
"manusia itu sejatinya egois. Ingin dimengerti tapi tidak ingin mengerti merasa paling tersakiti tanpa sadar kalau dia juga luka bagi orang lain"
~Aurora~
Zura menghela nafasnya kasar. Ia memeluk lututnya sembari memukul-mukul kepalnya untuk melampiaskan amarahnya.
"Kenapa hal se-bahaya dan sebesar itu harus disembunyikan dariku? Bukankah aku juga berhak tau?" Ucapnya sembari terisak pelan hingga akhirnya tersadar oleh sesuatu. Benar. Hampir 1 bulan dia tidak muncul di dunia manusia.apa ini waktunya ia untuk kembali?.
Tanpa pikir panjang,ia lalu membuka portal dimensi yang menghubungkan 2 dunia itu. Tanpa dia ketahui tindakannya dilihat oleh seseorang yang tak lain adalah aurora.
"Ku rasa kau haus kasih sayang,bukan begitu gadis kecil?" Gumam Aurora yang tidak terdengar oleh zura.
*******
Zura terdorong keluar dari portal tersebut hampir terjatuh,namun seorang lelaki menahan tubuhnya.
Hening. Mata mereka bertemu namun lain halnya dengan zura yang melotot ke arah lelaki itu.
"Menjauh dariku" ucap zura dingin lalu mendorong tubuh lelaki itu. Lelaki itu tersenyum simpul. Rafael Benitez afracia lelaki paling disukai disekolah itu selain wajahnya yang tampah,ia juga memiliki selera humor yang tinggi.
Tak sampai disana,laki-laki itu pintar dalam segala hal. Banyak gadis yang terpikat olehbya. Tapi sepertinya tidak dengan Azura. Gadis dengan surau putih keabuan itu memiliki paras yang cantik mata merah itu juga menjadi ciri khasnya.
Kalau dibandingkan,jika di dunia manusia zura menguasai semuanya. Hari ini untuk pertama kalinya,lelaki itu terpikat pada seorang gadis dan tidak menemukan tatapan hangat sedikitpun darinya.
Apa gadis ini tidak punya perasaan?
Dia juga menatapnya dengan tatapan tidak suka. Apa gadis ini tidak tertarik kepada laki-laki?
Zura berlalu dari sana dengan mood nya yang sudah hancur. "Nadhia,tunggu gw!" Yap benar. Siapa sih yang tidak kenal mereka? Rafael adalah lelaki yang menjadi buronan para siswi sementara zura yang lebih dikenal dengan nama Nadhia merupakan gadis incaran setiap siswa.
Bahkan,tidak sedikit para siswa dan siswi merasa mereka berdua cocok. Namun,zura hanya mengacuhkan. Tak ingin mengenal cinta. Toh,liat saja hubungan Daddy dan mommy nya? Bahkan zura tidak pernah melihat mereka berkomunikasi.
"Punya anggota tubuh yang lengkap kan?" Tanya zura dibalas anggukan oleh laki-laki itu.
"Semuanya apa ada yang sakit?"tanya zura lagi membuat Rafael speechless namun lelaki itu kembali menganggukkan kepalanya.
"Jalan sendiri!" Ucap zura sarkas.
__ADS_1
Tunggu. Apa? Rafael pikir zura menanyakan keadaan tubuhnya karena peduli tapi apa ini? Gadis itu menyuruhnya berjalan sendiri ke kelas.
"Hidoii" ucap laki-laki itu merasa paling tersakiti.
"Otoka yada" ucap zura membuat Rafael melotot kearah nya. Ada apa dengan gadis ini? Apa ia menganggap Rafael adalah laki-laki murahan?.
"Menjengkelkan. Jangan temui aku kecuali jika kau ingin belajar" ucap zura lalu meninggalkan tempat itu dengan Rafael yang masih setia ditempatnya menatap kepergian zura.
Rere yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka melongo tak percaya dengan respon zura yang terkesan tidak peduli. Zura yang melihat Rere dan Lala pojok lorong langsung menarik lengan keduanya lalu menyeret mereka kedalam kelas.
"Ga sopan tau nguping pembicaraan pribadi orang" ucap zura sembari membuka bungkus permennya.
"Maaf tuan put--" zura melotot langsung membekap mulut Rere.
"Tolong jangan gunakan panggilan iitu disini" ucap zura melepaskan tangannya dari wajah Rere.
"Aku mengerti " ucap Rere memperhatikan zura yang hanya fokus membuka bungkus permennya. Zura yang merasa diperhatikan menghentikan pergerakan nya.
"Kenapa? Lo mau?" Ucap zura memberikan 1 bungkus permen kepada Rere.
"Maaf,gw ga doyan " ucap Rere membisikan sesuatu ke telinga zura "sebenarnya agak canggung rasanya" ucapnya membuat zura tersenyum manis.
"Kenapa menunduk?" Tanya zura tidak suka
"Senyummu terlalu manis" ucap Rere lalu kembali ke bangku miliknya.
*****
Pulang sekolah,zura memutuskan untuk pulang ke rumah kakak dan ibu angkatnya. Entah kenapa ia merindukan rumah itu padahal rumah itu adalah neraka untuknya.
Suara ketukan pintu terdengar. Zura yang mendengar itu membuka pintu.
"Hai" sapa laki-laki yang terlihat tidak asing dimata zura.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya zura membuat Laki-laki dengan surai coklat dengan sedikit surai biru tua itu tersenyum.
"Namaku Arshani Saputra pelanggan setia ditempatmu bekerja " ucap laki-laki itu
__ADS_1
"Panggilan lu siapa?" Sebentar bukankah tadi gadis itu berbicara dengan formal? Kenapa sikapnya bisa berubah drastis seperti ini? Sulit dimengerti.
"Panggilan ku Arsha" ucap laki-laki itu mengulurkan tangannya.
"Maaf gw cadel aca aja" ucap zura yang bukannya menjabat tangan laki-laki itu malah lebih memilih melakukan tos sendiri dengan tangan laki-laki itu.
"Tapi bukannya aca itu panggilan buat cewek?" Ucap Arsha tak terima namanya diubah menjadi nama perempuan.
"Gamau tau. Nurut aja yah" ucap zura tersenyum manis
"Jujur gw lebih suka dipanggil sayang sama Lo. Sebentar,bukannya tadi Lo bilang Lo cadel? Lah itu bisa bilang r?!" Ucap Arsha sedikit meninggikan suara nya.
"Hahaha, ngerjain Lo aja sih" ucap zura memukul main-main lengan Arsha.
"Nggak kayak cewek. Taoi gw suka" ucap laki-laki itu membuat pipi zura bersemu.
"Sky artinya langit. Apakah gw harus mengetahui tentang Lo seluas itu?" Tanya Arsha membuat zura semakin baper.
"Tidak semua orang ingin meluangkan waktunya untuk mengerti semua hal tentang langit namun,beberapa orang bisa menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari langit"
"Maka dari itu biarkan gw jadi salah satu dari beberapa orang itu".
Zura terdiam. Apakah ini mimpi? Ini adalah pertama kalinya ada orang yang ingin mengerti semua hal tentang nya.
"Lo gak bercanda kan?" Ucap zura memancarkan binar dari matanya. Mata yang hanya memancarkan pandangan kematian itu sekarang kembali memancarkan binar. Sungguh manis.
"Jalan yuk. Sekalian nanti gw anterin ke toko tempat lu kerja" ucap Arsha mengulurkan tangannya.
"Sky. 831224" ucap Arsha membuat zura mengernyit tidak mengerti.
"Maksudnya?"
"Suatu saat nanti Lo bakal ngerti sky. Tapi gak sekarang" ucap Arsha yang diacuhkan oleh zura. Gadis itu menggenggam tangan Arsha dengan erat melangkah sembari sesekali melompat dengan riang seperti anak kecil.
"Ntar lu jatuh gw ga tanggung jawab loh ya" ucap Arsha dibalas ekspresi cemberut oleh zura.
"Dih belagu. Ntar liat aja siapa yang lebih dulu jatuh" ucap zura lalu tiba-tiba berhenti.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" Tanya Arsha heran melihat zura yang kemudian bersembunyi dibelakang tubuhnya.
Arsha menyiapkan kuda-kuda bersiap untuk menyerang. "ada Badut" ucap zura membuat Arsha menatap datar. Apa dia harus menyerang badut yang tidak bersalah itu?