Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 2.


__ADS_3

Vira menyolot nampak marah.


Gadis berhijab tersebut menundukkan kepalanya, seraya berkata meminta maaf kepada Vira, Sofia dan Suci. Akan tetapi Vira dan Sofia malah mengejeknya. Mereka melihat pakaian gadis berhijab tersebut terlihat kampungan.


"Maafkan Aku. Aku tidak sengaja." Jawab Asyiah. Gadis berhijab tersebut bernama Aisyah.


Vira dan Sofia hanya menatap sinis.


"Dasar kampungan ... lihat cara berpakaiannya, kenapa berpakaian serba tertutup begitu." Vira mengejek Aisyah.


"Iya nih. Norak banget." Sofia pun mencibir.


Hanya Suci yang nampak terlihat diam. Suci pun sebenarnya melihat penampilan Aisyah yang menggunakan gamis longgar menutupi seluruh tubuhnya, memakai hijab besar dan terkesan seperti anak santriwati. 


"Tolong jangan menghina cara berpakaian Aku. Aku tidak ada menghina cara berpakaian kalian, jadi ada baiknya kita saling menghormati. Aku sudah minta maaf, jadi Aku permisi." Aisyah pun pamitan dengan sopan sambil mengucapkan salam dan pergi meninggalkan Vira, Sofia dan Suci.


Tidak ada satupun dari mereka bertiga yang menjawab ucapan salam dari Aisyah. Mungkin karena mereka bertiga tidak terlalu mengenal agama, sehingga tidak mengerti. Aisyah pun makin menjauh dari pandangannya mereka bertiga. Vira dan Sofia masih merasa kesal dengan Aisyah tadi. Suci segera mengajak kedua sahabatnya untuk nongkrong bareng di cafe.


"Sudah, jangan bad mood gitu dong. Yuk, ke cafe aja!" ajak Suci.


"Kau sih, Vir, ngapain ngajakin kita ke toko buku? jumpa ustadzah dadakan tadi kan, hahaha." Sofia yang kesal kini malah terkekeh.


"Bikin kesal aja tu orang. Nabrak, pakai ceramah lagi. Bete jadinya." Vira masih kesal.


"Lah, kan kalian berdua yang duluan komentari pakaian dia. Udah ah, kita disini mau happy kan. Yuk ke cafe, habis dari cafe kita karaoke, nonton dan makan-makan." Suci membujuk temannya agar gak bad mood lagi.


"Kau yang bayarkan, Suci?" Vira dan Sofia menatap ke arah Suci.


"Siipp beres."


Akhirnya ketiga gadis tersebut pergi melangkahkan kakinya ke cafe.


***


Waktu menunjukkan akan maghrib, Suci baru saja sampai rumah. Kali ini Papa Suci yang menegurnya. Suci malah tidak memedulikan apa yang diucapkan oleh Papanya. Suci malah melenggang terus melangkah masuk ke kamar dan meninggalkan Papanya di ruang tamu sendirian.


Devan terlihat marah karena Suci seperti tidak mau mendengar. Padahal Devan hanya menegur Suci kenapa baru jam segini baru pulang, dari mana saja dia? Suci malah mengacuhkannya, Devan jadi kesal karena tingkah putrinya tersebut.

__ADS_1


Malam harinya setelah makan malam, Winny masuk ke kamar Suci. Winny menanyakan kepada Suci, "Kak, tadi di sekolah bu guru tanya siapa yang rajin sholat dan mengaji? Winny gak pernah sholat dan gak pernah ngaji, jadi Winny diam saja," ucap bocah kecil tersebut.


Benar sekali, di keluarga mereka tidak pernah ada yang sholat dan mengaji. Waktu kecil juga, Suci tidak pernah diajarin. Jika di sekolah pelajaran agama sangat terbatas waktunya. Kebanyakan hanya berupa penjelasan materi. Suci bingung juga saat si kecil bertanya tentang sholat dan mengaji.


"Emang kenapa, Dek?" Suci memandangi wajah adiknya yang paling kecil.


"Winny malu Kak kalau nanti di tanya guru lagi bagaimana? Kakak ajarin Winny, ya?"


Suci malah makin bingung.


"Kakak juga gak tahu, Dek."


Winny terlihat kecewa dan Suci hanya bisa diam. Keduanya hanya bisa diam dan saling berpandangan. Bagaimana mereka bisa mengerti agama, kalau Papa dan Mama yang mereka harapkan tidak pernah mengajari dan membimbing, hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Soal harta, uang, kekayaan dan segala fasilitas mereka miliki, tetapi keluarga yang hangat, perhatian orang tua serta bimbingan dari orang tua tidak mereka dapatkan. Sungguh keluarga yang kacau balau.


***


Keesokan harinya.


Papa dan Mama sepertinya sedang ada di rumah saat ini. Ketiga anaknya baru pulang malah disambut dengan pertengkaran kedua orangtuanya.


Suci segera menarik tangannya Winny, bahkan dia menutup kedua telinga Winny. "Ayo kita makan dan segera pergi ya, Dek!"


Winny menganggukkan kepalanya. Bima sendiri malah tidak selera makan. Dia beranjak mau pergi saja. Suci melirik ke Bima.


"Mau kemana, Bim? Ayo makan dulu" 


"Enggak Kak. Malas. Bosen dengar Papa dan Mama bertengkar terus. Pulang bukannya nyari anak atau perhatian sama anak, malah ribut sendiri. Kalau gitu ngapain mereka di rumah kalau cuma ribut terus." Usai berkata hal tersebut Bima langsung beranjak pergi. Dia sudah tidak mau peduli dan bersikap cuek saja. 


Hanya Suci dan Winny yang nampak terus ingin melanjutkan makan. Akan tetapi, pertengkaran Papa dan Mama mereka masih terdengar dengan jelas.


"Kamu ini pulang-pulang cari perkara saja!" bentak Devan ke istrinya.


"Kamu sendiri yang pulang ngapain cari ribut sama aku!" suara Marisa tidak kalah meninggi juga.


"Marisa! kamu ini seorang istri dan ibu dari anak-anak kita, seharusnya kamu di rumah lebih sering dan perhatian kepada anak-anak. Urus rumah  dan urus anak-anak!"

__ADS_1


"Enak saja! kamu sendiri sering jarang pulang ke rumah. Rumah sudah ada pembantu yang mengurus. Masalah anak-anak, mereka baik-baik saja."


"Baik? Baik dari mana, Marisa! lihat Suci, dia aja sekolah gak benar. Winny masih kecil gak diperhatikan. Hanya Bima yang nampak lebih mandiri. Dia terus belajar dan belajar. Kamu sebagai istri dan ibu yang gak becus!"


"Gak usah nyolot gitu dong ngomongnya, ya! Papa sendiri aja sering gak ada waktu buat keluarga jadi gak usah nyalahin Mama. Jangan-jangan Papa ada main di luar sana, ya!?"


"Kamu!! jangan sembarangan ya, kalau ngomong!" Devan naik pitam. Tangannya terangkat mau menampar.


"Apa??!! mau pukul??? pukul aja, Mas ... aku gak takut ya sama kamu!" mata Marisa nampak berapi-api juga.


"Berani kamu sama aku!" Devan pun akhirnya menampar wajah Marisa dengan keras. Marisa merasakan sakit di pipinya. Keduanya ribut terus.


Suara tamparan dan suara keributan tersebut membuat Winny dan Suci merasa tidak nyaman. Mereka segera menyelesaikan makan dan kemudian pergi ke kamar mereka berdua. 


Di kamar, Suci menutup telinganya. Dia menangis. Winny terdiam melihat Kakaknya. Winny mendekati Suci. Suci memeluk adiknya. 


***


Malam harinya. Usai bertengkar kedua orang tuanya Suci pergi lagi dari rumah. Entah kemana keduanya, mungkin kembali sibuk bekerja atau entah kemana saja. 


Winny dan Suci sudah makan malam. Bima sendiri juga sudah selesai makan, bahkan dia kembali ke kamarnya. Winny pun ke kamarnya dan tidur.


Hanya Suci yang berniat untuk pergi keluar rumah. Dia masih teringat kejadian Papa dan Mamanya bertengkar lagi dan lagi. Dia merasa bosen dan bad mood. 


Di saat itulah, kedua teman Suci mengajak ke klub malam. Kini ketiganya sudah berada di klub malam.


Vira, Sofia dan Suci berjoget dan minum-minum di klub tersebut. Mereka tidak memedulikan apapun lagi, yang penting happy fun.


Seharusnya anak seusai mereka bertiga tidak boleh masuk ke klub malam, tetapi berhubung Vira punya kenalan di klub dan orang dalam, sehingga mereka bisa masuk dan senang-senang di tempat tersebut.


Namun tiba-tiba polisi datang menggerebek tempat tersebut. Suci, Vira dan Sofia saling pandang.


"Mampus kita ...."


🍀🍀🍀🍀


Mari dukung selalu ya gaes 🤗🤗 di like dan kasih komentarnya ya. Selamat berpuasa ya untuk semua yang menjalankan 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2