Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 12.


__ADS_3

Bagus mengambil ponsel yang ada di tangan Suci. Bagus pun menerima telepon tersebut. Setelah mengucapkan salam, Bagus pun bertanya siapa yang menelepon tersebut.


Namun, ekspresi wajah Bagus begitu heran dan agak kaget. Suara seorang pria di ujung sana yang menelepon.


Suci bertanya dalam hati, "Kenapa ekspresi Bagus nampak aneh begitu, emangnya siapa yang menelepon?"


Bagus hanya mendengarkan saja. Setelah itu dia memberikan kepada Suci. Suci menatap heran, siapa dan kenapa?


Suci akhirnya menerima telepon tersebut, setelah mengucapkan salam, dia menjawab. Terdengar suara di seberang sana suara seorang pria. Suci meneteskan air matanya.


"Kak, ini Bima. Kak Suci apa kabar? Kenapa gak pernah angkat telepon Bima? Bima mencemaskan Kakak?" ternyata Bima adiknya yang menelepon. Suci merindukan adiknya tersebut. Dia memang dibuang dan dilupakan Papa dan Mama, tetapi adik-adiknya masih mengingat dirinya. Seketika air mata luruh membahasi pipi Suci.


"Iya, Bim. Ini Kakak. Kakak baik saja. Bima bagaimana? Papa apa kabarnya?"


Suara Bima menghela napas panjang, "Aku baik sajaΒ  kak, kalau Papa seperti biasa terlalu sibuk dengan pekerjaannya."


"Alhamdulillah, yang penting Bima dan Papa sehat selalu, ya." Suci menghapus air matanya. Di samping Suci ada Bagus memperhatikan Suci. Bagus walaupun tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya dengan Suci, tetapi dia bisa melihat secara langsung kerapuhan diri Suci.


Bagus hanya diam memperhatikan dari samping.


"Kakak di mana sekarang?"


"Kakak jauh dari kota, Bim. Kakak ada di pondok pesantren Ar-Rahman sekarang. Belajar agama di sini." Suci mengatakan di mana dia sekarang.


Bima tentu kaget dengan keberadaan Suci di mana sekarang, keduanya saling bercerita dan melepaskan rindu. Bahkan Bima mau menemui Suci dan mengajaknya tinggal bersama. Akan tetapi, Suci menolak dengan halus. Dia hanya mau tinggal di pesantren tersebut.


Bima sungguh tidak menyangka kakaknya sekarang malah di pesantren dan belajar agama Islam. Bima menghormati keputusan Kakaknya. Dia pun tidak memaksa kehendak dirinya kepada Suci.


Mereka berdua juga membahas Winny. Bima bercerita dia dan Winny sering berkomunikasi. Winny ikut Mama ke Inggris setelah cerai dari Papa.Β  Namun, niat Winny yang kuat belajar agama tidak ada yang bisa menghalangi bahkan Winny sampai minta sama Mama dikuliahkan di Kairo. Sungguh adik kecil mereka menjadi putri yang salihah sekali.


Suci senang mendengar kabar kedua adiknya. Suci hanya bisa mendengar cerita Winny dari Bima, walaupun tidak langsung dengar dari Winny, tetapi mendengar dari Bima pun dia sudah senang.

__ADS_1


Bima kini melanjutkan usaha Papa juga sekalian membantu Papa di perusahaan. Winny sibuk kuliah di Kairo sambil menimba ilmu agama juga di Kairo. Papa seperti biasa sibuk bekerja dan tidak ada waktu menikah atau hal lain. Mama ternyata sudah menikah lagi dengan pria kebangsaan Inggris dan menetap di Inggris terus.


Mereka berdua saling bertukar cerita. Suci pun menceritakan kisahnya selama ini saat dia tinggal sendirian. Mereka melepaskan rindu sekalian bercerita satu sama lain.


Dari pembicaraan yang tidak sengaja Bagus dengar tersebut, maka Bagus akhirnya mengetahui kisah Suci lebih banyak lagi. Hati Bagus tersentuh setiap kali melihat Suci meneteskan air mata saat bercerita dengan sang adik. Bahkan ada tawa yang tulus juga terlihat, yang jarang sekali Suci perlihatkan di pesantren tersebut.


Setelah hampir satu jam saling memberi kabar dengan Bima, teleponan mereka pun berhenti. Bima harus segera pergi karena ada urusan rapat di kantor. Suci pun menutup teleponnya setelah mengucapkan salam.


Kini Suci menatap ke arah Bagus. Suci baru sadar, kalau dari tadi Bagus pasti mendengar semua yang mereka bahas. Suci hanya tersenyum canggung.


"Jadi sebenarnya kau masih punya sodara dan keluarga, Suci?" tanya Bagus.


"Iya, Ustadz. Namun, aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku. Mereka hanya membawa adik-adikku. Aku pun hanya hidup sendiri." Mata Suci berkaca-kaca setiap saat mengingat kisah hidupnya dahulu. Namun, sekarang dia lebih baik karena begitu banyak orang di pesantren yang masih peduli kepada dirinya. Contohnya Aisyah, Kiyai Yusuf dan Bagus juga.


"Hidupmu pasti berat, ya."


"Tidak apa-apa, Ustadz. Semua baik-baik saja sekarang. Aku lebih bahagia sekarang di sini. Aku juga mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk adik-adikku dan kedua orang tuaku."


"Terima kasih."


"Ambil saja, Suci. Aku tidak bisa memberikan pelukan hangat, tetapi setidaknya saputanganku bisa menghapus air matamu." Bagus memandang ke arah Suci dan Suci pun menatap ke arah Bagus.


Kedua mata saling beradu. Seakan ada alunan musik yang terdengar di telinga saat ini. Suci merasakan sesuatu yang aneh yang bergejolak di dalam hatinya. Dia merasa aneh. Namun, dia tidak tahu apa dan kenapa.


Bagus pun sama. Dia merasakan gejolak di dalam dadanya. Akan tetapi, dia segera menoleh ke arah lain. Dia tidak mau menjadi berpikiran yang tidak benar. Bagus menyudahi belajar kali ini dengan Suci. Suci pun pamit dan mengucapkan salam. Bagus menjawab salam Suci. Suci pergi dan kembali pulang ke rumah Kiyai Yusuf, karena di sanalah dia tinggal sekarang bersama Aisyah dan Kiyai Yusuf.


Bagus melihat ke arah Suci yang semakin jauh dari pandangannya. Bagus bingung dengan apa yang dirasakan dirinya saat ini.


***


Beberapa hari kemudian, Aisyah bermaksud membawa Suci untuk berbelanja. Kebetulan Suci masih punya beberapa uang di tabungan miliknya. Sehingga dia berniat membeli pakaian muslim untuk dirinya. Sekalian membeli Aisyah, Kiyai Yusuf dan Bagus juga.

__ADS_1


Maka pergilah Suci dan Aisyah bersama-sama ke toko serta Bagus dan Zaki ikut serta atas perintah Kiyai Yusuf untuk menemani dan menjaga Aisyah dan Suci selama perjalanan.


Sampai di tempat, sebuah toko. Di tempat itulah mereka memilih beberapa pakaian. Suci membeli begitu banyak pakaian untuk sehari-hari di pondok pesantren. Dia juga membelikan untuk Aisyah, Kiyai Yusuf dan Bagus sekalian. Suci memilih gamis-gamisΒ  yang cantik beserta hijabnya. Sehingga Suci tidak perlu meminjam punya Aisyah terus.


Aisyah juga memberikan dua setelan baju Koko. Sepertinya dia menyiapkan khusus untuk orang terkhusus. Suci melihat ke arah Aisyah.


"Beli dua untuk Siapa, Aisyah?" tanya Suci.


"Satu untuk Abah dan satunya lagi untuk ...."


Aisyah tidak meneruskan perkataannya. Dia terlihat malu-malu. Suci menebak pasti untuk seseorang yang khusus.


"Seseorang yang disukai, ya?" tebak Suci.


Aisyah tidak menjawab, tetapi dia hanya tersenyum.


"Suci, harus halal dahulu baru boleh mengatakan hal tersebut."


"Menyukai seseorang kayak tidak ada salahnya," ucap Suci.


Aisyah berucap, "Tidak salah, hanya saja kita perempuan jadi tidak bisa terlalu terlihat. Lagian, Aisyah hanya akan menuruti apa kata Abah, kalau memang dia jodohku pasti kita akan bersama." Aisyah tersenyum lembut sekali.


Suci pun ikut tersenyum. Selesai berbelanja mereka pun pulang. Di jalan tiba-tiba ada yang memanggil Suci bahkan menarik tangannya.


Suci menoleh dan kaget.


"Gery!"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Mari dukung ya gaes πŸ€— kasih like dan komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya πŸ€—πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2