
Kejadian siang tadi membuat Yoan makin waspada lagi. Rasa traumanya mulai muncul lagi. Yoan ingat saat David memaksanya dulu untuk melakukan hal tidak senonoh itu.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya David pelan sambil memegang tangan Yoan dengan erat.
Seperti sedang di sadarkan oleh David, Yoan pun memaksakan senyumnya ke arah David.
"Kenapa?" tanya David kepada Yoan.
Yoan hanye menggelengkan kepalanya pelan. David yang kini ada di depannya meman sudah berubah seratus delapan puluh derajat dengan David yang ie kenal dulu.
"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya David pelan sedikit ragu.
"Gak Mas. Sama sekali gak. Aku cuma berpikir, kira -kira aku mau kerja apa setelah ini?" tanya Yoan pelan.
"Mas akan menikahimu. Jangan bingung, Sayang," ucap David pelan meyakinkan Yoan.
"Kasta kita berbeda Mas. Aku hanya mantan seorang DJ, dan hidup di kehidupan malam. Mana adayang mau menerimaku sebeagai menantu? Mereka akan menganggapku sebagai wanita benalu yang hanya menginginkan uangmu saja," ucap Yoan sudah berprasangka buruk.
Ini adalah salah satu alasan Yoan pergi dari kehidupan David saat itu. Sewaktu Yoan tahu mengandung anak David, ia mencari tahu tentang David. Yoan mundur, dan tidak memberitahukan hal ini kepada David dan memilih menghilang.
David mengankat tangan Yoan dan di kecup punggung tangan Yoan dengan lembut.
__ADS_1
"Lebih susah berpisah dari kamu dan anak -anak. Harta bisa Mas cari, tapi seseorang yang telah membuat Mas berubah? Tak akan mungkin Mas sia -siakn untuk kedua kalinya," ucap David pelan.
David memang orang baik hanya aja ia terlalu memakai kekuasaannya dan kekayaannya untuk memberikan kesan yang tak baik. Banyak wanita yang ia permaikan dan di renggut kehormatannya, bagai tissu yang sekali di pakai dan di buang begitu saja.
"Aku mau pulang. Toh, aku sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan ini," ucap Yoan melepaskan genggaman erat tangan David.
"Mas antar pulang. Ayok ...." ucap David tegas sambil bangkit berdiri menunggu Yoan berdiri juga.
"Aku pulang sendiri aja, Mas. Mas kan harus kerja," ucap Yoan pelan.
"Gak. Mas hanya ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat," ucap David pelan.
"Sayang ... Sangat sayang sekali," ucap David semangat.
"Jadi ...." ucapan Yoan sengaja di hentikan.
"Jadi apa?" tanya David pelan.
"Mas kerja saja. Cari uang yang banyak," ucap Yoan memasehati.
"Oke. Untuk kamu dan kedua anak kita. Untuk biaya pernikahan kita," ucap David pelan.
__ADS_1
Yoan hanya mengangguk pasrah. Yoan tidak mau berdebat dan membuat masalah ini menjafi lebih panjang lagi.
"Ayok kita pulang," ucap David tegas.
Tarikan napas dalam hanya itu yang bisa di alkukan Yoan saat ini.
"Ya sudah. Ayok," ucap Yoan pasrah.
Semua orang mulai bertanya tanya siapakah gerangan Yoan itu. Ada hubungan apa, Yoan dengan David sebagai pewaris.
"Mas ... lihat semua mata memandang ke arah ku," ucap Yoan setengah menunduk.
"Terus? Kamu malu jalan dengan Mas?" tanya David ketus.
Ia saka bisa bersikap masa bodoh. Kenapa harus peduli dengan anggapan orang?
"Seharusnya Mas yang malu jalan dengan OB seperti aku," ucap Yoan memunduk.
"Awas nabarak. Lihat jalan yang benar!" ucap David memberi tahu.
Hampir saja Yoan menabrak pintu lift.
__ADS_1