
Sore ini, Yoan dan si kembar berjalan -jalan di sekitar taman. Seperti biasa ia mencari udara segar sekaligus, mengajak kedua anak kembarnya bermain dan memperkenalkan alam sekitarnya.
Siang tadi, saat di antar pulang oleh David ke kontrakannya. David berpesan untuk menunggunya di taman tepat jam lima sore. Yoan sudah berputar dengan stollernya berkeliling taman itu.
Yoan berjalan melewati seorang nenek tua yang terlihat seperti merajuk. Di sebelahnya ada seorang perawat yang sepertinya bertugas untuk menjaga dan merawat nenek itu. Ia membawa satu kotak makan dan sedang merayu Sang Nenek untuk makan dan minum obat.
Awalnya Yoan tidak peduli da tak merespon apapun. Tapi pada putaran kedua, ia mulai merasa iba kepada perawat itu yang malah di diamkan oleh Nenek tua yang sedang di jaganya itu.
Tatapan kedua mata Nenek tua itu fokus melihat ke arah si kembar. Namun, bibirnya seolah terkunci dan sama seklai tak bergeming atau pun memberikan senyum terbaik.
Tepat pada putaran ketiga. Tatapan Nenek Tua masih ke arah stoller anak kembarnya. perlahan Yoan pun berhenti dan menyapa Nenek tua itu.
"Sore Nek? Sedang apa?" tanya Yoan dengan sangat ramah. tak lupa, senyum terbaik Yoan selalu di tampakkan di sana. Tubuhnya yang mungil dan kebil, hanya memakai celan jeasn panjang dnegan kaos oblong dan rambut yang di biarkan tergerai indah di punggungnya semakin membuat Yoan terlihat sangat cantik dan mempesona sebagai HOT MAMA atau lebih viralnya MAMAH MUDA.
Nenek tua itu hanya mengangguk pelan dan terus menatap ke arah si kembar yang juga seperti menyapa Sang Nenek.
"Nenek mau coba gendong? Sepertinya mereka mau bermain dengan Nenek," ucap Yoan pelan.
"Maaf Non. Nenek Ana harus makan, tidak ada waktu untuk berbincang setelah ini, beliau harus bertemu dengan tamu agungnya," ucap peawat itu menjelaskan.
__ADS_1
"Oh begitu. Maaf, kalau begitu saya mau lanjut jalan -jalan lagi," ucap Yoan pelan.
"Jangan!! Boleh saya menggendong anak lucu itu. Mereka kembar?" tanya Nenek tua itu pelan.
"Boleh Nek. Mereka memang kembar, dan masih bayi. Namanya, Raja dan Ratu," ucap Yoan pelan. Yoan mengambil Raja terlebih dahulu yang terlihat sangat ingin sekali di gendong.
"Wah ... Nama yang bagus. Raja dan Ratu, seperti nama penguasa atau pewaris besar," ucap Nenek tua itu dengan suara tegas.
Nenek tua itu sudah bersiap ingin menerima Raja dalam pangkuannya. Sejak tadi, beliau ingin sekali menggendong bayi lucu dan montok itu.
"Nenek mau gendong?" tanya Yoan dengan suara pelan.
"Oke. Tapi sambil makan ya? Terus minum obat," ucap Yoan pelan.
"Oke. Tapi kamu yang suapi saya," ucap Sang Nenek pelan.
"Siap," ucap Yoan semangat.
Yoan pun memebrikan Raja kepada Nenek tua itu dan mengambil kotak makanan dari perawat itu dan berbisik.
__ADS_1
"Sejak tadi kau bingung kan? Beliau tidak mau makan dan minum obat. Biar ku bantu, tugasmu," ucap Yoan pelan.
Perawat itu mengangguk pelan dan tersenyum. Memang sejak tadi ia bingung, bagiamana caranya agar Nenek majikannya itu mau makan.
Akhirnya satu kotak makan itu pun habis. Obat pun di minum semua tanpa ada drama.
"Nama Nenek siapa?" tanya Yoan plean.
"Anna. Panggil saja, Nenek Anna<' ucap Nenek itu pelan.
"Kamu?" tanya Nenek itu pelan.
"Yoan. Yoan Pratiwi, bisa di panggil Yoan atau Tiwi," ucap Yoan pelan.
"Suamimu?" tanya Nenek Anna pelan.
Deg ...
Pertanyaan ini yang selalu membuat Yoan bersedih.
__ADS_1