
Vira, Sofia dan Suci akhirnya digiring oleh polisi. Mereka bertiga dibawah umur tapi kenapa malah ada di tempat tersebut. Awalnya pihak polisi hanya ingin melakukan pemeriksaan karena dikabarkan ada transaksi narkoba, ternyata malah tidak ada.
Hanya ketiga gadis dibawah umur yang tertangkap oleh polisi. Ketiga gadis tersebut pun kini mendekam di sel. Mereka diberi arahan dan bimbingan serta nasihat, karena tidak pantas anak dibawah umur ditempat club malam tersebut.
Sofia, Vira dan Suci terpaksa mendengarkan semua ocehan pak polisi. Mereka pun harus menginap semalam di sel tersebut. Mereka disuruh merenungi kesalahannya.
Esok paginya barulah diminta kepada orang tua dari masing-masing gadis tersebut untuk menjemput mereka di sel kantor polisi. Orang tua Vira dan Sofia datang menjemput putrinya. Mereka juga kena teguran dari pihak polisi agar lebih mengawasi anak-anak mereka.
Setelah diluar kantor polisi, masih di halaman parkiran, orang tua Sofia dan Vira malah menyalahkan Suci, karena bagi mereka, Suci yang telah membawa pengaruh buruk kepada anak mereka.
"Ini pasti gara-gara Suci! Mama kan udah bilang jangan bergaul dengan Suci, Vira. Kau dengar dong Mamamu ini," ujar Mama Vira sambil melotot marah ke Vira dan sekilas melirik ke Suci.
Suci tersinggung rasanya. Kenapa malah dirinya yang disalahkan? bukankah yang mengajak ke club itu Vira dan Sofia, sungguh tidak adil! keluh Suci dalam hatinya.
"Mama apaan, sih! gak gitu, Ma." Vira membantah perkataan Mamanya.
"Udah. Jangan bandel lagi. Ayo kita pulang!"
Vira diseret oleh Mamanya dan masuk ke mobil. Kemudian mereka pergi. Begitu juga dengan Mama dari Sofia, sama saja menyalahkan Suci.Ā
"Sofia, Mama udah bilang jangan suka bergaul sama anak yang gak bener kok masih saja, sih, kamu ini bandel!! lihat jadi berurusan dengan polisi, kan!! sudah, ayo pulang! Mama potong uang jajan kamu!"
"Yah Mama ...."
Sofia dijewer telinganya sama Mama Sofia, mereka pun segera masuk mobil dan pergi.
Tinggallah Suci sendirian. Sedih rasa hati Suci. Kenapa orang tua dari Vira dan Sofia malah menyalahkan dirinya. Perasaan Suci tersinggung oleh perkataan dari orang tua Vira dan Sofia. Dia tidak suka disalahkan. Namun dia memilih diam saja.
Suci malah tidak ada yang menjemput. Seketika dia malah merasa teman-temannya beruntung, walaupun dimarahi tapi orang tuanya masih peduli. Sedangkan dia, malah tidak ada yang peduli. Mama dan Papa Suci tidak ada satupun yang datang menjemputnya.
Seketika air mata Suci luruh dan membasahi pipinya Suci. Suci pun pulang menggunakan taksi yang kebetulan dia temukan di pinggir jalan.
__ADS_1
***
Siang hari di rumah.
Winny baru pulang sekolah. Dia melihat seisi rumah begitu sepi. Sepertinya kakaknya tidak pulang dari semalam dan bang Bima malah belum pulang sekolah. Kemungkinan Bima ada eskul sampai sore.
Winny masuk kamar dan berganti pakaian. Setelah itu dia pergi ke dapur mau makan. Akan tetapi, pandangan Winny terhenti melihat bik inem sedang sholat kemudian mengaji.
Winny melihat dan memperhatikan. Setelah bik inem selesai, Winny pun mendekat dan memanggil bik inem.
"Bibik udah selesai?"
Bik inem melirik ke asal suara. Terlihat Winny didekatnya.
"Eh, Non Winny. Iya Non, udah selesai. Non ada perlu ya atau mau makan, Non?"
"Winny mau minta tolong boleh gak, Bik?" pandangan Winny begitu penuh harap. Bik Inem tersenyum ramah.Ā
"Tadi Winny lihat Bibik sholat dan setelah itu mengaji, jadi Winny mau minta tolong bibik ajarin Winny ya, Bik. Agar Winny bisa pandai sholat dan mengaji." Permintaan Winny adalah mau belajar sholat dan mengaji.
Bik inem mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh, Kok nona kecil di rumah ini malah mau belajar sholat dan mengaji kepada dirinya yang hanya seorang pembantu.
Rumah Pak Devan dan Nyonya Marisa bagitu besar dan mewah. Banyak pembantu serta tukang kebun dan satpam yang bertugas sebagai penjaga. Supir yang bertugas mengantar ketiga anak tuannya pun telah disediakan. Intinya semua sudah tersedia dan lengkap. Jadi semua penghuni rumah terlayani keinginan mereka.
Namun kenapa tiba-tiba nona kecil mau belajar sholat dan mengaji, ya? Inem masih bingung.
"Bik?" Suara Winny membuyarkan Inem dari lamunannya.
"I-iya, Non. Boleh kok, tapi kok malah belajar sama Bik Inem, Non?"
"Winny gak mungkin tanya Papa dan Mama. Soalnya Papa dan Mama sering gak di rumah. Lagian Winny gak pernah lihat mereka sholat dan mengaji. Nanya Kak Suci malah gak tahu. Tanya Bang Bima sama aja, malahan dia terlalu sibuk dengan belajar dan dunianya sendiri. Jadi ajari Winny ya, Bik." Mata Winny berkaca-kaca.
__ADS_1
"Winny mau belajar sholat dan mengaji serta mengenal islam, Bik," tambah ucap Winny kembali.
Bik inem tersenyum. Sungguh dia tersentuh karena nona kecil malah mau belajar agama. Inem pun langsung mengiyakan. Kasian juga dia dengan keluarga majikannya ini. Sering bertengkar dan ribut, anak majikan sering terlantar, bahkan masalah agama tidak ada yang tahu di keluarga majikannya. Miris sekali Keluarga ini. Namun Inem hanya bisa diam tidak banyak komentar, karena bagaimanapun dia hanya seorang pembantu yang bekerja di rumah tersebut.
Inem pun sudah menyetujui sehingga mulai hari itu Winny akan setiap hari belajar sholat dan mengaji serta belajar agama Islam dari Bik inem. Setiap hari setelah Winny pulang sekolah. Inem pun senang bisa membantu nona kecilnya.
***
Beberapa minggu kemudian, rumah Suci kembali dihebohkan oleh kedua orang tuanya. Pasalnya kedua makin ribut besar. Suci, Bima dan Winny yang kebetulan ada di rumah mendengar kembali pertengkaran kedua orang tuanya. Malah kali ini bukan tamparan ataupun perang mulut lagi, tapi sudah sampai melempar semua barang yang ada disekitarnya.
Banyak barang di rumah hancur dan rusak serta berserakan akibat pertengkaran Papa dan Mama Suci. Keduanya kali ini sangat parah keributannya.
"Aku ingin cerai!" teriak Marisa pada akhirnya.
"Baik, kalau begitu ayo kita bercerai saja!" jawab Devan pula.
Seketika itu, Bima, Suci dan Winny berlari mendekati kedua orang tuanya. Mereka melihat kekacauan yang telah dibuat dan terjadi akibat kedua orang tuanya.
Jantung Suci berdebar hebat, karena mendengar kata perceraian dari mulut orang tuanya. Dia tidak pernah menyangka kalau keluarga mereka akan seperti ini.
"Kalau anak-anak bagaimana?" Marisa mulai bertanya.
"Bima ikut aku, kalau Winny dan Suci terserah." Devan lebih memilih Bima yang dianggapnya lebih baik. Karena Bima selalu sibuk belajar, nilai-nilai sekolah Bima pun selalu membanggakan bagi Devan.
"Fine. Kalau begitu Winny yang akan ikut denganku. Kami akan pergi ke Inggris setelah kita bercerai." Marisa sudah tidak peduli lagi akan pernikahan mereka. Dia sudah lelah dan mau berpisah saja. Devan pun ternyata sama mau berpisah juga.
Namun yang paling sedih disini adalah Suci. Baik Papa dan Mamanya tidak ada yang menginginkan dirinya. Air mata Suci pun luruh membasahi kedua pipinya. Hati Suci terasa sakit, terluka dan sesak. Dia serasa sulit bernapas.
"Tidak ada yang menginginkan Aku, kah?"
šššš
__ADS_1
Mari dukung ya gaes š¤ Di like dan kasih komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya yang menjalankan puasa š