Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 1.


__ADS_3

...Judul : Tobat (Aku Seorang Pendosa)...


Namaku Suci Syahputri. Aku adalah anak pertama di keluargaku. Awalnya semua nampak baik dan bahagia, tetapi kemudian berubah menjadi berbeda di keluargaku. Papa dan Mama selalu sibuk. Jika di rumah hanya ada pertengkaran saja. Telingaku sampai sakit rasanya mendengar setiap hari pertengkaran mereka.


Saat ini aku baru bersekolah di SMA pada tingkat akhir. Aku baru saja hendak pulang, sekilas terdengar suara azan berkumandang di telingaku. Aku berhenti di tengah jalan mendengarkan azan tersebut. Entah kenapa hatiku terasa seakan makin hampa saja.


Aku pun kembali menyusuri jalan untuk pulang ke rumah.


Agama, di keluargaku tidak pernah aku mengenal kata sholat dan mengaji, karena Papa dan Mama terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Aku sudah lama tersesat dan tak tahu arah lagi. Di sampingku tidak ada siapapun yang membimbingku dan mengajariku. Bahkan aku tidak tahu, apa agamaku sekarang? hanya bermodalkan kartu keluarga yang menyatakan kalau aku Islam, tapi Islam sesungguhnya 'kah aku ini? apa Islam itu? aku juga tidak tahu.


Di sekolah aku termasuk sangat bandel, mungkin karena kurangnya perhatian keluarga sehingga membuatku tidak mengenal namanya kehangatan keluarga. Jadi guru-guru pun sudah kewalahan dengan sikapku yang bandel. Sebenarnya dahulu keluargaku begitu harmonis dan bahagia. Papa dan Mama sayang kepadaku. Aku ingat betul, bagaimana sewaktu kecil aku disayang mereka. Dari baru lahir hingga usia taman kanak-kanak, Mama selalu bercerita bagaimana dahulu dia mengandung aku dan Papa yang selalu menjadi ayah serta suami siaga. Mereka selalu menunjukkan kasih sayangnya kepadaku.


Kemudian aku sekolah dasar hingga SMP kebahagiaan itu masih ada. Tapi, setelah aku lulus SMP dan masuk ke SMA, kebahagiaan tersebut mulai menghilang. Papa dan Mama sering ribut di rumah. Apa saja bisa jadi bahan keributan mereka. Aku selalu merasakan sakit setiap mendengar pertengkaran mereka berdua.


Papaku, Devan Pramundia adalah seorang pengusaha yang sukses dan Mamaku, Marisa Miller adalah keturunan bule campur Indonesia, Mama seorang wanita karir juga yang sukses di pekerjaannya.


Keduanya sama-sama sukses dan sama-sama sibuk. Awalnya mereka masih punya waktu untuk keluarga dan anak-anaknya. Namun, setelah keduanya sama-sama sukses mereka semakin tidak punya waktu. Jika di rumah cuma hanya ada pertengkaran.


Aku bertahan hanya demi adik-adikku di rumah ini. Sejujurnya aku sudah tidak betah di rumah yang sepertinya hanya neraka bagiku. Namun, demi mereka aku masih mencoba bertahan.


Adikku Bima Satria dan yang paling kecil Winny Sakila adalah adik-adikku. Demi mereka aku masih bisa bertahan di rumah ini. Aku berusaha menjadi kakak yang baik bagi adik-adikku. Walaupun aku tidak tahu apakah aku cukup baik untuk kedua adikku.


Aku tingkat SMA dan Bima tingkat SMP, sedangkan Winny tingkat SD kelas dua. Winny sering kali bertanya kepadaku, "Kak, Mama dan Papa kenapa jarang di rumah? dan kenapa setiap di rumah selalu marah-marah?" itulah ucapan bocah kecil yaitu adikku yang suka dia tanyakan kepadaku.


Jujur, aku saja tidak tahu apa penyebab utama Papa dan Mama sering bertengkar. Aku hanya tahu kalau sekarang mereka berdua sering marahan. Keduanya sama-sama mempertahankan egonya masing-masing. Mereka pun entah masih ingat atau tidak dengan anak-anaknya yang selalu menunggu di rumah dan mengharapkan kasih sayang orang tua.

__ADS_1


Aku hanya bisa menjawab ke Winny, "Sudah ya dek, kita pergi saja dan jangan lihat pertengkaran mereka." begitulah, aku lebih baik membawa adikku pergi menjauh dan tidak perlu melihat pertengkaran kedua orang tua kami.


Beda dengan Bima yang sudah terbiasa dan sudah tidak mau perduli lagi dengan Papa dan Mama kami. Dia lebih fokus dengan belajar dan belajar.


***


Di sekolah.


Aku tidak begitu banyak teman di sekolah. Terlalu malas bergaul dengan mereka semua tapi hanya kedua sahabat karibku yang dari SMP selalu berkomunikasi denganku. Namun, mereka berdua berbeda SMA denganku. Vira Wijaya dan Sofia Rahayu adalah kedua sahabatku.


Jika sudah bosan maka aku hanya akan membolos saja dari sekolah, pergi nongkrong dan shopping dengan kedua temanku itu. Kami melepaskan semua penat dan kejenuhan yang ada. Jika bersama kedua temanku itu aku merasa lebih bahagia. Happy terus.


Namun jika ketahuan Mama kalau aku membolos maka aku ujung-ujungnya kena omelan dari Mama. Menyebalkan sekali. Di rumah selalu dimarahi atau melihat pertengkaran Papa dan Mama. Selalu begitu.


"Suci! Mama dengar dari sekolah kamu, kalau Suci membolos sekolah lagi? kamu ini mau jadi apa, sih, Suci? Bukannya dulu waktu SMP kamu itu anak teladan. Kenapa sekarang begini? ini pasti akibat dari pergaulan kedua temanmu itu, kan?" Mama marah dan melotot ke arah Suci.


"Bising, Ma! tahu dari mana?" Suci merasa ogah-ogahan menjawab.


"Sekolahmu tadi yang nelepon Mama. Kamu kemana lagi kali ini, sih, Suci? bisa gak seh, jangan bikin Mama pusing kepala." Marisa merasakan sakit kepala karena ulah Suci.


"Pusing? Suci lebih pusing lihat Papa dan Mama bertengkar terus. Rumah ini apa gak bisa damai lagi, seh?" Suci menjawab yang membuat Mamanya naik darah.


"Dasar kamu anak tidak tahu diri!" Marisa menampar pipinya Suci. Suci menatap tajam ke arah Mamanya.


"Suci benci Mama!" Suci berlari ke arah kamarnya. Dia membanting pintu kamar dan menangis di atas ranjang.

__ADS_1


Marisa terduduk lemas di sofa. Kedua tangan Marisa meremas rambutnya. Marisa sejujurnya menyesal menampar Suci. Dari kecil Suci tidak pernah dipukul. Pasti sekarang Suci sangat bersedih hati dan terpukul.


Ponsel Marisa berdering, dan dia diminta kembali ke kantor. Marisa pun segera bergegas pergi. Ya, seperti itulah selalu. Pergi meninggalkan rumah dan anak-anaknya.


Malam harinya.


"Kak, ayo makan malam!" ajak Winny kepada Suci.


"Enggak Dek, Kakak lagi malas makan." Suci menolak.


"Yah." Winny menunjukkan wajah sedih.


Suci melihat raut wajah sedih adiknya. Dia pun mendekati Winny. Kasian juga dia melihat Winny. Lagi dan lagi, Winny merasa kesepian dan makan sendirian. Winny tentu tidak mau. Dia hanya bisa mengajak Kakaknya. Sedangkan Bima hanya fokus dengan dirinya sendiri.


"Baiklah. Ayo kita makan bersama, Dek!" Suci tersenyum. Keduanya makan bersama.


***


Suci merasa bosan siang itu. Dia baru saja pulang sekolah. Tiba-tiba kedua temannya menelepon untuk hangout bareng ke mall, dan pergilah Suci menemui kedua temannya.


Sampai di tempat, mereka shopping bareng dan senang-senang. Di sebuah toko buku, Vira, Sofia dan Suci bertabrakan dengan seorang gadis berhijab.


"Eh, jalan lihat-lihat neng ... matanya dimana, seh!"


Vira menyolot nampak marah.

__ADS_1


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


Mari dukung ya gaes 🤣 dikomentari dan di-like ya šŸ˜‰šŸ¤—


__ADS_2