
Semua menantikan jawaban dari Bagus.
Kiyai Yusuf kembali bertanya karena masih saja melihat Bagus diam dan belum menjawab. Bagus menundukkan kepalanya. Dia menghela napas panjang. Sesaat setelah berpikir, Bagus pun akhirnya menjawab. Dia menatap ke arah Kiyai Yusuf dan Aisyah.
"Bolehkah Bagus menjawabnya nanti, Kiyai? Karena ini begitu tiba-tiba dan Bagus masih belum ada kepikiran hal tersebut. Jadi berilah Bagus berpikir dalam beberapa hari ini." Pinta Bagus kepada Kiyai Yusuf dan Aisyah.
Kiyai Yusuf akhirnya mau memberikan waktu bagi Bagus. "Baiklah, aku akan berikan waktu untuk berpikir. Namun, hanya sampai waktu megang nanti. Di hari pertama puasa adalah waktu untuk memberikan jawaban."
"Baik, Kiyai."
Kiyai Yusuf pun menyuruh Bagus mencicipi kue camilan dan teh yang sudah dihidangkan. Mereka pun menikmati bersama. Aisyah sebenarnya agak kecewa karena Bagus masih menunda memberikan jawaban, tetapi Aisyah menyadari hal ini memang begitu tiba-tiba untuk Bagus. Aisyah pun bersabar menunggu.
Setelah cukup lama, Bagus pun pamitan. Setelah Bagus pergi, Aisyah membersihkan meja. Kiyai Yusuf pergi ke kamarnya. Suci mendekati Asiyah yang sedang mencuci gelas bekas teh tadi dan piring kecil tempat kue camilan tadi.
"Bagaimana, Aisyah? lancar saja?" tatap Suci kepada Aisyah.
"Belum dijawab. Mas Bagus meminta waktu. Apa aku kurang baik ya untuk Mas Bagus?" Aisyah selesai mencuci dan menatap ke arah Suci.
Suci langsung menggeleng, "Tidak, Aisyah. Kau cantik, lembut, baik hati dan salihah, siapa pun yang menjadikan kau sebagai isteri pasti akan bahagia."
"Lalu, apa yang membuat Mas Bagus tidak menjawab langsung, ya?" Aisyah tengah berpikir.
Baik Aisyah dan Suci keduanya tidak tahu. Alasan apa Bagus menunda jawaban, mereka tidak mengerti. Aisyah pamitan kepada Suci, dia mau mengajari para anak santri junior. Pergilah Asiyah meninggalkan Suci sendirian.
Suci termenung sendiri. Dia jadi bingung. Dia juga sedih melihat Asiyah yang nampak menahan kesedihannya. Sepertinya Asiyah sangat menantikan jawaban Bagus. Di lain tempat, Bagus begitu tidak tenang. Dia termenung di kamar sendirian. Zaki yang baru tiba di kamar, langsung menghampiri Bagus.
"Kenapa kau, Gus? Ada masalah, ya?"
"Tidak." Bagus tidak mau siapa pun tahu terlebih dahulu, karena dia masih belum memutuskan apa pun.
Zaki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia pun berlalu dan pergi mandi karena sudah sore hari.
***
Esok hari.
Bagus seperti biasa menunggu Suci. Mereka setiap sore belajar mengaji. Semalam libur karena Bagus harus ke rumah Kiyai Yusuf yang akhirnya malah berakhir dengan perjodohan. Namun, sudah sore Suci belum juga tiba. Padahal seharian ini dari semalam hingga kini Bagus terus gelisah memikirkan hal perjodohan tersebut. Bagus ingin bertemu dengan Suci untuk bercerita dengan Suci.
Setelah begitu lama, Suci pun tiba. Suci sebenarnya sudah tidak mau mengaji bersama dengan Bagus. Dia ingin menjaga jarak, tetapi dia tidak enak hati juga kepada Bagus. Akhirnya Suci datang juga. Suci memberi salam dan Bagus menjawab salam Suci. Keduanya saling memandang. Suci segera duduk dan Bagus duduk dihadapannya. Mereka pun mulai mengaji bersama.
Hari ini Bagus memakai baju koko yang dibelikan oleh Aisyah. Sebenarnya dari tadi Suci sudah memperhatikan baju koko tersebut. Dia bisa langsung menyadari kalau itu baju yang dibeli oleh Asiyah, karena mereka membeli bersama jadi Suci bisa tanda. Melihat Bagus memakai baju pemberian Aisyah membuat Suci berpikir, Jangan-jangan Bagus menerima perjodohan tersebut. Seketika hati Suci menjadi gundah.
Mereka akhirnya selesai mengaji. Bagus menatap ke arah Suci dengan pandangan lurus. Suci mau pamitan pergi, tetapi Bagus meminta Suci jangan pergi.
"Aku pamit dahulu, Ustadz."
"Tunggu dulu, duduk dulu, Suci."
__ADS_1
Suci pun akhirnya duduk, "Ada apa, Ustadz?"
"Aku mau mengatakan sesuatu kepadamu, Suci."
"Katakanlah." Suci penasaran apa yang mau dikatakan oleh Bagus.
"Aku rasa kau pun sudah dengar, kan. Saat itu Suci juga ada di rumah Kiyai Yusuf. Aku dijodohkan dengan Aisyah." Bagus menundukkan kepalanya.
Nyut. Suci merasakan rasa sakit dihatinya. Namun, Suci berusaha tetap tersenyum.
"Selamat, ya." Suci mengulurkan tangan, tetapi dia menarik kembali tangannya. Dia lupa kalau Bagus tidak bersentuhan dengan lawan jenis.
Bagus melihat ke arah Suci.
"Kau memberikan selamat kepadaku, Suci?"
"Iya, Ustadz. Ustadz akan beruntung mempunyai isteri salihah seperti Aisyah." Suci tersenyum tipis.
"Tapi hatiku meragu."
"Loh, kenapa? Aisyah kan gadis baik-baik."
"Aku tahu dia gadis baik dan salihah, tetapi hatiku telah ku berikan kepada orang lain, walaupun aku tidak tahu perasaan dia kepadaku." Bagus memandang ke arah Suci.
"Siapa pun yang Ustadz pilih pasti beruntung nantinya."
"Lalu kau sendiri, Suci?"
"Kau sendiri tidak mau menikah dan memilih seseorang, kah?"
"Oh. Siapa yang mau dengan orang seperti aku ini. Gadis yang banyak dosa begini, Ustadz. Aku sadar diri akan kekuranganku." Suci menundukkan kepalanya.
"Aku juga banyak dosa Suci sebelumnya."
"Maksudnya?" Suci mengerutkan keningnya.
Bagus pun bercerita. Dahulu sebelumnya dia adalah preman dan tukang begal. Suka malak orang dan kadang kala merampok. Begitu banyak dosa dan salahnya dahulu. Dia dulu bukanlah pemuda salih, bukan seperti sekarang, karena pertemuan tidak terduga dengan Kiyai Yusuf maka nasib Bagus berubah. Saat suatu ketika Bagus sedang melakukan aksi memalak, dia mendapatkan serangan tusukan diperutnya. Saat itu dia tergeletak di jalanan meminta tolong, tetapi tidak ada yang peduli.
Kebetulan Kiyai Yusuf muncul dan melihat kondisi Bagus yang memprihatinkan. Kiyai Yusuf menolongnya, membawa Bagus ke rumah sakit. Bagus pun tergolong. Biaya rumah sakit pun Kiyai Yusuf yang membayarnya. Bagus sembuh dan dibawa ke pesantren. Kiyai Yusuf memberikan nasihat kepada Bagus hingga pintu hatinya terbuka. Bagus pun memohon ampun dan bertobat. Dia akhirnya menjadi murid Kiyai Yusuf dan meninggalkan masa lalu kelamnya.
Setelah lama, Bagus pun ditunjuk oleh Kiyai Yusuf menjadi salah satu pengajar di pesantren. Kiyai Yusuf melihat Bagus sudah lebih baik dan cocok menjadi pengajar. Bagus juga pemuda yang salih sekali, maka karena itu Kiyai Yusuf mempunyai niat menjodohkan Bagus dengan Aisyah.
Begitulah cerita singkat Bagus. Suci mendengarkan dengan seksama. Dia baru tahu kisah Bagus. Dia kira dari awal Bagus itu adalah pemuda salih, ternyata punya masa lalu kelam juga.
"Jadi begitu Suci. Namaku Bagus Pratama, tetapi masa laluku tidak sebagus namaku, kan?"
"Hem, seperti aku ya, Ustadz? Namaku Suci Syahputri. Namaku saja Suci, tetapi aku tidak sesuci namaku. Aku juga begitu banyak dosa dahulunya. Ustadz pasti ingat bagaimana diriku yang dulu."
__ADS_1
"Nah, kita juga sama-sama punya masa lalu kelam, Suci. Jadi jangan memandang dirimu rendah, ya."
Suci pun tersenyum dan memahami perkataan Bagus. Dia mengagumi Bagus yang dewasa, salih dan baik hati.
"Setiap manusia punya dosanya masing-masing, Suci. Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha yang terbaik. Selanjutnya Allah juga yang menentukan."
"Iya, Ustadz."
"Karena itu kita harus beribadah dan bertobat, sehingga tidak terjerumus ke dosa di masa lalu lagi." Bagus menambahkan.
Suci menganggukkan kepalanya. Bagus menghela napas panjang. Dia sudah banyak bercerita dan masih belum mengatakan maksudnya.
"Suci, menurutmu aku yang seperti ini apa akan cocok dengan Aisyah?"
"Pasti cocok, Ustadz."
"Kalau denganmu?"
"Hah? aku? kok aku?" Suci terheran.
Keduanya saling memandang dalam kesunyian. Tidak ada lagi ucapan. Hanya keduanya yang saling berucap melalui mata. Mata Bagus seakan berkata kalau dihatinya hanya ada Suci, sedangkan Suci seakan matanya berucap apakah Bagus menyukai dirinya. Namun, ini tidak boleh. Jika iya, maka Aisyah yang akan terluka.
Suci tidak mau menyakiti hati Aisyah. Dia tidak mau melihat Aisyah patah hati. Bagus pun sama tidak mau mengecewakan Kiyai Yusuf, tetapi jika Suci juga menyukai dirinya maka Bagus akan memperjuangkannya.
Lama keduanya saling diam. Suci akhirnya bangkit berdiri, Bagus pun sama ikut berdiri. Bagus bingung dengan tindakan Suci. Suci merasa harus pergi sekarang. Tidak baik jika mereka berdua lama-lama berduaan. Namun, Bagus menghadang langkah Suci.
"Tunggu Suci! Bagaimana dengan aku dan dirimu ji ...."
Suci segera menghentikan ucapan Bagus, "Tidak, Ustadz!! Aisyah lebih pantas dan cocok denganmu!!"
"Lalu kenapa waktu itu kau menangis, Suci? menangis karena mendengar perjodohanku dengan Aisyah atau ada hal lain. Aku melihat kau menangis, Suci." Wajah Bagus berubah sedih. Bagus pikir Suci memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Aku ...."
Suci bingung mau berkata apa. Dia menyadari kalau dia juga jatuh cinta kepada Bagus. Namun, akan ada hati yang tersakiti dan hati yang kecewa jika dia mengatakan mencintai Bagus. Suci memilih diam.
"Aku mencintaimu, Suci." Bagus mengakui perasaannya kepada Suci. Suci kaget dan menatap Bagus dengan air mata yang kemudian mengalir membasahi pipi.
Bersambung.
By : Author Libra.
FB : Author Libra
IG : @libra_aja0k3
Tiktok : Libra (Blue Safir) @libraoke1
__ADS_1
Terus dukung karya ini ya Kak, kasih like dan komentar ya. Sekalian Difavoritkan, kasih bintang 5 dan gift juga. Makasih 🙏🙏 Selamat menjalankan ibadah puasa 🙏🤗
🍀🍀🍀🍀