TOBATNYA PRIA SEJATI

TOBATNYA PRIA SEJATI
HUBUNGAN KITA SEPERTI APA


__ADS_3

Sore itu Nenek Anna sudah kembali ke rumah besar. Sempat terkejut dnegan ucapan Yoan tadi. Nenek Anna sudah tidak sabar ingin bertanya kepada David soal Yoan, wanita yang ia temui di taman itu.


"Maaf, Mas datang terlambat. Sudah makan?" tanya David tiba -tiba sudah duduk di sisi Yoan. Tubuhnya penuh dengan keringat mengucur di sekitar kening dan kemejanya juga terlihat sedikit basah.


"Mas David dari mana? Kok munculnya dari sana? Berkeringat lagi?" tanya Yoan pelan sambil mengelap keringat itu dnegan telapak tangannya.


"Banyak ya? Motor Mas mogok tadi, jadi harus dorong ke bengkel," ucap David pelan.


"Banyak banget. Kita mau kemana," tanya Yona kemudian. Perutnya sudah lapar, tenggorokannya juga mulai mengering. Di tambah tubuhnya mulai terasa dingin dari angin sejak sre hingga menggelap.


"Kamu sudah lapar, Sayang? Yuk ... Kita makan di sekitar sini saja ya? Masgak bisa menginap di rumah kamu, malam ini. Besok ada acara penting di rumah," ucap David pelan.


"Iya Mas, gak apa -apa. Besok, aku juga ada kerjaan baru sepertinya. Aku di minta datang, dan yang lebih menyenangkan, aku di perbolehkan membawa si kembar," ucap Yoan penuh semangat.


"Oh ya? Kerja apa? Besok Mas antar ya?" ucap David pelan.

__ADS_1


"Gak usah Mas. Aku bisa naik taksi kok. Kita bisa ketemu sore lagi," ucap Yoan pelan.


"Oke. Sekarang mau makan apa?" tanya David pelan.


"Ekhemm ... Aku boleh tanya sesuatu Mas?" tanya Yoan pelan.


Sejak sore perasaan Yoan memang kurang enak tentang David. Dulu, Yoan sama seklai tak pernah mencintai David hingga ia harus melarikan diri dan melahirkan bayi kembarnya seorang diri. Itu semua karena kebencian Yoan kepada David yang telah merenggut paksa keperawanannya hingga ia mengandung.


Lama -kelamaan, Ben, teman se -profesinya di club memberikan nasihat. Di tambah lagi, Susi, istri Ben juga memberikan semangat dan motivasi positif kepada Yoan. Hingga Yoan bisa menerima keberadaan David. Semua memang bukan tidak sengaja, tapi ada sedikit drama yang terlihat wajar dan alami. Yoan memang mencari David kembali setelah melahirkan bayi kembarnya.


Pikiran Yoan kembali terbuka, biar bagaiamana pun, kedua bayinya ini membutuhkan sosok Ayah, bukan hanya materi saja, aau sosok seorang Ibu.


"Maaf kalau aku lancang bertanya soal ini," ucap Yoan sedikit rgu.


"Apa? Mas gak bisa menilai dong? Kamu belum ajukan pertanyaan apapun," ucap David pelan.

__ADS_1


"Hubungan kita mau di bawa kemana?" tanya Yoan lirih.


David mengusap pelan punggung tangan Yoan yang di genggam dengan erat itu allu di kecup punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu siap, jika aku nikahi besok?" tanya David pelan.


Kedua mata Yoan langsung mengerjap hebat dan menatap ke arah David.


"Besok? Secepat itu?" tanya Yoan pelan.


"Kenapa? Kamu meragukan Mas?" tanya David pelan.


"Gak Mas. Tapi ... Aku belum kenal kamu dan keluarga kamu, Mas," ucap Yoan pelan.


"MAs juga belum kenal kamu seutuhnya dan sama sekali tak mengenal keluarga kamu," ucap David lantang.

__ADS_1


"Aku hanya punya mereka. Aku sudah di usir dari rumah, semenjak kejadian itu, Mas," ucap Yoan pelan.


"Kamu serius, Sayang?" tanya David pelan sambil menatap lekat kedua mata Yoan yang terlihat bingung.


__ADS_2