Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 6.


__ADS_3

"Jangan!"


Aisyah dan Bagus yang kebetulan melintas melihat Suci yang mau melompat. Mereka segera berlari ke arah Suci dan mencegahnya bunuh diri.


Suci yang mau melompat ditahan oleh Aisyah dan Bagus. Aisyah menarik tangan Suci. Dia menahan tubuh Suci. Suci meronta-ronta minta dilepaskan, dia bahkan menangis. Namun, Aisyah tidak melepaskan. Aisyah malah berusaha menenangkan Suci.


"Lepaskan aku! biarkan aku mati saja. Hiks." Suci memberontak.


"Tidak. Bunuh diri adalah perbuatan dosa. Sabar dan tenanglah. Menangis saja jika itu lebih baik," ucap Aisyah ke Suci. Suci semakin menjadi-jadi menangis, dia bahkan tidak peduli lagi jika menjadi tontonan Aisyah dan Bagus.


Suci pun menangis dalam pelukan Aisyah. Aisyah membiarkannya. Bagus mengambil tas Suci yang jatuh ke tanah. Dia menunggu kedua wanita tersebut dan membiarkan keduanya berpelukan.


Setelah Suci lebih tenang, dia berhenti menangis. Aisyah membujuknya untuk pulang. Suci terdiam dan terlihat bingung, dia mau pulang ke mana? sudah tidak ada tempat lagi untuk dirinya.


Aisyah melihat keraguan dan kebimbangan. Aisyah tersenyum.


"Mau ikut dengan kami saja? oh iya, namaku Aisyah." Aisyah mengulurkan tangannya.


Suci menyambut tangan Aisyah. "Aku Suci."


"Nama yang bagus dan cantik sesuai seperti orangnya." Aisyah tersenyum ramah.


"Kalau pria ini Mas Bagus namanya." Aisyah memperkenalkan diri Bagus. Suci mengulurkan tangannya, tetapi Bagus tidak bersentuhan dengan lawan jenis. Dia hanya menangkup kedua tangannya di dekat dadanya, seperti dua telapak tangan menempel/menyatu. Itulah cara Bagus dalam memperkenalkan dirinya, "Aku Bagus Pratama."


Suci menarik tangannya, "Sombong sekali." Suci bergumam pelan. Suci mengira Bagus sombong, dia tidak paham masalah lawan jenis dilarang bersentuhan jika bukan mahramnya.


Bagus melihat Suci, dia seakan pernah melihat Suci. Namun, dia lupa di mana dan kapan. Suci masih diam dan Aisyah akhirnya kembali bertanya kepada Suci.


"Kalau tidak ada tempat tujuan, ikutlah bersamaku, ya?"


"Baiklah." Setelah ragu-ragu akhirnya Suci mengiyakan, karena dia sudah tidak tahu harus ke mana jadi Suci ikut saja dengan Aisyah.


Pergilah mereka bersama-sama. Bagus, Suci dan Aisyah mereka berangkat pulang bersama. Suci tidak tahu mau dibawa ke mana, tetapi dia mengikuti Aisyah saja. Setelah cukup lama perjalanan dan panjang, sampailah di sebuah tempat yaitu pondok pesantren yang bernama Ar-Rahman. Tempat pesantren tersebut cukup jauh dari kota dan keramaian. Perlu satu jam setengah barulah sampai ke kota besar.


Aisyah membawa masuk Suci. Suci agak ketakutan dan ragu, tetapi Aisyah menyakinkan kalau tidak apa-apa. Bagus pun ikut masuk. Bagus menyerahkan tas Suci. Seorang pria tua yang sudah paruh baya datang mendekat, namanya Kiyai Yusuf.


"Abah, Aisyah sudah pulang." Aisyah langsung mencium tangan Kiyai Yusuf.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Nak." Kiyai Yusuf tersenyum lembut kepada putrinya. Aisyah adalah putri dari Kiyai Yusuf.


"Bagus permisi masuk dahulu Kiyai." Bagus juga mencium tangan Kiyai Yusuf.


"Terima kasih ya, Bagus. Berkat Bagus nemani Aisyah jadi aman diperjalanan. Ya sudah masuk dan istirahat." Kiyai Yusuf menyuruh Bagus masuk untuk istirahat. Bagus pun permisi masuk setelah mengucapkan salam. Kiyai Yusuf dan Aisyah menjawab salam Bagus.


Setelah kepergian Bagus, Aisyah mengenalkan Suci kepada Ayahnya.


"Bah, ini teman Aisyah. Dia akan tinggal di sini bersama kita. Abah izinkan, ya?"


"Baiklah. Bawa masuk saja."


Aisyah pun menggandeng tangan Suci dan mereka pun masuk ke dalam pesantren, terus menuju arah kamar, untuk mandi dan istirahat.


Kiyai Yusuf sendiri kembali berkeliling pondoknya. Kiyai Yusuf adalah pemilik pondok pesantren Ar-Rahman. Jadi sekarang dia mau berkeliling melihat kondisi sekitar pesantren.


***


Suci pun mulai tinggal di pondok pesantren tersebut. Dia sebenarnya tidak terbiasa karena suasana di tempat tersebut sangat asing bagi Suci. Baru dua hari Suci tinggal di tempat tersebut, tetapi dia sudah mulai terasa tidak betah. Pagi buta harus bangun. Sholat subuh, masak, bersih-bersih halaman, dan menyapu juga.


Nanti akan ada sarapan bersama. Kemudian siang akan sholat zuhur lanjut makan siang bersama dan tidak lupa bagi yang cewek masak dan mencuci piring kotor. Sore sholat asar dan waktu petang menjelang gelap sholat magrib kemudian makan malam bersama dan malam sholat isya berjamaah.


Kebiasaan sholat lima waktu tersebut, mengaji dan semua yang dilakukan semua orang di pesantren tersebut membuat Suci terasa asing. Dia sungguh tidak terbiasa dan merasa tidak betah.


Namun, Suci tetap tinggal di tempat tersebut karena sudah tidak ada tempat lain. Jadi Suci hanya berusaha bertahan. Aisyah juga begitu baik kepada Suci. Suci jadi segan.


Dalam dua hari tinggal di tempat tersebut, Aisyah cukup heran dengan Suci yang lebih banyak berdiam diri dan tidak ngomong ke siapa pun. Suci terlihat tidak mau dekat dengan yang lainnya. Aisyah bahkan beberapa kali mengajaknya sholat bersama dan mengaji, tetapi Suci menolaknya dengan berbagai alasan.


"Suci, sholat yuk?" ajak Aisyah kembali.


"Duluan saja, Aisyah."


"Kenapa gak pernah ikut sholat bersama, Suci? lebih baik berjamaah."


Suci mengerutkan keningnya.


"Nanti setelah itu kita akan mengaji bersama juga sama anak-anak lain. Yuk."

__ADS_1


Suci masih terdiam. Aisyah menunggu Suci.


"Maafkan aku, Aisyah. Aku tidak bisa sholat dan mengaji." Suci menundukkan kepalanya.


Aisyah terkejut. Jadi inilah alasan sebenarnya. Aisyah hanya bisa istigfar di dalam hatinya. Dia tetap tersenyum. Aisyah kasihan kepada Suci yang sudah sebesar dan setua ini malah tidak bisa beribadah.


"Kalau begitu ikutlah denganku, Suci. Mari belajar agama Islam." Aisyah mengajak Suci. Suci masih ragu. Dia tidak tahu, apa bisa atau tidak. Pantas atau tidak baginya. Dia begitu tersesat dan banyak dosa, apa pantas baginya. Suci saja meragukan dirinya.


"Nanti saja, Aisyah." Suci kembali menolak.


Aisyah pun tidak memaksa. Aisyah pun pergi dan Suci sendirian di teras rumah Aisyah. Rumah Aisyah dan Kiyai Yusuf berada di dalam pondok pesantren tersebut dan tidak jauh lokasinya dari tempat para santri belajar dan tempat tidur para santri. Tempat para Ustadz dan Ustadzah pun tidak jauh dari rumah Kiyai Yusuf.


Aisyah dan Kiyai Yusuf hanya tinggal berdua saja, karena ada Suci maka sekarang mereka tinggal bertiga. Suci satu kamar dengan Aisyah.


Dalam kesendirian, Suci termenung sambil menatap bulan dan bintang yang nampak cerah malam itu. Azan Isya berkumandang waktunya untuk ibadah bagi yang beragama Islam. Suci sekarang sering mendengar azan tersebut berkumandang semenjak tinggal di dekat pondok pesantren tersebut.


Suci merasa ada yang kurang, tetapi dia tidak tahu apa itu. Hatinya serasa kosong. Dua orang gadis melewati teras rumah Kiyai Yusuf. Rara dan Kania sedang lewat, Kania menunjuk dan Rara melihat arah yang ditunjuk oleh Kania.


"Apaan?" Rara nampak bingung.


"Itu cewek siapa? beberapa kali aku melihatnya." Kania penasaran siapa gadis di rumah Aisyah.


"Mungkin dia gadis yang dibawa Aisyah, Mas Bagus dan seluruh anggota pondok kan sudah tahu," ujar Rara kepada Kania.


"Jadi itu dia, ya? kok modelnya kayak gitu ya. Lihat pakaiannya, terlalu ketat dan memperlihatkan bentuk tubuh serta aurat. Cewek gak benar kayaknya."


"Hush ... tidak boleh begitu. Berbaik sangka saja."


Mereka berdua melihat ke Suci dan mengucapkan salam, tetapi Suci hanya diam. Tiba-tiba tubuh Suci menggigil dan dia seperti sudah tidak tahan. Kania dan Rara menatap aneh ke arah Suci.


Suci sedang merasakan gejala kecanduan. Selama ini dia memakai narkoba. Dua hari ini dia di pesantren dan tidak ada barang haram tersebut. Suci sekarang berkeringat dingin rasanya dan dia merasakan candu yang menyakitkan.


"Kau kenapa?" Rara mendekat dan mau memeriksa keadaan Suci.


"Pergi kalian!" bentak Suci yang membuat Rara dan Kania kaget bukan main.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


Mari dukung ya gaes šŸ¤— kasih like dan komen ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya šŸ¤—šŸ™šŸ™


__ADS_2