
"tidak ada kata terlambat untuk mengubah sesuatu"~Rere~
"Tante?" panggil zura dengan nada tenang. ia mengetuk pintu kamar adik dari ayahnya itu. tak mendapatkan jawaban,zura memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu.
zura menemukan tabung yang berisi seseorang didalamnya. "Tante?" panggilnya saat melihat isi tabung itu yang sangat mirip dengan Aurora. tatapannya terhenti pada label tabung itu yang bertuliskan "RAISA".
"siapa Raisa?" tanya gadis itu entah kepada siapa. "loh? zura kenapa bisa ada disini?" tanya seseorang yang sangat familiar bagi zura. Aurora lalu menutupi tabung itu dengan kain putih.
"kalau Tante ada disini terus itu siapa?" tanya gadis itu.
"dia kembaran Tante,kenapa? kaget ya? emang kak zero ga pernah cerita sama zura?" ucap Aurora
"Daddy ga pernah cerita sih"
"yaudah tante aja yang cerita" ucapnya mendudukkan zura ke pangkuannya.
"dulu itu Raisa,Tante dan ayahmu hanya serigala petualang biasa. tapi ayahmu punya kekuatan yang lebih
kuat daripada kami. yang dimana kekuatan itu adalah yang paling diinginkan oleh para petualang, penyihir dan yang lainnya. hingga sampai pada suatu hari seorang penyihir yang nyandra Raisa. untuk membebaskan Raisa,ayahmu terpaksa memberikan sebagian kecil kekuatannya. tapi penyihir itu terlalu bodoh dia gatau kalau itu semua cuma ilusi. dan sayangnya,dia gak kalah pintar. dia melemparkan sihir ke Raisa yang membuat raga Raisa jadi mati tapi tidak dengan jiwanya dan hingga sekarang gak ada yang bisa mematahkan sihir itu" ucap Aurora menjelaskan panjang lebar "sekarang zura ngerti kan?" tanyanya
"nggak" jawab zura membuat perempatan merah muncul dikepala aurora. "Ra,masih pagi loh" melihat keadaan yang tidak aman, zura memutuskan untuk pergi "nanti zura telat,bye Tante!" ucapnya lalu menghilang.
__ADS_1
********
"bentar,udah lama gak ke dunia terkutuk" ucap gadis itu lalu membuka portal untuk masuk ke dunia manusia.
******
zura. gadis itu menikmati mentari pagi didunia manusia ini. ia berlari ke arah sekolahnya. "eh,si culun baru nyampe" ucap grace. bisa-bisanya gadis itu menyebut gadis cantik seperti zura dengan sebutan 'culun'.
zura mengepalkan tangannya. mencoba untuk sabar.
"kok diem? takut ya?" ucapnya. zura masih sabar
"kalo ngomong sama gw tuh jawab!" bentak grace pada gadis itu.
Bugh!
Bugh!
sekali lagi,zura meninju wajah gadis itu "ini adalah balasan untuk Lo Karna nganggap gw gadis yang lemah" ucap zura lalu menikam gadis itu dengan belati yang terselip dibelakang rambut panjangnya. "dan itu adalah hukuman mati untuk penindas kaya Lo".
zura berhasil mengenai titik yang tepat dimana itu akan membunuh korbannya dengan cepat. "sayangnya Lo salah cari mangsa" ucap zura seraya menendang jasad itu ketanah hingga terkubur di bagian paling dalam. "cih,buang-buang waktu" ucap zura lalu meninggalkan tempat itu dan menuju ke kelasnya.
__ADS_1
"gw ga nyangka Lo sehebat itu tapi kenapa Lo biarin mereka ngusik kehidupan Lo?" ucap Rafael membuat zura tersentak. "bukan urusan lo" ucap zura dingin dengan nada mencekam. pupil merah milik gadis itu berhasil membuat lawan bicaranya terdiam.
"gimana kalo kita makan siang nanti?" ucap Rafael berusaha mengambil perhatian zura.
"zura tu milik gw. selamanya" ucap Arsha yang datang tiba-tiba sembari merangkul zura. "alay Lo berdua" ucap zura melepaskan rangkulan arsha lalu kembali ke kelas disusul oleh 2 laki-laki itu.
********
Rere. gadis itu mengayunkan pedangnya dengan mata tertutup. sangat lihai. tak jauh dari tempatnya,seorang lelaki menontonnya dengan takjub.
Laki-laki itu hanyut dengan pikiran nya. tanpa ia sadri,mata pedang sepanjang 60 sentimeter itu sudah berada sangat dekat dengan lehernya. "apa tujuanmu?" tanya Rere melepas kain yang menutupi matanya.
Rere menatap laki-laki didepannya dengan tatapan tajam. tapi laki-laki itu justru menatapnya dengan tatapan takjub. baru kali ini ada gadis yang tak terpesona dengan ketampanannya.
Roland. laki-laki itu adalah mantan penasehat kerajaan ketik zura berumur 9 tahun. Rere tak mengetahuinya karena pada saat itu,ia memiliki misi untuk melatih kemampuannya. Roland berusia 40 tahun sedangkan Rere berumur 25 tahun. tapi sepertinya wajah mereka tak menimbulkan keriput sama sekali.
Roland menurunkan pedang milik Rere. menatap manik Hazel gadis itu dengan lamat. tatapan dingin seakan membunuh apapun yang ditatapnya. termasuk Roland. laki-laki itu seakan tak bisa bergerak. bahkan untukk berbicara saja rasanya sangat sulit.
"jawab pertanyaan ku" ucap Rere dengan nada datar. "aku hanya melihat kemampuanmu itu. dan menurutmu itu sangat menakjubkan" ucap Roland dibalas senyum tipis oleh Rere. sangat tipis.
"aku sepertinya tertarik padamu" ucap Roland
__ADS_1
"tapi aku tidak" balas Rere melangkah pergi dari sana sembari memasang cadar berwarna biru tua miliknya
'wajah secantik itu kenapa ditutupi? akan ku pastikan aku dia akan menjadi milikku' gumam Roland dengan semangatnya