
"Jangan mentang-mentang namamu Suci, sehingga kau jadi sok suci!" Vira mulai nyolot. Dia terlihat marah.
"Vir, tenang." Sofia membujuk Vira agar tidak marah.Β Terlihat wajah menegang di antara mereka bertiga.
Sesungguhnya Suci tidak mau bertengkar dengan kedua sahabatnya. Namun, Vira dan Sofia seakan memaksakan kehendak mereka untuk mengajak Suci kembali bersama mereka. Suci bukan tidak mau pulang bersama kedua sahabatnya, tetapi dia masih ingin belajar agama Islam dan beribadah. Dia juga suka tinggal di pondok pesantren tersebut. Dia masih mau di pesantren tersebut. Suci malahan mau mengajak Vira dan Sofia untuk berubah menjadi lebih baik serta mengenal agama Islam juga, sama seperti dirinya.
Akan tetapi, yang ada malah amarah dari Vira. Vira tidak suka dengan ajakan dari Suci. Dia benci orang yang terlihat sok alim dan menggurui. Dia juga gak suka melihat Suci malah berubah menjadi seperti gadis kampungan seperti sekarang. Vira dan Sofia sudah susah payah menyelesaikan semua masalah Suci di kota dan berharap agar Suci pulang bersama mereka, tetapi malah Suci tidak mau kembali bersama malah mengajak mereka tinggal di pondok bersama Suci.
Vira tidak mau dengan ajakan dari Suci. Bukannya berhasil membujuk dan membawa Suci pulang, malah Suci yang mengajak mereka untuk ikutan mondok dan belajar agama. Vira nampak kesal. Sofia jadi bingung harus membela yang mana. Di satu sisi ada Suci teman baiknya dan satunya lagi Vira juga teman baiknya. Keduanya adalah sahabat baiknya. Sofia jadi tidak bisa memilih.
Maksud Suci sebenarnya baik, tetapi tanggapan Vira dan Sofia lain. Mereka jadinya bertengkar. Wajah ketiganya masih menegang.
"Vira, maksud aku baik, agar kau dan Sofia juga belajar agama Islam dan beribadah sama sepertiku. Demi kebaikan kalian juga." Suci masih membujuk.
"Gak perlu, kita gak butuh kayak gitu. Kau juga gak usah sok alim dan menggurui kita berdua!" Vira nampak marah.
"Bukan seperti itu, maksud aku baik kok. Namun, jika kalian tidak mau itu pilihan kalian. Aku akan tetap di sini." Suci keputusannya sudah bulat untuk tetap di pondok pesantren tersebut.
"Sudah, sudah. Jika Suci tidak mau kembali bersama kita ya sudah. Vir, kita kembali sendiri saja. Kau jangan emosi lagi Vir." Sofia ingin menghentikan perdebatan mereka.
"Suci, kami kecewa samamu, kami sudah berusaha tapi kau tidak mau kembali bersama kami. Jadi kau mau meninggalkan semuanya demi tinggal di tempat seperti ini begitu .. ya sudah, kami pergi saja," ucap Sofia kembali menambahkan.
Sofia menarik tangannya Vira. Sofia terlihat kecewa dan Vira terlihat marah. Mereka berdua akhirnya pergi dengan hati dongkol. Suci terdiam melihat kedua sahabatnya akhirnya pergi.
Setelah Vira dan Sofia pergi, Suci kembali masuk ke dalam. Wajahnya terlihat sendu. Suci tidak mau bertengkar dengan kedua sahabatnya, tetapi dia juga masih mau tinggal di pondok pesantren tersebut. Kenapa kedua sahabatnya tidak mau mengerti keinginan Suci, Suci sudah merasakan kehidupan lebih baik di pesantren tersebut.
Namun, baik Sofia dan Vira sama sekali tidak memahami keinginan dan maksud baik Suci.
Suci terduduk lesu dan pandangan menerawang kemana-mana. Bagus yang sudah lama menunggu Suci untuk belajar mengaji, akhirnya mencari Suci. Saat ditemukan, Suci malah duduk sendirian dan termenung. Bagus mendekati Suci.
"Hem, rupanya di sini. Gak belajar mengaji, Suci?" tatap Bagus. Suci menoleh ke arah Bagus.
Bagus melihat wajah sedih milik Suci.
"Kenapa?" tanya Bagus.
"Aku bertengkar dengan kedua sahabatku."
"Dua orang yang tadi kemari itukah temanmu?"
__ADS_1
"Iya, Ustadz. Maafkan aku jadi malah terganggu jadwal belajar mengajinya." Suci tertunduk.
"Kenapa mereka kemari mencarimu? dan hal apa yang membuat kalian bertengkar?"
Suci memandang ke arah Bagus. Terlihat wajah teduh dari Bagus yang menenangkan. Suci merasa Bagus dapat dipercaya, sehingga dia pun bercerita semuanya kepada Bagus. Apa saja yang terjadi tadi barusan antara Suci dengan Vira dan Sofia telah diceritakan semua kepada Bagus.
Bagus mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia sekarang mengerti situasi apa yang telah Suci hadapi.
"Jika mereka berdua adalah sahabat Suci, pasti menginginkan yang terbaik untuk Suci. Percaya saja, suatu saat nanti mereka akan memahami dan pasti akan kembali bersahabat dengan Suci. Sahabat yang baik adalah saling mendukung, menolong dan mendoakan dalam kebaikan."
Bagus tersenyum dan perkataan dari Bagus membuat hati Suci merasa lebih tenang. Benar juga, jika mereka sahabat baiknya pasti menginginkan yang terbaik untuknya. Jika sahabat baik pasti akan kembali juga nantinya dan saling memahami.
"Semoga Vira dan Sofia bisa memahami ya, Ustadz. Semoga mereka juga mendapatkan hidayah ya, Ustadz." Suci akhirnya kini tersenyum.
"Aamiin. Semoga mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Aamiin."
Keduanya tersenyum. Dari kejauhan, Zaki, Rara dan Kania lewat dan melihat Suci dan Bagus.
"Eh, mereka semakin lama semakin dekat saja ya." Celoteh Kania.
"Lah, kenapa rupanya? kan Bagus ngajarin Suci tentang agama baik itu Sholat dan mengaji," ucap Zaki.
"Gak aneh kalian, Bagus yang suka jaga jarak dengan namanya wanita sekarang malah dekat dengan Suci," ucap Kania kembali menambahkan.
"Sudah ... sudah. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Tidak baik loh berburuk sangka begitu." Rara menasihati Kania.
"Sudahlah. Biarkan saja. Toh Bagus tampan dan Suci cantik. Kali aja mereka jodoh iya enggak hehe." Celetuk Zaki yang akhirnya dicibir oleh Kania. Mereka bertiga pun berlalu pergi saja.
Bagus dan Suci pun akhirnya memulai pelajaran mereka mengaji bersama.
***
Waktu terus berjalan. Hari demi hari terlewati dan bulan demi bulan berlalu. Kini Suci semakin lebih baik. Bagus tidak perlu bersusah payah lagi mengajari Suci. Suci sudah pandai Salat dan mengaji. Namun, karena kini Suci sudah Al-Qur'an maka Bagus terus mengawasi Suci mengaji.
Bulan penuh berkah pun tiba. Sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Hanya dua minggu lagi mereka akan memulai berpuasa. Bagus menjelaskan tentang kewajiban umat Islam dalam bulan penuh berkah ini. Puasa sebulan penuh pada Ramadhan hukumnya wajib bagi umat Islam yang balig dan berakal sehat.
Bagus menjelaskan kepada Suci saat mereka selesai mengaji bersama. Suci mendengarkan penuh perhatian.
__ADS_1
"Jadi umat Islam diwajibkan berpuasa, Ustadz?"
"Iya. Bagi yang sudah balig dan berakal sehat. Suci pernah puasa?"
"Belum pernah." Suci menundukkan kepalanya. Bagaimana dia tahu puasa jika sejak kecil tidak diajarkan. Belajar agama pun baru sekarang dia pelajari. Suci merasa sedih sekarang.
Bagus melihat Suci menundukkan kepalanya dan nampak sedih.
"Sudah. Tidak apa-apa. Artinya tahun ini adalah tahun pertama Suci ikut berpuasa dengan yang lainnya di sini. Bukankah kalau bersama di pondok ini bahagia, kan?"
"Tahun dan bulan pertama Suci berpuasa ...." Suci bergumam sendirian.
"Apa tidak apa-apa, Ustadz? Suci yang banyak kekurangan dan dosa ini ikut berpuasa?" Suci kembali menatap Bagus.
Bagus melihat kepolosan dari Suci.
"Tentu saja tidak apa-apa. Malahan jika Suci benar-benar bertobat pasti Allah akan mau menerimanya." Bagus tersenyum.
Suci menghela napas lega. Kini keduanya tersenyum.
Suara ponsel Suci berdering, mengalihkan perhatiannya Suci dan Bagus. Belakangan ini entah kenapa ada yang terus menelepon Suci dengan nomer misterius. Suci sering diganggu serta diteror. Suci sendiri tidak tahu siapa itu.
"Siapa Suci?"
"Enggak tahu, belakangan ini terus mengganggu." Suci sedikit cemberut melihat ke ponselnya.
"Biar sini aku yang nerima teleponnya."
"Gak usah. Aku saja gak pernah ladeni dan gak pernah ngangkat telepon tersebut." Suci melarang karena dia tidak terlalu peduli sebenarnya siapa orang tersebut.
"Tapi dia ganggu terus, kan. Maka itu, kita harus tegas Suci. Agar si pengganggu berhenti."
Bagus mengambil ponsel yang ada di tangan Suci. Bagus pun menerima telepon tersebut. Setelah mengucapkan salam, Bagus pun bertanya siapa yang menelepon tersebut.
Namun, ekspresi wajah Bagus begitu heran dan agak kaget. Suara seorang pria di ujung sana yang menelepon.
ππππ
Mari dukung ya gaes π€ kasih like dan komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanyaπ
__ADS_1