Tobat (Aku Seorang Pendosa)

Tobat (Aku Seorang Pendosa)
Bab 10.


__ADS_3

Suci bingung mau menerima telepon tersebut atau tidak. Dia ragu sejenak. Sekarang malahan Suci tertegun. Aisyah melihat ke arah Suci. Terlihat wajah cemas Suci. Aisyah pun mulai bertanya.


"Ada apa Suci? siapa yang menelepon? kok cuma dilihat, enggak diangkat, ya?"


Suci menoleh ke arah Aisyah. Dia ragu menjawab.


"Aku keluar sebentar ya, Aisyah."


"Iya. Baiklah." Aisyah menganggukkan kepalanya.


Suci keluar dan menuju tempat yang sunyi, dia mencari tempat aman serta menjauh dari yang lainnya. Aisyah menatap heran ke Suci. Aisyah sebenarnya cemas karena melihat ekspresi wajah Suci yang nampak beda. Akan tetapi, Aisyah hanya bisa diam dan berharap semuanya baik-baik saja.


Suci sudah berada di tempat yang dirasakannya jauh dan aman dari yang lain. Ponselnya berdering kembali dan Suci menatap begitu lama, menimbang untuk menerima atau tidak. Namun, akhirnya Suci menerima panggilan tersebut.


"Assalamualaikum, iya ... Halo." Suci mengucapkan salam sekalian mengatakan halo.


Yang di seberang sana mendengar terdiam dan tertegun. Tidak beberapa lama kemudian dia pun berucap, tetapi tidak menjawab salam dari Suci.


"Ini beneran Suci?" di seberang sana mulai bertanya karena takut salah nomer. Suci tidak pernah mengganti nomer ponselnya. Dari dahulu itulah nomernya.


"Iya. Ini aku Suci."


"Benarkah?"


"Iya. Ada apa Sofia?" ternyata yang menelepon Suci adalah Sofia.


"Aku dan Vira selama ini mencarimu, Suci. Kau kemana saja?"


"Mencariku? benarkah? bukannya kalian semua mengabaikanku." Suci masih ingat saat dia sedang banyak masalah dan terpuruk, mereka semua pergi dan meninggalkan dia sendirian.


Suci masih merasa kecewa.


"Maafkan aku dan Vira, Suci. Kami selama ini terus mencarimu. Semua masalahmu juga kami bantu di sini. Kau sudah lama menghilang."


"Tidak perlu mencariku. Aku sudah tenang dan nyaman di sini."


"Kau di mana sekarang, Suci. Katakanlah, Aku dan Vira mau bertemu. Ayolah, kita ketemuan!" ajak Sofia.


"Aku ada di pondok pesantren Ar-Rahman."


Sofia tertegun mendengar ucapan Suci. Pantas saja tadi ada ucapan salam yang jarang dia dengar, ternyata sekarang Suci berada di tempat tersebut. Sofia jadi penasaran bagaimana keadaan sahabat lamanya itu.


Sofia meminta share lock kepada Suci. Suci pun mengiyakan saja. Sofia berkata esok hari akan ke sana bersama Vira. Suci hanya mengiyakan saja.


Benar saja, esoknya Suci bertemu dengan Sofia dan Vira. Vira dan Sofia jauh-jauh datang dari kota ke tempat pondok pesantren tersebut. Saat tiba, Vira dan Sofia kaget, apa benar ini tempat Suci sekarang berada?

__ADS_1


Kedua gadis tersebut pun turun dari mobil mewahnya. Keduanya berjalan dan bertanya ke salah satu anak santri yang ada. Seorang pemuda yang nampak sederhana sedang didekati oleh Sofia dan Vira.


"Mas ... mas. Boleh nanya gak, ada yang namanya Suci gak di sini?" Sofia bertanya ke arah pemuda tersebut. Pemuda tersebut malah terbengong melihat dua orang cewek sedang ada dihadapannya dengan pakaian seksi dan ketat yang aduhai.


Ia mengelus dada sambil berucap istigfar dan mengalihkan pandangannya.


"Aduh, dosa." Matanya melihat ke arah lain.


Vira dan Sofia malah terheran-heran dengan sikap pemuda tersebut. Vira malah tersinggung.


"Eh, ditanya kok malah buang muka. Gak sopan banget sih nih orang!" Vira mulai nyolot.


Pemuda tersebut malah bukan menjawab, tetapi dia pergi menjauhi dan berlari masuk ke dalam pesantren.


Terjadilah kehebohan. Berita kedatangan Vira dan Sofia telah menjadi buah bibir dengan cepat di sekitar pondok pesantren. Asiyah, Kania dan Rara juga mendengar kalau ada dua orang cewek berpakaian seksi datang ke pesantren. Kiyai Yusuf juga mendengar, bahkan Zaki, Bagus dan Suci juga mendengar hal tersebut.


Seketika Suci yang mendengar langsung berlari menuju pintu gerbang depan. Bagus yang melihat menegur Suci.


"Mau kemana, Suci? kita sebentar lagi akan belajar mengaji," ucap Bagus melihat Suci hendak pergi.


"Sebentar Ustadz, aku mau melihat ke depan dahulu. Nanti aku akan menemui Ustadz." Langkah Suci yang terhenti itu segera berlari kembali menuju pintu gerbang depan.


Bagus dan Zaki saling menatap kemudian mereka pun mengikuti langkah kaki Suci pergi menuju pintu depan gerbang.


Ada dua pemuda lewat malah jatuh tersandung karena melihat Vira dan Sofia. Vira dan Sofia malah hanya santai saja berharap Suci segera menemui mereka. Para gadis yang melihat mereka hanya berbisik-bisik saja mengomentari cara berpakaian Sofia dan Vira. Sofia dan Vira santai saja dan cuek.


Suci sampai di tempat. Dia melihat Vira dan Sofia. Vira dan Sofia langsung menghampiri Suci dan memeluknya. Ketiganya saling berpelukan.


"Suci!!" Sofia dan Vira berseru bersamaan dan memeluk Suci.


Suci hanya diam dan menerima pelukan dari kedua sahabat lamanya tersebut.


"Kami kangen," ucap Vira dan Sofia bersamaan.


Suci hanya diam saja. Suci melihat pandangan banyak orang, dia segera menarik Sofia dan Vira menjauhi yang lain. Kejadian tersebut terlihat oleh Bagus dan Zaki. Aisyah, Kania dan Rara juga sempat melihatnya. Mereka semua bertanya-tanya siapa dan ada apa sebenarnya? begitulah pemikiran mereka.


Suci membawa Sofia dan Vira ke tempat yang tidak mencolok dan menjauh dari semua orang. Dia memandang ke arah Sofia dan Vira. Sofia dan Vira juga melihat kepada Suci. Mereka heran dengan penampilan Suci sekarang. Suci mengenakan hijab dan memakai gamis yang longgar.


Vira dan Sofia serasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka heran dan terbengong.


"Kok kau beda sih, Suci?" tatap Vira ke arah Suci dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Dia serasa pangling.


"Sejak kapan di sini, Suci? ikut pulang sama kita, ya." Sofia mengajak Suci.


"Maaf. Aku tetap ingin di sini."

__ADS_1


"Loh, kenapa? kau masih takut ya. Tenang saja, semua masalahmu sudah kami bantu selesaikan. Jadi sekarang kau bisa ikut kita pulang." Sofia menjelaskan.


"Iya, Suci. Kehidupanmu yang dahulu bisa kembali lagi." Vira menambahkan juga.


Suci mendengarkan penuturan dari Sofia dan Vira. Mereka berkata kalau semua masalah Suci sudah diatasi. Masalah tabrak lari itu pelakunya adalah Gery yang melaporkan, masalah pesta narkoba dan Suci sebagai pecandu narkoba juga ulah Gery. Sofia dan Vira mengatakan kejadian sebenarnya.


Ternyata Gery melakukan semua itu karena dia kesal dengan Suci yang tidak pernah mau melakukan apa yang dia minta, misalnya hubungan ranjang dan hubungan mereka sudah membosankan. Gery juga menjatuhkan karier Suci demi mengganti posisi Suci dengan artis model baru yang dia bawa. Intinya semua laporan dan kejadian tersebut pelakunya adalah Gery.


Suci kaget mendengarnya. Dia tentu sedih dan kecewa. Padahal Suci yang sudah diputuskan dan dikhianati, tetapi Gery tega juga melaporkan dirinya dan membuat semua perkara tersebut untuk menjatuhkan dirinya.


Sofia dan Vira sebisanya membantu. Memang awalnya mereka tidak bisa hadir di dekat Suci saat masa-masa sulit tersebut, karena mereka berdua mendapatkan larangan dari orang tua Vira dan Sofia. Mereka berpikir wajar, jika Suci bakal kecewa. Namun, Sofia dan Vira terus berusaha menyelidiki kasus tersebut dan membuat nama baik Suci kembali baik.


Berkat usaha keras Vira dan Sofia, mereka berhasil memutar balikkan keadaan. Mereka membuat kalau masalah tabrak lari itu tidak benar, dan masalah minum-minum, pesta narkoba serta Suci yang sebagai pecandu bisa dipulihkan oleh Vira dan Sofia, mereka membantah semua. Intinya Vira dan Sofia menghilang semua image buruk dari Suci. Kini karier Suci bisa dikembalikan. Suci bisa kembali ke kehidupannya. Vira dan Sofia malah membalas Gery sehingga Gery tidak bisa mengelak lagi.


Saat Gery melakukan transaksi dengan bandar narkoba, dia pun kena tangkap. Semua usaha serta uang telah Vira dan Sofia lakukan demi Suci. Mereka berharap Suci kembali bersama mereka.


Suci yang mendengar ikut senang dan terharu akan kerja keras dua sahabatnya. Suci kira mereka berdua melupakan dan benar-benar mengabaikan dirinya, ternyata tidak begitu.


"Maafkan kami, Suci. Waktu dikejar polisi waktu itu, kami tidak sengaja meninggalkanmu. Kami panik lalu insiden beritamu, masalah kasusmu yang bikin heboh itu membuat kami kaget, kami berusaha semampunya." Sofia menjelaskan.


"Iya. Maafkan kami yang lama baru mendatangimu."


Setelah semua masalah tersebut barulah Sofia dan Vira menelepon Suci. Syukurlah nomernya masih sama. Kini akhirnya mereka bisa saling bertemu.


"Terima kasih ya Vira, Sofia. Namun, aku tetap akan di sini."


"Loh, kenapa? kau marah dengan kami, ya? kami sudah minta maaf dan mengembalikan nama baikmu." Sofia menatap sedih ke arah Suci.


"Iya nih atau kau sudah kena virus anak-anak di sini, ya." Vira pun menatap sinis. Dia tidak suka kalau Suci berubah sok alim begitu.


"Aku sudah memaafkan kalian. Kita masih berteman baik. Aku berterima kasih kepada kalian berdua. Namun, aku memilih untuk tetap di sini. Di sini aku lebih nyaman. Di sini lebih damai." Suci tersenyum lembut.


"Aku juga berharap, kalian juga bisa ikutan mondok di sini. Lagian semua masa lalu itu benar, aku memang berdosa seperti itu." Suci menundukkan kepalanya. Dia mengajak Vira dan Sofia agar juga berubah seperti dirinya.


"Hah? mondok di sini? maksudnya tinggal di sini? gak bakalan. Kau kenapa sih, Suci? kok jadi sok alim gitu sih." Vira mulai tidak suka akan sikap Suci.


"Aku hanya bicara demi kebaikan kalian berdua. Aku juga masih dalam proses membenahi diri."


"Jangan mentang-mentang namamu Suci, sehingga kau jadi sok suci!" Vira mulai nyolot. Dia terlihat marah.


"Vir, tenang." Sofia membujuk Vira agar tidak marah. Terlihat wajah menegang di antara mereka bertiga.


šŸ€šŸ€šŸ€šŸ€


Mari dukung ya gaes šŸ¤— kasih like dan komentar ya. Selamat berpuasa ya untuk semuanya šŸ¤—šŸ™

__ADS_1


__ADS_2