TOBATNYA PRIA SEJATI

TOBATNYA PRIA SEJATI
RENCANA AWAL


__ADS_3

Hari ini adalah acara lanjutan tadi malam. Rencananya memnag ingin lebih mendekatkan David dan Ineke, karena David tidak pernah bisa membawa kekasihnya datang ke rumah ini.


Taman depan sudah di sulap menjadi tempat yang sangat indah, mirip seperti party garden yang ada di televisi.


Semua tempat prasmana yang di pesan Nenek Anna juga sudah lengkap tersaji di sana.


"Ini acara apa, Nek?" tanya Yoan pelan sambil mendorong stolernya.


"Ini acara cucu Nenek tadi, David. Niatnya mau di jadikan acara lamaran atau tunangan, tapi David menolak. Jadi, mungkin hanya sebagai acara biasa saja," ucap Nenek Anna pelan menjelaskna.


"Lamaran? Pak David belum menikah?" tanya Yoan basa basi.


"Belum. Susah jodoh kayaknya. Tadinya sih, pilih -pilih malah sekarang jadi susah milih calon istri. Dulu, cucu Nenek itu nakal sekali, sering pulang malam, clubbing setiap hari, balapan, main perempuan, sampai akhirnya, Nenek ultimatum untuk menikah. Tanpa di sadari satu tahun berlalu, ia berubah seratus delapan puluh derajat menjadi anak baik dan lembut," ucap Nenek Anna memuji David.


"Bagus dong, Nek," jawab Yoan pelan mengitari taman depan berjalan lurus ke arah taman belakang yang menyatu menjadi satu.


Nenek Anna tersenyum menatap Yoan.

__ADS_1


"Kalau kamu, gimana? Suamimu kerja di mana?" tanya nenek Anna pelan.


Yoan menunduk menahan rasa isak tangisnya. Andaikan saja, Nenek Anna mengetahui yang sebenarnya.


"Kok diam? Gak mau cerita sama Nenek?" tanya Nenek Anna pelan.


"Ekheemm ... Yoan belum punya suami, Nek," ucap Yoan jujur.


"Belum punya suami? Llau, mereka? Bukan anak kamu?" tanya Nenek Anna bingung.


"Mereka berdua anak saya, Nek. Lahir dari rahim saya sendiri," ucap Yoan pelan.


"Itu masa lalu, Nek. Tidak perlu di bahas lagi, sudah satu tahun yang lalu kejadiannya," ucap Yoan menyudahi pembahasan ini.


"Tidak bisa begitu. Lebih baik, kamu tinggal di sini saja, Yoan. Kamu bisa merawat Nenek dua puluh empat jam. Selain itu, Nenek sudah jatuh cinta dengan si kembar yang lucu dan gemuk ini," ucap Nenek Anna pelan.


"Tidak Nek. Yoan mending tinggal di kost saja," jawab Yoan pelan.

__ADS_1


"Jangan bantah keinginan Nenek. Nenek hanya mau makan masakan kamu saja," ucap Nenek Anna memohon.


"Nek ... Yoan tidak bisa tinggal di sini," ucap Yoan pelan. Alasan lainnya adalah David. Kalau memang David sudah akan di jodohkan mending Yoan mundur dan mengurus si kembar sendirian.


'Kamu kenapa? Trauma?" tnaya Nenek Anan seolah bisa membaca pikiran Yoan.


"Gak Nek. Bukan itu," ucap Yoan menjawab sopan.


"Lalu? Cucu Nenek baik lho. Lagi pula kamu pasti sudah kenal David dengan baik, bukan kah David itu mantan bos kamu juga?" tanay Nenek Anna memastikan.


"Iya sih Nek. Tapi, Yoan kan kerja hanya beberapa hari saja. Tidak lama," ucap Yoan pelan.


Nenek Anna tertawa keras hingga membangunkna si lembar yang langsung menangis.


"Ehhh Maaf, Sayang, Nenek berisik ya?" ucap Nenek Anna pelan lalu menggendong Ratu yang menangis terlebih dahulu.


Yoan hanya menatap Nenek Anna sendu. Ia tak mungkin membongkar rahasianya sendiri. Tatapan matanya berpindah ke arah teras halaman, ada David di sana yang sejak tadi engamati Yoan dan Nenek Anna sambil menikmati kopi dan berpura -pura membaca koran. David mengedipkan satu matanya kada Yoan dan tersenyum lebar.

__ADS_1


Dalam hati David begitu senang, jika Yoan mau tinggal di sini. Ini semua awal rencana yang baik, walaupun harus ada rencana lain yang di jalankan juga demi kelancaran semua maksud dan tujuannya.


"Lihat apa?" tanya Nenek Anna tersenyum kepada Yoan.


__ADS_2