Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 14.


__ADS_3

Gery tersenyum senang. Namun, Rara dan Kania muncul, mereka kaget melihat Gery segera membopong Suci.


"Tolong!!"


Teriak Rara dan Kania. Gery pun panik dan segera kabur membawa Suci yang telah pingsan. Zaki, Aisyah dan Bagus mendengar suara minta tolong. Mereka bergegas menuju tempat tersebut.


"Kenapa, Ra?" tanya Aisyah melihat Rara dan Kania bergantian.


"Itu tadi, Suci!" Rara terlihat panik.


"Apa'an sih Ra, Kania, kalian kenapa?" Zaki nampak bingung.


"Itu tadi ada pria asing, terus dia bawa Suci yang lagi pingsan!" Kania berseru.


"Diculik!" Rara menambahkan.


"Apa? arah mana?" Bagus terlihat panik juga.


Kania dan Rara menunjukkan arah tersebut dengan jari telunjuknya. Bagus segera berlari mengejar dan Zaki pun sama. Aisyah nampak panik luar biasa, tubuhnya sedikit oyong. Dia berdoa demi keselamatan Suci. Rara dan Kania segera memapah Aisyah kembali ke rumah. Mereka juga mau segera melaporkan kepada Kiyai Yusuf.


Bagus dan Zaki berlari mengejar Gery. Gery pun terlihat membawa Suci. Bagus melihat Gery. Dia berseru, "Berhenti!!!"


Namun, Gery terus berlari. Mereka juga sampai keluar dari daerah pesantren. Gery melewati jalan tikus yang dia ketahui agar bisa segera lolos. Bagus dan Zaki masih terus mengejar.


Setelah berlari cukup jauh, Gery bersembunyi di sebuah rumah kosong yang dia temukan. Dia turunkan tubuh Suci di sembarang tempat. Suci pun terbangun dan betapa kagetnya Suci melihat Gery dihadapannya.


"Gery!"


"Kau sudah bangun? bagus. Aku ingin kau mendapatkan balasannya!"


"Apa salahku? lepaskan aku!"


"Tidak akan! gara-gara kedua temanmu, Sofia dan Vira, aku jadi buronan! Sofia dan Vira berusaha menyelesaikan semua masalahmu, akibatnya aku sekarang harus dikejar polisi. Sekarang aku mau membalasnya kepadamu, Suci!"


"Tidak! ku mohon, lepaskan aku." Suci memelas belas kasihan agar Gery melepaskan dirinya.


Namun sayang, Gery tidak peduli. Bahkan dia bermaksud mau menodai Suci. Suci melemparkan apa saja yang dia temukan ke arah Gery. Gery segera mengelak. Dia memukul dan menendang Suci. Suci semakin tersudut. Dia pun menangis sambil meminta pertolongan berharap ada yang datang menolongnya.


"Tidak perlu buang tenaga dan suara, Suci. Kau tidak bisa kemana-mana. Hahaha. Dulu setiap ku ajak kau tidak mau, kan. Bagaimana kalau sekarang aku menodai kau, Suci!"


"Tidak ... jangan. Hiks ... tolong! siapa pun tolong aku!" Suci sudah terisak.


Gery semakin mendekat dan sudah bersiap melakukan aksi bejatnya. Bagus kemudian muncul bersama Zaki. Tadi mereka sempat mendengar suara Suci. Syukur saja mereka tepat waktu. Gery baru saja merobek pakaian Suci, Bagus pun segera meninju Gery dan menariknya ke belakang.


Gery di hajar oleh Bagus dan Zaki. Bagus kemudian menghampiri Suci. Suci menangis dan dia tampak kelelahan.


"Suci, maaf aku baru datang." Bagus melihat pakaian Suci yang robek dan Suci menangis dalam pelukan Bagus. Suci segera dibawa pulang ke pesantren secepatnya.


Akhirnya Gery tertangkap. Bagus dan Zaki segera memanggil polisi setelah melumpuhkan Gery. Gery pun kini digiring polisi dan akan mendekam di penjara dalam waktu yang sangat lama.

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian. Keadaan Suci sudah lebih baik. Syukurlah kejadian buruk sudah berlalu. Aisyah selalu menemani Suci agar dia selalu tabah dan kuat. Bagus juga setiap hari menemani Suci bergantian dengan Aisyah.


Dua hari lagi bulan Ramadhan akan tiba. Dalam dua hari lagi mereka akan berpuasa. Semua anggota pesantren menyambut dengan suka cita.


Aisyah tersenyum senang. Satu setel baju koko sudah diberikan kepada ayahnya. Satunya lagi akan diberikan Aisyah ke orang yang dia anggap khusus.


Bagus baru saja selesai mengajar para santri. Aisyah menunggu diluar dan memanggil Bagus.


Aisyah mengucapkan salam, kemudian dia langsung bertanya, "Mas, sudah selesai ngajarnya?"


Bagus menjawab salam dan melihat Aisyah, "Sudah,  Aisyah. Ada apa?"


Aisyah langsung menyerahkan baju koko yang terbungkus rapi dengan kertas kado. Aisyah tersenyum saat memberikannya. Bagus menerimanya. Mereka tidak tahu kalau dari kejauhan Kiyai Yusuf memperhatikan. Usai memberikan Aisyah pun mohon pamitan.


Bagus sendiri mau pergi untuk mengawasi Suci yang akan membaca Al-Quran, maka ke sanalah Bagus menuju.


Aisyah kembali pulang dengan hati gembira.


Bagus sampai dan Suci sudah sampai tempat duluan. Dia sudah melihat Bagus. Mereka hari ini mau mengaji bersama. Namun, Suci melihat bungkus kado yang dibawa oleh Bagus.


"Apa itu, Ustadz?"


"Oh ini. Aisyah tadi memberikan. Katanya sebuah hadiah. Aku sudah bilang tidak usah, tetapi Aisyah bilang sudah dibeli dan diberikan masak harus dikembalikan. Jadi ya ku terima saja." Bagus menjelaskan.


"Nanti saja, kita mengaji saja dulu."


Bagus dan Suci pun mulai mengaji bersama.


***


Malam hari, setelah Suci, Aisyah dan Kiyai Yusuf makan bersama. Mereka kini duduk bersama di dekat ruang tamu. Kiyai Yusuf meminta Aisyah mendekat.


"Iya, Abah. Ada apa?"


"Aisyah, jika abah jodohkan Aisyah dengan Bagus mau tidak?" Kiyai Yusuf sebenarnya dari dulu sudah punya niat menjodohkan Aisyah dengan Bagus. Dia berpikir kalau Bagus pemuda yang baik. Hari ini melihat Aisyah begitu perhatian kepada Bagus maka niat yang lama sudah ada pun segera mau disampaikan Kiyai Yusuf.


"Maksudnya Abah, Aisyah dan Mas Bagus menikah begitu?" dalam hati Aisyah sudah bahagia. Doa di setiap salatnya telah dikabulkan Allah SWT.


"Iya." Kiyai Yusuf tersenyum.


Aisyah hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tapi Abah, bagaimana dengan Mas Bagus? Apa dia mau dan setuju?"


"Pasti setuju. Dia kan selalu mendengarkan perkataan abah."


Aisyah dan Kiyai Yusuf tersenyum bahagia berdua. Ternyata Kiyai Yusuf tidak salah langkah dan tidak salah pilih. Aisyah dan Bagus memang cocok dan berjodoh. Begitulah pikir Kiyai Yusuf.

__ADS_1


Namun, beda hal dengan Suci yang mendengar percakapan ayah dan anak tersebut. Jantung Suci seakan berhenti berdetak, dia kesulitan bernapas. Suci merasakan perasaan aneh dihatinya. Seketika dia menangis mengetahui niat Kiyai Yusuf akan menjodohkan dan menikahkan Aisyah dengan Bagus. Dia bersedih hati. Suci terlihat pucat wajahnya.


Esoknya, Bagus dipanggil Kiyai Yusuf ke rumah. Bagus pun sampai ke rumah Kiyai Yusuf setelah jam istirahat mengajar dan setelah salat zuhur. Aisyah melihat Bagus dan ayahnya duduk berdua di ruang tamu. Aisyah dan Suci berada di ruang dapur menyiapkan minuman dan beberapa camilan.


Suci melihat wajah bahagia Aisyah.


"Aisyah, apakah baju koko yang kau beli waktu itu untuk Ustadz Bagus?" Suci memandang ke arah Aisyah yang membuat teh.


"Iya. Satu untuk abah dan satunya untuk Mas Bagus.  Aku tidak sangka abah mau menjodohkan kami berdua, kini abah sedang bicara berdua dengan Mas  Bagus." Wajah Aisyah begitu berseri-seri. Dia bahagia.


Suci bisa melihat kebahagiaan Aisyah. Dia pun tersenyum tipis. "Kau menyukai Bagus rupanya, ya." Gumam Suci dalam hatinya. Entah kenapa Suci merasakan rasa perih dihatinya. Namun, dia tidak mau merusak kebahagiaan Aisyah. Aisyah sudah banyak membantunya selama ini, maka Suci cukup memendam rasa sakitnya saja demi kebahagiaan Aisyah. Dia banyak berhutang budi terhadap Aisyah.


Aisyah keluar dan menuju ruang tamu. Dia membawa minuman dan kue camilan. Aisyah meletakkan di atas meja untuk Kiyai Yusuf dan Bagus. Dari tadi Kiyai Yusuf hanya membahas pesantren, para santri dan tentang jodoh juga. Bagus agak bingung dengan arah pembicaraan Kiyai Yusuf yang berakhir dengan kata jodoh.


Aisyah diminta duduk di sebelah Kiyai Yusuf. Aisyah menurut. Sedangkan Suci hanya melihat dari balik celah dari bilik pintu.


"Bagus, aku rasa sudah waktu yang pas membicarakan hal ini. Aisyah sudah cukup umur dan Bagus juga sudah matang usianya. Jadi aku mau menjodohkan Aisyah dengan Bagus. Aisyah sudah setuju. Jadi Bagus juga setuju, kan?" Kiyai Yusuf yakin kalau Bagus muridnya ini akan selalu mematuhi perkataan darinya.


Bagus terlihat pucat. Dia segera melihat ke arah lain dan kebetulan dia melihat wajah Suci pula. Bagus melihat Suci menangis.


"Suci menangis? Kenapa? apa karena perjodohan ini? tapi aku tidak bisa menolak permintaan Kiyai Yusuf. Beliau dahulu sudah banyak membantuku, tetapi perasaanku ke Suci bagaimana?" keluh Bagus dalam hati. Mata Bagus dan Suci saling beradu pandang.


Suci kini menyadari kalau dia telah jatuh cinta kepada Bagus, tetapi dia tidak mungkin menyakiti Aisyah. Bagus juga mempunyai perasaan untuk Suci yang tumbuh setiap kali mereka bertemu. Namun, bagaimana dengan Asiyah dan Kiyai Yusuf? Suci merasa punya hutang budi akan kebaikan Aisyah yang selalu menolongnya. Dia ingat betul bagaimana Aisyah yang tulus menolongnya.


Bagus pun begitu, Kiyai Yusuf dahulu banyak menolongnya dan menjadikan dirinya sebagai murid Kiyai Yusuf hingga Bagus bisa menjadi pemuda yang baik dan salih seperti sekarang.


Mata Suci dan Bagus saling mengatakan kalau mereka tidak bisa menerima ini semua, tetapi mereka harus bagaimana?


Suara Kiyai Yusuf terdengar, "Bagus, apa Jawabanmu?"


Bagus menoleh ke arah Kiyai Yusuf dan Aisyah bergantian. Dia juga melihat ke arah Suci.


Semua menantikan jawaban dari Bagus.


Bersambung...


Apa Jawaban Bagus, ya? Diterima atau tidak?


Yuk dukung ya kak 🤗🤗🤗 kasih vote, gift dan bintang lima nya ya 😉😘🥰


FB : Author Libra


IG : @libra_aja0k3


Tiktok : Libra (Blue Safir) @libraoke1


🍀🍀🍀🍀


Mari dukung ya gaes 🤗 kasih like dan komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya 🤗🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2