Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 7.


__ADS_3

Suci membentak Rara dan Kania. Rara dan Kania kaget sekali. Mereka tidak menyangka kalau sikap Suci akan seperti itu. Awalnya Rara hanya ingin mencoba bertanya ada apa dengan Suci, tetapi Suci malah bersikap kasar kepada mereka berdua.


"Lihat Ra, gadis itu malah marah-marah kepada kita dan menyuruh pergi. Ayo kita pergi saja!"


Kania sudah mau menarik tangannya Rara, tetapi Rara masih belum mau pergi. Dia mencemaskan keadaan Suci.


"Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit? Jika iya, biar kami bantu. Kelihatannya kau sangat kesakitan." Rara masih mencemaskan Suci.


Suci merasakan sakit dan tidak enak disekujur tubuhnya. Dia memerlukan ganja yang biasa dia konsumsi. Tubuhnya sudah candu. Dua hari ini di pesantren saja, dia sudah sangat tersiksa. Kini tubuh Suci seakan tidak bisa lagi menahan akan candu narkoba tersebut.


Kiyai Yusuf, Aisyah, Bagus dan Zaki bersamaan sampai ke rumah Kiyai Yusuf. Mereka melihat Rara, Kania dan Suci serta melihat kondisi Suci yang tidak baik. Aisyah berpikir kalau Suci mungkin sakit. Dia segera menghampiri Suci, sedangkan Kiyai Yusuf, Bagus dan Zaki hanya menatap heran ke arah Suci.


"Suci, kau kenapa? Apa kau sedang sakit?" Aisyah merasa cemas melihat kondisi Suci saat ini.


Suci melihat ke arah Aisyah. Dia berkeringat dingin. Badannya serasa menggigil. Suci pun malah mendorong Aisyah pergi menjauh.


"Pergi kau! jangan dekat-dekat denganku!"


Aisyah, Kiyai Yusuf, Bagus dan Zaki begitu kaget mendengar ucapan dari Suci. Kania dan Rara masih di tempat tersebut, mereka melihat aneh ke arah Suci.


"Kau kenapa Suci? Jika kau perlu sesuatu katakan saja kepadaku"


Namun, Suci tidak menjawab. Dia serasa sudah tidak tahan. Dia mulai menjadi menggila. Semua yang melihat ketakutan akan sikap Suci. Bahkan karena keributan yang dibuat oleh Suci malah membuat semua penghuni pondok pesantren berdatangan. Baik para santriwati dan para santriwan serta Ustadz dan Ustadzah pun datang.


Suci merasa gelisah. Pada titik ini Suci serasa sudah tidak bisa menahan diri. Suci mulai bertindak diluar logika. Dia mulai marah-marah tidak jelas dan ucapannya seperti rancu sekali.


Aisyah semakin heran dengan sikap Suci.


"Kok seperti orang yang sudah kecanduan narkoba, ya?" Kania berucap asal sembarangan, tetapi ucapannya membuat semua orang yang mendengar mulai sadar akan kondisi Suci.


Aisyah segera berlari mendekati Suci, ayahnya melarang, tetapi Aisyah berpikir kalau Suci perlu ditolong.

__ADS_1


"Nak, berbahaya mendekati orang yang sedang candu seperti itu." Kiyai Yusuf melarang anaknya.


"Abah, disaat seperti inilah kita tidak bisa menjauhi Suci. Suci perlu ditolong dan kita harus selalu di samping Suci, Abah." Aisyah berusaha menjelaskan ke ayahnya dan Kiyai Yusuf pun menganggukkan kepalanya karena setuju dengan perkataan Aisyah.


Aisyah mendekati Suci, dia mulai berbicara dan membujuk Suci. Akan tetapi, Suci hanya marah-marah bahkan kini dia sudah mulai melempar barang-barang yang kebetulan dia pegang. Benda apa saja bisa dilempar Suci.


Tindakan tersebut malah terlihat berbahaya, membuat Kiyai Yusuf cemas melihat putrinya. Dia pun meminta Bagus untuk membantu Aisyah. Bagus segera menuruti perintah Kiyai Yusuf. Dia maju mendekat ke arah Aisyah dan Suci.


Aisyah masih terus berusaha mendekat, tetapi susah karena Suci terus memberontak. Bagus datang dan mulai bergerak cepat. Dia menahan tangan Suci dan menguncinya. Bahkan membuat Suci tidak bisa bergerak. Kesempatan ini dipakai Aisyah untuk meminta Bagus membawa Suci masuk ke dalam kamarnya.


Aisyah, Suci dan Bagus, mereka bertiga masuk ke dalam kamar Aisyah. Aisyah meminta kepada Bagus untuk menahan Suci. Bagus pun menganggukkan kepalanya. Aisyah keluar sebentar untuk mencari tali pengikat. Mereka perlu mengikat Suci.


Di saat Suci masih ditahan oleh Bagus, dia masih berontak dengan keras. Berbicara kasar dan marah-marah, karena terus berontak dengan terpaksa Bagus memeluk tubuh ramping milik Suci. Dia berusaha menahan Suci seperti itu.


Tidak ada yang berani mendekat, hanya Aisyah dan Bagus yang berani mendekati Suci yang kumat karena candu akan narkoba. Suci menggigit tangan Bagus, Bagus menahan rasa sakit yang ada.


Aisyah pun kembali dengan membawa tali. Saat masuk kembali, Aisyah kaget melihat Bagus memeluk Suci, tetapi dia juga digigit oleh Suci sampai tangan terluka.


Bagus dan Aisyah hanya bisa istigfar melihat kondisi keadaan Suci. Aisyah merasa prihatin melihat Suci. Aisyah baru tahu kalau Suci adalah pengguna dan candu akan ganja atau narkoba (benda haram) tersebut.


Aisyah melihat ke arah Bagus.


"Terima kasih, Mas Bagus."


"Sama-sama Aisyah.


"Mas, gak apa-apa kah? tangannya terluka?"


Aisyah melihat luka Bagus. Aisyah mau melihat, tetapi Bagus segera menghindar menjauh. Dia takut bersentuhan dengan Aisyah. Tadi Bagus memeluk Suci dan bisa bersentuhan dengan Suci karena itu dalam keadaan sedang tersedak serta mau menolong Suci. Tidak ada niat lain.


"Ah, maafkan aku, Mas." Aisyah menyadari kalau mereka tidak boleh saling bersentuhan. Dia juga sudah mengerti akan hal tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Aisyah. Kau jaga saja Suci. Aku akan kembali dengan Zaki. Biar Zaki membantuku mengobati tanganku. Pertemuan dengan Kiyai Yusuf hari ini di rumah diganti lain hari saja."


"Baiklah, Mas."


"Permisi ya, Aisyah." Bagus pamitan dan mengucapkan salam, Aisyah menjawab salam dari Bagus.


Bagus keluar dan bertemu Zaki di luar rumah. Kiyai Yusuf bertanya kepada Bagus. Bagus berkata sudah tidak apa-apa. Kiyai Yusuf kemudian meminta kepada semuanya agar kembali ke tempat masing-masing. Semua pun dibubarkan. Rara dan Kinan pun kembali ke asrama para santriwati. Zaki  dan Bagus juga pamitan kepada Kiyai Yusuf serta mengucapkan salam. Kiyai Yusuf menjawab salam dan dia pun masuk ke dalam rumah.


***


Situasi semakin gawat, sudah tiga hari berlalu dan Suci masih bersikap memberontak. Aisyah memberikan makan, tetapi Suci menolak dan marah-marah. Aisyah bingung harus bagaimana menolong Suci. Aisyah bertanya ke ayahnya. Kiyai Yusuf menyarankan tempat rehabilitasi kecanduan narkoba. Hanya tempat tersebut yang cocok untuk Suci saat ini.


Aisyah menggeleng. Aisyah berpikir kalau mereka harus selalu disisi Suci. Aisyah bukan tidak mau menuruti saran ayahnya, hanya saja Aisyah berpikir kalau Suci tidak boleh ditinggalkan.


"Abah, bagaimana menurut Abah tentang kasus Suci?" keduanya saat ini sedang duduk di ruang tamu.


"Sebaiknya kita bawa ke tempat rehabilitasi kecanduan narkoba, Aisyah." Kiyai Yusuf menyarankan.


"Tidak Bah, bukan Aisyah tidak mempertimbangkan saran Abah. Hanya saja sepertinya kita tidak bisa meninggalkan Suci di tempat tersebut sendirian. Maafkan Aisyah, Abah." Aisyah berbicara lemah lembut.


"Abah mengerti, Aisyah memang gadis baik hati. Abah bangga dengan putri Abah satu-satunya ini." Kiyai Yusuf tersenyum kepada Aisyah. Aisyah juga tersenyum lembut.


Suara gaduh kembali terdengar, suara tersebut dari arah kamar Aisyah. Aisyah dan Kiyai Yusuf pun segera bergegas ke arah kamar. Betapa kagetnya mereka melihat kondisi Suci saat ini.


"Suci, apa yang kau lakukan?"


Aisyah melihat Suci sengaja melukai tangannya sendiri dan dia menghisap darah segar yang mengalir dari tangannya. Bahkan ada beberapa gigitan yang dilakukan Suci yang membuat lengannya terluka dan berdarah.


Sungguh suasana mengerikan. Aisyah dan Kiyai Yusuf mengucapkan kata istighfar melihat kondisi Suci.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Mari dukung ya gaes 🤗 kasih like dan komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya 🤗🙏🙏


__ADS_2