
"Lepas gak? Aku teriak ini," ancam Yoan yang merasa sudah terpojokkan. Ia tak bisa berkutik lagi.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman kamu? Sekarang itu aku yang paling berhak atas dirimu," ucap Bayu dengan sinis.
Baru saja Bayu melepas paksa cadar dan kerudung Yoan. Suara telepon dari pantry begitu sangat keras terus menerus berbunyi.
Yoan menatap ke arah pintu ruangan dan mendengarkan jelas suara telepon yang berbunyi berulang kali.
"Kamu cantik sekali, Yoan. Ternyata kamu lebih cantik dari yang aku bayangkan. Pantas saja, Pak David begitu tergila -gila kepada kamu. Ternyata ...." ucapan Bayu terhenti. Ia mulai kalap membelai pipi Yoan dengan sangat lembut. Setiap inchi kulut mulus itu di jelajahi dengan jari jemarinya.
Yoan menahan napasnya yang terus menderu. Tubuhnya tak bisa bergerak bebas. Dua tangannya di cengkeram sangat kuat dan begitu erat ke arah atas kepalanya dan tubuhnya di tekan erat di dinding dengan kedua kaki yang di kunci rapat oleh Bayu sehingga Yoan benar -benar kesulitan untuk bergerak dan berontak.
BRAK!!
Suara pintu ruangan yang di dobrak dengan sangat keras membuat Yoan dan Bayu terkejut dan langsung menatap ke arah pintu ruangan itu.
"Bajingan kau!! Lepaskan Yoan!!" teriak ku dengan sangat keras.
Aku kalap melihat Bayu yang begitu terlihat menekan Yoan ke dinding. Tanganku terkepal erat dan siap memukul rata seluruh tubuh Bayu yang sudah berani menyentuh ibu dari kedua anakku. Bukan hanya itu ia sudah berani membuka jilbab dan cadar Yoan dengan paska dan itu sangat jelas terlihat di depan matanku.
__ADS_1
Yoan berlari ke arah ku dan berlindung di belakang punggung kokoh ku.
"Aku takut, Mas," ucap Yoan dengan suara bergetar. Ia terus memegangi jas hitamku.
Bayu menatap tajam ke arah David.
"Oh ... Skandal OB baru dengan Bosnya? Pegangan tangan di parkiran, memeluk dari belakang. Terus? Kamu di bayar berapa untuk melakukan itu, Yoan," ucap Bayu semakin membuat David naik darah.
Bugh!!
"Jaga ucapanmu!! Kalau kau tidak mau di pecat dari tempat ini," ucap David memperingati Bayu dengan suara keras.
Yoan masih ketakutan berdiri di belakang David. David pun berbalik memeluk Yoan dengan erat. Sebisa mungkin, David ingin memberikan kenyamanan untuk wanita yang disayanginya itu.
"A -aku ingin cari pekerjaan lain," ucap Yoan pelan.
David pun mengendurkan pelukannya pada Yoan.
"Kalau soal uang. Mas, bisa memberimu," ucap David memastikan.
__ADS_1
"Bukan soal uang, Mas. Tapi ... Aku butuh untuk si kembar," ucap Yoan pelan.
"Itu tanggung jawabku, Sayang. Kamu gak perlu pusing. Tinggal bilang, berapa butuhmu," ucap David pelan.
"Mas?" panggil Yoan lirih.
"Ya, Sayang," jawab David pelan.
"Aku resign saja dari sini. Di sini kayak gak cocok buat aku," ucap Yoan pelan.
"Terus? Kamu mau di rumah saja? Itu lebih baik. Mas hanya ingin kamu fokus sama Raja dan ratu," ucap David menasehati.
"Aku ingin cari pekerjaan yang bisa ku bawa si kembar tanpa harus meninggalkan mereka," ucap Yoan pasrah.
"Pekerjaan apa yang bisa bawa anak? Gak ada Yoan," ucap David ragu.
"Pasti ada. Jadi baby sitters mungkin seklaigus aku mengurus si kembar?" ucap Yoan pelan.
"Kamu mau urus si kembar dan anak orang lain? Lalu anak kita yang akana jadi korbannya. Mas gak mau, dia gak dapat kasih sayang," ucap David mulai kesal.
__ADS_1