
Hari pertama bekerja sebagai asisten pribadi Nenek Anna tidaklah semudah yang di kira. Apalagi Yoan sambil mengurus du anak kembaranya yang masih bayi. Justru kedua byi ini butuh asisten yang mengurus agar Yoan tidak kerepotan di setiap pagi.
Mengurus anak bukanlah urusan gampang. Terlebih harus mengurus bayi yang masih berusia tiga bulan dan kembar. Amazing sekali.
Kata orang punya anak kembar itu susah -susah gampang. Gampangnya, kalau mengurus seklaigus, jadi capekya juga sekaligus. Susahnya, kalau yang satu sakit, si kembar lainnya juga akan sakit. Apalagi tahu sendiri, bayi sakit itu rewelnya uar biasa, yang mengurus pun tidak hanya kerepotan tapi juga serba salah denagn keinginan bayi yang tidak kita ketahui. Namanya juga bayi, belum bisa bicara.
Pagi -pagi seklai, Yoan sudah membuat sarapan pagi khusus buat Nenek Anna sesuai permintaan Nenek Anna yang sudah terjadwal semua menu makanan yang harus di siapkan sebelum kedua bayi kembarnya itu menangis.
Yoan sudah harus mulai membiasakan diri berada di lingkugan yang mewah ini.
"Yoan. Kamu beruntung bisa jadi asisten pribadi Nenek Anna. Kamu tahu, nasib perawat kemarin yang merawat Nenek Anna?" tanya salah seorang asisten rumah tangga yang berumur hampir sama dengan Yoan.
Yoan yang sedang menyiapkan bumbu dan memotong beberapa bahan makanan pun hanya melirik ke arah wanita yang mengajaknya bicara dan tersenyum simpul.
"Dia di pecat. Karean tidak peduli dengan Nenek Anna. Soal kamu yang mau bekerja di sini juga, malam itu sudah di infokan kepada kami semua agar bisa menjadikan kamu sahabat, bukan musuh," ucap asisten rumah tangga itu tersenyum lebar hingga menampilkan giginya yang putir dan tertata rapi.
Sesuai dengan nasihat Nenek Anna. Yoan tidak boleh begitu akrab dnegan semua orang di sini terutama para asisten yang ujung -ujungnya mencari muka dan menjatuhkan teman dan rekan kerjanya sendiri.
"Ekhem ...." David berdehem keras dan melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
Yoan menoleh ke arah belakang dan membuat beberapa asisten rumah tangga yang sedang berbicara pun langsung pada bubar jalan.
"Pak David?" sapa Yoan sedikit canggung.
"Mas David bukan Pak David," ucap tegas David kepada Yoan sambil menatap lekat pada kedua mata Yoan.
Para asisten yang mendengarnya pun menatap ke arah David tak percaya.
"Mas David ada perlu apa?" tanya Yoa pelan dan lembut. Ia segera membenarkan panggilannya agar perdebatan pagi itu selesai dan tidak perlu lagi di lanjutkan.
"Buatkan Mas kopi hitam, sama cemilan. Kamu masak apa?" tanya david menatap beberapa bumbu dan potongan sayur di salah satu piring.
"Boleh lah satu. Kirim di atas ya," titah David sambil mengedipkan satu matanya kepada Yoan.
Yoan hanya mengangguk pasrah. Dengan cepat Yoan membuat kebab besar iian sayuran sebanyak dua porsi saja. Satu untuk Nenek Anna dengan wijen di atasya, satu lagi untuk David dengan saos sambal pedas di sekitar piring itu.
Yoan menyiapkan satu nampan besar dengan isi dua kebab besar, kopi hitam dan teh manis panas untuk Nenek Anna.
Pertama, Yoan masuk ke dalam kamar Nenek Anna dan meletakkan sarapannya di meja. Begitu keinginan Nenek Anna.
__ADS_1
Kedua, Yoan mengantarkan makanan ke kamra David yang memang sengaj tidak di kunci.
Tok ... tok ... tok
"Permisi ...." panggil Yoan pelan. Merasa panggilannya tidak di jawab. Yoan pun masuk ke dalam dan belum sempat pintu itu di tutup karena Yoan hanya ingin meletakkan makanan itu dan kembali bekerja lagi untuk Nenek Anna membantu persiapan acara nanti menjelang siang.
Ceklek ...
David yang sejak tadi bersembunyi di belakang pintu kamar pun langsung menutup rapat dan menguci pintu kamar itu.
Dengan cepat, Yoan meletakkan makanan itu untuk David.
"Di makan Mas, pasti enak," ucap Yoan pelan.
"Enak makan kamu, pagi -pagi begini," ucap David yang hanya memakai boxer saja dan kini sudah memeluk Yoan dari arah belakang dan mulai menciumi gadis itu dengan penuh semangat.
"Mas ...." ucap Yoan sedikit mendesah kegelian.
"Mas ingin bermain singkat saja," bisik David membuat tubuh Yoan seketika merinding.
__ADS_1