringan dengan rintik hujan.
Ingin rasanya ia berteriak merasakan semua kepedihan ini. Sky meringkuk memeluk lututnya berupaya menghangatkan diri hingga akhirnya dia terlelap dan masuk ke dunia mimpi yang jauh lebih indah daripada realitanya.
------------------
Gadis itu duduk kembali ke bangkunya. Seorang gadis sebayanya duduk dibangku kosong yang ada disebelah Nadhia. Nadhia hanya melirik gadis.iti itu sebentar lalu kembali menatap ke luar jendela.
"Kenalin. Aku Lala" ucap gadis itu mengulurkan tangannya.
"Nadhia" ucapnya cuek dan menatap dingin tangan lala yang masih terulur.
"Oh iya,aku boleh duduk disini gak?" Ucap Lala kemudian menarik tangannya kembali.
"Hm" balas Nadhia singkat.
"Lo udah berani ngelawan si Grace tapi kenapa dia masih gangguin Lo?"
"Terus kok Lo bisa sehebat itu sih? Lo bukan manusia yah?" Ucap Lala membuat Nadhia menoleh ke arahnya.
"Denger ya,gw paling gak suka di tanya-tanya apalagi Lo bilang gw bukan manusia" ucap Nadhia menatap tajam kearah lala.
Lala yang melihat reaksi Nadhia pun langsung terdiam tidak berani berkutik lagi.
--------------------
Ketiga gadis yang memiliki wajah yg sama tersebut berkumpul di tengah hutan dengan 1 portal yang masih terbuka.
Para kloning tersebut kemudian menyatu lagi di tubuh yang sama. Zura lalu masuk ke dalam portal dan kembali ke kekaisaran.
"Ekhemm..." Dehem pheonix berdiri membelakangi zura yg menutup portal tersebut.
"Eeeee....kak pheo ngapain?"
"Zura darimana?" Tanya nya dingin seakan membuat tubuh zura membeku
"Hihh,kayak Thomas Shelby" ucap zura bergidik ngeri
"Jawab dulu Ra,zura darimana?" Tanya nya lagi dengan sedikit kesal.
"Dari..... sekolah" ucap zura sedikit gugup.
__ADS_1
"Lalu?" Ucap pheonix sedikit menekan zura
"Jan kasih tau Daddy yah"
"Tenang,kak pheo ga bakal laporin kaisar kok. Tapi ada syaratnya"
"Apa itu?"
"Zura harus menjadi istri kecilnya kak pheo" ucap pheonix memasang watadosnya
"Kak,Jan bercanda woe lah. Aku masih normal loh" ucap zura tak terima
"Kak pheo gak bercanda Ra"ucap pheonix sedikit demi sedikit menyudutkan zura ke tembok
"Hihh,geli" ucap zura lalu meneleportkan tubuhnya ke kamar.
Dikamar,ia langsung mengeluarkan handphone miliknya dan meraba-raba nakas yg ada disamping ranjang king size miliknya.
"Heh? Mana earphone nya?" Tanya zura lalu menoleh kearah meja belajar menemukan Aila yang duduk disana dengan earphone berwarna hitam dengan hiasan telinga kucing diatasnya.
"Ya Allah,gw mo nge-game aja gak tenang" zura lalu menoleh lagi kearah PC miliknya yg telah di mainkan oleh Nafia.
Zura tak dapat menahan emosinya lagi lantas berteriak "DIVINE BEAST!!!" teriaknya menggelegar hingga membuat zero yang tengah memeriksa beberapa berkas terlonjak kaget dan terjungkal dengan kursi yang menimpanya.
Zero lalu menyusul kekamar zura.
"Kenapa ribut²" tanya zero tanpa basa-basi.
"Ini loh dad,zura mo ngegame tapi PC nya di pake kak Nafia trus Earphone nya dipake kak Aila"
Zero lantas menyeret 2 woman menjengkelkan itu membawa mereka ke suatu ruangan dan menceramahi mereka.
*Di dalam ruangan
"Nafia,kenapa mainin PC nya zura?" Ucap zero mulai mengintrogasi mereka.
"Mau belajar nge-game juga" ucap Nafia dengan santainya
"Tinggal bilang astagaaa" ucap zero makin frustasi.
"Hehe,maaf kaisar" ucapnya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.
"Aila,kenapa make earphone zura?"
"Gapapa sih,kali aja kalo make ini bisa berubah jadi kucing soalnya ada telinga kucing nya"
"Ga gitu konsepnya" ucap zero menepuk jidatnya lupa kalau Aila gadis yang benar-benar lugu.
"Mulai sekarang,kalian berdua harus layanin zura sebagai permintaan
Maaf dan hukuman kalian"
"Terus pangkat kami gimana?" Seru keduanya serempak.
__ADS_1
"Gamau tau,awas kalo macem-macem lagi" ucap zero lalu keluar dari ruangan itu.