
Pagi itu, sesuai dengan janji Yoan kepada Nenek Anna. Yoan datang ke alamat sesuai dengan kartu nama bersama si kembar. Niat baik Yoan untuk mencari pekerjaan yang cocok tanpa meninggalkan kedua buah hatinya.
"Permisi, bisa bertemu dengan Nenek Anna?" tanya Yoan pelan kepada satpam yang sedang berada di pos satpam.
"Nenek Anna? Anda siapa?" tanya satpam itu sambil menatap Yoan dari atas kepala hingga bagian bawah kakinya.
"Iya, Nenek Anna? Apakah beliau ada di rumah?" tanya Yoan pelan.
"Memang ada keperluan apa?" tanya satpam itu masih tidak percaya dengan ucapan Yoan.
Nenek Anna termasuk wanita elite dengan tipe pertemanan yang juga setara dengan dirinya, bukan wanita biasa seperti Yoan.
"Beliau memberikan kartu nama ini dan menyuruh saya untuk datang pagi -pagi melamar pekerjaan di sini," ucap Yoan jujur.
"Apa? Melamar pekerjaan? Di isni tidak ada lowongan kerja, semua sudah terisi penuh. Apalagi, kamu membawa dua anak kembar begini? Ini anak kamu? Nanti malah bikin susah, mau kerja apa mau titip bayi di sini?" tnaya satpam itu ketus dengan nada tinggi.
"Tapi ... Nenek Anna yang menyuruh saya datang ke rumah ini. Bisa bicara sebentar saja? Tolonglah, Pak?" ucap Yoan dengan naa memohon.
__ADS_1
"Sudah ... Mending kamu pergi sekarang, sebelum aku mengusir kamu," ucap satpam itu dengan suara keras dan lantang membentak Yoan.
"Anda mengusir saya, Pak?" tanya Yoan pelan.
"Tentu saja. Kamu kira saya bercanda?" tanya satpam itu dengan suara yang sangat tegas.
Yoan tak banyak bicara, tubuhnya seolah sudah terpogram dan berbalik untuk kembali pulang ke rumah kostnya.
"Yoan!!" teriak Nenek Anna dengan suara keras memanggil ibu dua anak kembar itu.
"Nenek!!" teriak Yoan dengan suara keras menjawab panggilan Nenek Anna hingga membuat satpam yang mengusirnya tadi menunduk malu.
"Sini Yoan. Saya sudah menunggu kamu sejak tadi. Ku pikir kamu tak datang atau kesasar," ucap Nenek Anna tertawa ringan.
"Saya tidak tahu kalau ternyata Nenek Anna adalah pemilik perusahaan besar di kota ini. Saya sungguh merasa beruntung jika benar di tawari sebuah pekerjaan," ucap Yoan pelan.
Nenek Anna mengangguk senang dan mengambil stoller Yoan lalu mendorong kereya bayi itu sudah seperti cucunya sendiri.
__ADS_1
"Kamu bisa masak, Yoan?" tanya Nenek Anna pelan kepada Yoan yang berjalan di sisi Nenek Anna.
"Bisa Nek. Nenek mau saya masakkan apa?" tanya Yoan pelan.
"Soto betawi," jawab Nenek Anna sumringah.
Ia ingin mengingat masa bahagianya dahuku bersama Baskoro, suaminya. Hampir setiap hari lelaki pekerja keras iru membawakan soto betawi untuk makan malam. Beberapa hari ini ia rindu dengan mendiang suaminya dan ingin sekali makan makanan istimewa itu.
"Bisa Nek. Sudah ada bahannya?" tanya Yoan dengan cepat.
"Sudah ada semua di dapur. Kalau kamu lulus tes ini. Kamu akan saya jadikan asisten pribadi saya. Dengan begitu kamu bisa bekerja sambil membawa kedua anakmu dan bermain disini. Berikan yang terbaik untuk si kembar. Aku rindu dengan mereka, seperti ada ikatan batin tersendiri saat menggendong dan mencium mereka," ucap Nenek Anna dengan jujur.
"Baik Nek. Terima kasih atas kebaikan Nenek kepada saya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap Yoan pelan.
Yoan pun di antar ke dapur dan mulai memasak soto betawi. Tak sampai setengah jam. Soto betawi itu sudah selesai di buat.
Aroma wangi soto yang di sajika Yoan di mangkuk porselen itu sangat menggugah selera Sang Nenek.
__ADS_1