Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 9.


__ADS_3

"Bagaimana Ustadz? bagus gak?"


Bagus malah tertegun dan terdiam melihat Suci. Suci mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan pandangan mata dan ekspresi dari wajah Bagus.


Suci makin mendekat dan berucap kembali di hadapan Bagus.


"Ustadz, kok bengong sih? bagaimana bagus atau jelek."


"Cantik kok. Cantik sekali." Bagus tersenyum lembut. Dia tersadar setelah Suci menggoyang lengan Bagus. Suci pun senang dipuji seperti itu. Suci tersenyum bahagia.


Namun, Bagus segera mengambil jarak agak menjauh dari Suci. Suci mengerutkan keningnya.


"Loh, kok jauh-jauh sih, Ustadz?"


"Biar tidak bersentuhan lagi."


Seketika Suci cemberut. "Dasar pria katrok," ucap Suci dalam hatinya.


Bagus menyuruh Suci duduk dan Suci menurutinya. Bagus kembali mengajari Suci membaca huruf hijaiyah. Suci pun mulai belajar dengan lebih serius lagi.


Begitulah seterusnya, setiap hari Suci akan belajar dengan Bagus di sore hari. Suci dikenalkan huruf hijaiyah terlebih dahulu. Setelah itu baru membaca iqro. Bagus mau Suci mengenal dan mengetahui dari dasar. Kemudian Bagus mengajari beberapa pelajaran tentang agama Islam. Suci mendengarkan semua penjelasan dari Bagus. Suci juga sesekali berlatih sendiri mengaji iqra. Iya, masih dasar sekali yang dipelajari Suci. Syukurlah Suci tergerak hatinya kini mau mempelajari semua itu. Nanti kalau Suci sudah pandai maka akan diajari membaca Al-Qur'an juga.


Bagus juga mengajarkan cara mengambil air wudhu untuk salat. Bagus juga mengajari bacaan serta gerakan salat. Suci memperhatikan dengan serius dan mempraktikkan dengan sungguh-sungguh.


Bagus tersenyum dengan tekad Suci yang kuat serta sungguh-sungguh. Bagus bisa melihat kalau Suci sudah lebih serius dan tidak main-main lagi dalam belajar ibadah dan agama Islam.


Keduanya jadi sering bertemu dan semakin dekat.


***


Aisyah melihat Suci baru tiba di rumah. Suci pun langsung duduk di kursi yang ada di sebelah Aisyah. Aisyah tersenyum dan mulai bertanya.


"Bagaimana Suci?"


"Belajarnya menyenangkan. Aku suka." Suci tersenyum.


"Alhamdulillah, lalu sekarang apa perasaannya yang Suci rasakan?"

__ADS_1


"Lebih tenang dan tentram, Aisyah. Terima kasih, ya. Kau sudah banyak membantuku." Suci sangat berterima kasih kepada Aisyah. Syukurlah dia bertemu Aisyah dan Aisyah banyak menolongnya, jika tidak, entah bagaimana nasib Suci. Mungkin saja bisa makin tersesat dan bergelimang dosa.


Suci sangat bersyukur berkat Aisyah kini banyak perubahan yang ada pada diri Suci.


"Alhamdulillah. Sama-sama, Suci. Aku senang dan bahagia bisa membantumu."


"Aisyah, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Kalau tidak salah di toko buku, ya?" Suci sepertinya memang pernah bertemu Aisyah sebelumnya, kejadiannya pun sudah lama. Kini Suci mencoba menanyakan kepada Aisyah.


Aisyah diam dan berpikir sebentar.


"Oh iya, kau dengan dua temanmu itu kan? Yang kalian sempat marah dan aku minta maaf. Wah, ternyata kita malah berjodoh bertemu kembali." Aisyah menepuk pelan keningnya. Dia baru menyadarinya.


"Aku tidak ada ikutan memarahi ya, Aisyah. Namun, aku tidak sangka kalau kau lah penyelamatku. Terima kasih. Aku sangat berhutang budi. Kalau tidak, mungkin aku sudah mati konyol dan terus berbuat dosa." Suci menundukkan kepalanya.


Aisyah tersenyum dan memegang kedua tangan Suci.


"Jangan terlalu dipikirkan ya. Kita sama-sama umat Islam harus saling menolong. Lupakan masa lalu. Sekarang berbenah diri menjadi lebih baik. Oke." Aisyah mengedipkan matanya sebelah dan tersenyum lembut kepada Suci.


Suci merasakan kehangatan dari Aisyah. Dia sangat senang bisa kenal dan bertemu Aisyah. Bagi Suci, Aisyah adalah penolongnya.


"Kita adalah teman, ya kan?" Aisyah memandang Ke arah Suci.


Aisyah dan Suci saling berpelukan hangat.


Berkat Aisyah, Suci bisa berubah. Berkat Bagus pula, Suci jadi belajar Islam. Kehangatan Aisyah dan Kiyai Yusuf sangat membuat hati Suci tersentuh. Suci merasakan kehangatan keluarga yang tidak dia dapatkan selama ini.


Suci senang bisa berada di dekat Aisyah dan keluarganya. Suci bersyukur telah dibawa ke pondok pesantren tersebut. Di tempat itulah, dia belajar Islam.


***


Suci sedang membantu Aisyah mencuci piring kotor dan menyiapkan makanan. Mereka mau memasak di dapur. Kania dan Rara ikut serta hadir. Rara dan Kania memotong sayuran serta mengiris bawang dan cabai. Suci dan Aisyah yang selesai mencuci piring kemudian mau meletakkan piring-piring tersebut ke tempatnya. Setelah itu mereka membantu yang lain yang mau menyiapkan masakan.


Kania melihat ke arah Suci. Sesungguhnya Kania kurang menyukai Suci. Kania heran, kenapa pihak pesantren menerimanya. Aisyah juga begitu baik terhadap Suci. Kania sungguh tidak habis pikir.


"Ra, Aisyah kenapa baik banget sih sama itu cewek? cewek pecandu itu, kan?"


"Kania, tidak boleh seperti itu. Dia sudah menjadi bagian anggota pesantren kita. Lagian Suci sudah sembuh dari kecanduannya. Lihat dia, sudah lebih baik. Sudah berhijab dan pakai gamis. Cantik lagi."

__ADS_1


" Kau terlalu memuji dia, Rara. Dia kan cuma pakai baju Aisyah, pinjam. Lagian nanti itu cuma kedok saja. Aslinya mana kita tahu." Kania tidak sependapat dengan Rara teman satu kamarnya.


Rara hanya menghela napas dan menggeleng. Kania tetap dengan pikirannya, kalau Suci bukan gadis baik-baik.


"Berbaik sangka saja, Kania," ucap Rara kepada Kania. Kania diam dan melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang.


Aisyah mengajari Suci memasak. Ternyata Suci tidak pandai memasak. Dulu dia hidup serba kecukupan jadi pembantu yang menyiapkan semuanya. Saat diabaikan orang tuanya, Suci hanya makan seadanya atau beli di warung. Terkadang makan mie instan saja. Saat sudah terkenal, dia kembali hidup serba cukup dan pembantu yang menyiapkan segalanya.


Namun, sekarang Suci harus belajar mandiri dan melakukan semuanya sendiri. Aisyah ikut serta membantu Suci.


"Tidak pandai memasak ya, Suci?"


"Tidak."


"Tenang saja, Aisyah akan mengajari Suci memasak jadi kelak Suci bisa jadi istri baik untuk suamimu. Insyaallah jadi Suci bisa jadi istri yang salihah, ya." Aisyah tersenyum.


Suci tertegun mendengar ucapan Aisyah.


"Aku tidak mau menikah!"


Perkataan spontan dari Suci tersebut membuat Aisyah terbengong karena kaget. Aisyah memandang ke arah Suci dengan sangat lama.


"Kenapa?" tidak tahan juga akhirnya Aisyah bertanya.


"Ada yang membuatku trauma, Aisyah. Aku sulit mempercayai akan kata pernikahan dan cinta." Suci teringat akan kedua orang tuanya dan keluarga yang akhirnya hancur berantakan. Dia juga dilupakan dan diabaikan. Bahkan dikhianati oleh kekasihnya. Bukan sekarang sudah mantan kekasih.


Semuanya meninggalkan Suci dan melupakannya. Suci berharap semoga adik-adiknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.


Aisyah melihat Suci dengan pandangan penasaran. Sepertinya sangat pelik yang pernah dialami oleh Suci. Aisyah ingin bertanya, tetapi dia takut menyinggung perasaan Suci atau menyakiti dirinya yang mengingat masa lalu.


Aisyah akan menunggu sampai Suci sendiri yang akan cerita kepadanya.


"Sudah. Lupakan , ya. Kita lanjut masak saja." Aisyah tersenyum dan Suci pun tersenyum.


Tiba-tiba ponsel Suci berdering, Suci melihat ponselnya. Dia kaget melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€

__ADS_1


Mari dukung ya gaes šŸ¤— kasih like dan komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya šŸ¤—šŸ™šŸ™


__ADS_2