
Devan, Marisa, Winny, dan Bima melihat ke arah Suci. Mereka semua mendengar ucapan dari Suci. Saat itulah Devan dan Marisa sadar kalau anak-anak telah mendengar keributan dan perkataan mereka berdua.
Devan melihat ke arah Bima.
"Bima, kau ikut Papa nanti setelah Papa dan Mama berpisah."
"Tapi Pa, Kak Suci bagaimana?" tanya Bima dan Bima menatap sedih ke arah Suci.
"Terserah dia," jawab Devan. Dia tidak peduli lagi dengan Suci yang dianggapnya sebagai anak yang tidak bisa diatur dan nakal. Devan lebih memilih Bima yang ikut bersamanya.
Bima terdiam menatap sedih kepada Suci. Kali ini Winny berkata ke Mamanya, "Ma, Kak Suci ikut sama kita, ya?"
"Enggak. Siapa yang mau dengan anak nakal dan sering membuat masalah serta tidak bisa diatur. Yang ada aku akan selalu dibuat susah olehnya." Marisa lebih memilih dan sayang kepada Winny yang dianggapnya lebih bisa diatur karena masih kecil dan penurut.
Suci semakin sakit hati mendengar perkataan dari Papa dan Mamanya.
"Baik. Kalau memang tidak ada yang menginginkan aku maka aku akan pergi saja dari rumah ini. Tapi satu yang mau ku katakan, kalau kalian tidak menginginkan aku, lalu kenapa aku dilahirkan ke dunia ini, jika akhirnya kalian tinggalkan dan kalian abaikan aku sekarang?! aku pergi. Selamat tinggal semuanya. Semoga kalian berbahagia!"
Usai berkata hal tersebut Suci langsung berlari ke arah kamarnya sambil masih terisak menangis. Di dalam kamar Suci segera mengemasi barang-barangnya. Dia akan pergi dari rumah ini.
Winny menangis dan mengejar Suci, dia ikut berlari ke kamar Suci, "Kakak ...."
Bima sedih melihat nasib keluarga mereka sekarang. Dia menatap dua orang paling egois di rumah ini.
"Pa, Ma ... Bima biasanya gak peduli apapun yang kalian ributkan selama ini di rumah, tapi kali ini Bima sungguh kecewa sama Papa dan Mama. Kalian sudah mengabaikan kami selama ini dan sekarang malah menyakiti kami. Kami ini anak-anak kalian, tapi kalian telah mengabaikan dan melukai kami. Apa kalian tidak sadar telah melukai Kak Suci juga??"
Bima sungguh kecewa melihat tindakan kedua orang tuanya. Bima berlari ke arah kamar Suci juga, dia ingin mencegah Suci pergi. Devan dan Marisa hanya diam. Mereka masih mempertahankan egonya masing-masing.
__ADS_1
Di dalam kamar Suci, Suci telah selesai mengemasi semua barang yang mau dia bawa pergi. Winny berdiri di dekat pintu kamar Suci sambil menangis. Suci menoleh ke arah Winny. Suci langsung memeluk adiknya. Bima baru saja sampai di kamar Suci, dia melihat ke arah Winny dan Suci, keduanya saling berpelukan sambil menangis.
"Jangan menangis ya, Dek." Suci menghapus air mata Winny dengan tangannya.
"Kakak jangan pergi. Hiks." Winny masih terisak.
"Maafkan aku ya. Dulu aku berpikir kalau aku harus bertahan demi kalian berdua Bima dan Winny, tapi sekarang gak perlu lagi. Mama lebih sayang kepada Winny dan menginginkan Winny. Papa lebih memilih Bima. Aku? aku tidak ada yang menginginkan. Jadi sebaiknya aku pergi dari rumah yang seperti neraka ini. Maafkan Kakak, ya." Suci memeluk kembali Winny. Winny semakin kencang menangis.
"Kalian pasti akan baik-baik saja. Bima bisa menjaga diri dan Winny pasti akan jadi anak yang baik budi serta salihah. Maafkan aku yang gak bisa jadi kakak yang baik untuk kalian berdua." Suci segera pergi setelah memeluk Winny dan Bima berganti. Dia pamit pergi hanya kepada kedua adiknya. Suci pun menitikkan air mata saat berpamitan dengan kedua adiknya.
Bima beberapa kali membujuk dan memanggil, tapi Suci tetap melangkah pergi dengan barang yang dibawanya dalam tas besar milik Suci. Winny berusaha menahan Suci sambil menangis, tetapi Suci akhirnya tetap pergi. Bahkan dia tidak pamitan lagi kepada Papa dan Mamanya.
Ya, akhirnya Suci pergi dari rumah tersebut yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Di mana dia dilahirkan dan dibesarkan selama ini, kini rumah tersebut telah Suci tinggalkan. Suci sebenarnya tidak mau meninggalkan adik-adiknya, tapi Papa dan Mama hanya memilih adik-adiknya. Dia tidak diinginkan dan hanya diabaikan, sehingga Suci memilih pergi.
Suci berjalan tidak tentu arah. Dia bahkan tidak tahu mau kemana sekarang.
Winny tidak mau pergi sebenarnya. Dia lebih memilih bersama Suci daripada Mama. Mama selalu sibuk dan jarang di rumah, sedangkan Suci selalu ada untuk Winny. Akan tetapi, Winny tidak bisa memilih keinginannya, karena Mama pasti akan melarang. Winny hanya bisa menuruti Mamanya.
Winny pun menemui Bik Inem yang belakangan ini telah banyak mengajari Winny tentang agama, sholat dan mengaji. Tangis haru menghiasi pelukan perpisahan antara Winny dan Bik Inem. Bik Inem berpesan agar Winny tidak melupakan semua yang sudah dia pelajari tentang agama. Selalu ingat sholat dan mengaji serta nanti saat ramadan untuk berpuasa. Semua tentang agama Islam yang telah Bik Inem sampaikan agar selalu Winny ingat dan terapkan. Begitulah pesan Inem. Winny menganggukkan kepalanya.
Akhirnya benar saja, Winny ikut Marisa ke Inggris dan Bima ikut bersama Devan tetap di Indonesia. Kini keluarga mereka benar-benar sudah hancur berantakan. Perceraian dan perpisahan pun telah terjadi.
***
Suci kini sendirian. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang menjalani kehidupan. Dia mencoba mencari tempat tinggal, tetapi hidup di kota besar tentu saja sulit sendirian, tidak mudah. Apalagi mencari tempat tinggal yang sesuai kantong susah sekali. Semua serba mahal.
Beberapa hari ini Suci hanya berpindah-pindah tempat tinggal. Sebentar di tempat Vira dan sebentar di rumah Sofia, tetapi tentu tidak bisa selamanya dia tinggal di tempat orang. Apalagi orang tua Vira dan Sofia begitu tidak suka dengan Suci. Akhirnya Suci mencari tempat lain.
__ADS_1
Di dompetnya masih ada beberapa uang dan tabungan. Sebelumnya, dia begitu banyak diberikan uang oleh kedua orang tuanya. Dia sering menghamburkan uang untuk jalan-jalan, shopping, makan dan minum serta untuk apapun, itupun masih saja tersisa banyak, karena itu Suci simpan dan tabung di rekeningnya. Syukur saja uang tersebut banyak dia simpan ditabungan rekening miliknya. Jadi di saat seperti ini bisa sangat berguna.
Namun, Suci tidak boleh boros lagi. Jika dia boros maka uangnya akan habis dan tidak cukup, karena Suci masih bingung harus bagaimana selanjutnya. Dia harus mencari tempat tinggal yang murah dan mulai berhemat.
Awalnya mau naik taksi, tetapi Suci akhirnya memilih berjalan kaki agar hemat ongkos. Hari mulai gelap dan Suci pun lapar. Dia mau mencari makan terlebih dahulu. Sebuah warung kecil dan sederhana ditemukan, Suci pun makan di tempat tersebut.
Usai makan, Suci mulai berjalan mencari rumah sewa yang murah. Dia bertanya ke beberapa orang yang ditemuinya. Dua orang preman dari tadi sudah memperhatikan Suci. Mereka bersiap mau mencegah Suci dan berniat jahat.
Saat jalanan sunyi barulah kedua preman tersebut mencegah jalan Suci.
"Halo, Neng, sendirian aja nih. Kita temani mau gak?"
"Iya nih. Aduh cakep benar, ya." Kedua preman menatap liar ke arah Suci. Terlihat tubuh molek milik Suci dan seksi sekali.
Suci merasa tidak aman dan bahaya. Dia pun berlari sambil minta tolong.
"Tolong ... tolong!"
Kedua preman mengejar Suci. Syukurlah seorang pemuda datang karena mendengar teriakan minta tolong Suci.
"Hentikan! jangan ganggu gadis itu!"
🍀🍀🍀🍀
Mari dukung ya gaes 🤗 di like dan kasih komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya🙏
__ADS_1