
Tepat di saat yang sama, Ratu pun terbangun dan Yoan langsung mencari alasan untuk mengangkat bayi kembar tersebut.
Yoan memangku Ratu tepat di samping Nenek tua itu dan bercanda bersama.
"Lucu sekali, bayi kembar ini. Aku menyukai mereka. Andaikan saja aku memiliki cucu yang begitu lucu seperti ini, tentu aku akan selalu betah bermain di rumah bersama mereka," ucap Nenek tua itu sambil tersenyum pilu.
"Ekhemmm ... Bisa, kita bisa ketemu di tempat ini setiap hari. Asal Nenek mau makan dan minum obat dengan teratur," ucap Yoan menjanjikan.
"Kau yakin? Kau serius dengan ucapanmu Yoan. Lebih baik kau main saja di rumahku. Rumah ku juga besar seperti taman ini, mungkin anak kembar ini juga akan betah berada di sana," ucap Nenek tua itu mengajak Yoan untuk bermain dan mampir ke rumahnya.
"Ekhemmmm ... Nanti malah merepotkan," ucap Yoan sedikit ragu. Ia tak terbiasa berkumpul dnegan orang baru, apalagi smpai main ke rumah mereka seolah sedang mencari jati diri atau memanfaatkan situasi dan kondisi.
"Gak. Sama sekali tidak akan merepotkan," ucap Nenek tua itu dengan senang sekali.
"Tapi, Nek. Yoan sedang mencari kerja," ucap Yoan pelan.
__ADS_1
"Kerja? Lalu kedua anak kembarmu, bagaimana?" tanya Nenk tua itu bingung. Ia terus mengajak Raja tersenyum, bercanda dan tertawa.
"Kalau bisa ku bawa, akan aku bawa. Tapi, kalau memang tidak bisa, bisa Yoan tinggal bersama Ibu kost Yoan atau tetangga sebelah," ucap Yoan menjawab pertanyaan Nenek tua itu.
"Ini kartu nama Nenek. Datanglah besok pagi, ada pekerjaan khusus untuk kamu," ucap Nenek tua sambil memberikan kartu nama kepada Yoan.
Yoan menerima kartu nama itu dan membaca.
"Hemmm ... Nenek Ana?" tanya Yoan pelan sambil menggendong Ratu.
"Gak usah, Nek. Biar besok pagi Yoan ke sana saja sediri," ucap Yoan pelan.
"Tapi ingat ... Bawa anak -anak kamu," ucap Nenek Anna berpesan.
"Ekhemm ... Baiklah, Nek," jawab Yoan pasrah.
__ADS_1
Hari memang sudah semakin sore, langit pun mulai meredup dan senja itu akan berganti malam sebentar lagi.
"Aku harus pulang. Makan sore ku sudah habis, dan au sudah minum obat. Ini semua berkat dua malaikan kembar ini. Mereka sudah kua anggap seperti cucuku sendiri. Aku senang, jika tawaranku kau ambil. Aku harap, apapun pekerjaannya, kau akan menyukainya, dan yang terpenting, aku bisa bermain dengan si kembar ini. Merekberdua benar -benar lucu dna menggemaskan," ucap Nenek Anna yang semakin jatuh cinta pada si kembar.
Nenek Anna dan perawat yang bertugas khusus untuk merawat majikannya itu pun sudah bangkit berdiri. Nenek Anna sudah meletakkan Raja kembali pada stollernya. Berat rasanya berpisah dengan bocah bayi lucu itu. Tapi, mau bagaimana lagi, Nenek Anna harus cepat kembali sebelum maghrib, karena akan kedatangan tamu.
"Aku pulang dulu," ucap Nenek Anna pelan berpamitan dengan Yoan.
Yoan yang masih menggendong Ratu pun mengangguk kecil. Pertemua dengan Nenek Anna semoga membuhkan hasil. Mungkin memang ini sudah garis takdir untuk Yoan, mendapatkan suatu pekerjaan setelah ia benar -benar resign dari perusahaan besar itu.
"Sebentar ... Aku sepertinya perah melihtamu, Yoan? Kamu bekerja di mana sebelumnya?" tanya Nenek Anna yang berbalik lagi bertanya pada Yoan karena penasaran.
"Ekhhemm .. Di Baskoro Group, Nek," jawab Yoan pelan.
"Apa? Baskoro Group?" tanya Nenek Anna tak percaya.
__ADS_1