
Hari pertama Yoan berada di rumah besar milik Nenek Anna atas keinginan Nenek Anna.
Kedua anak kembarnya, Raja dan Ratu sudah tertidur pulas di dalam box bayi baru mereka yang juga kembar dengan warna pastel senada dengan cat tembok di dalam kamar itu.
Yoan sudah mandi dan sudah memakai pakaian yang bagus pemberian Nenek Anna.
Kamar ini begitu lengkap dan semua barangnya begitu mewah dan berbahan premium. Tidak ada yang yang terlihat murah di kamar ini.
Yoan bercermin di depan kaca rias. Ia menatap dirinya yang sedikit berbeda. Wajahnya terlihat sedikit berwarna karena make up yang di sediakan Nenek Anna. Tadi, Nenek Anna berpesan agar Yoan sellau memakai pakaian yang bagus setidaknya mini dress dan berdandan tanpa mengikat rambutnya yang panjang.
Setiap hari Yoan akan bertemu dnegan banyak orang karena kan mengantarkan Nenek Anna bertemu dengan beberapa klien lamanya.
Bulan depan perusaahn akan di berikan kepada David, dan di biarkan David mengurus bersama dengan istrinya.
__ADS_1
"Anak -anak sudah tidur, sayang?" tanya David pelan sambil memeluk Yoan dari belakang dan mencium leher Yoan lembut sambil menggigit kecil dengan gemas.
"Mas ... Ini did rumah lho? Nanti ada orang dan tahu tentang kita bagaimana? Mereka kan menghujat Yoan," ucap Yoan yang sudah ketakutan sendiri.
Wajahnya begitu cemas sambil menatap ke arah pintu kamar. Kalau saja ada yang masuk tanpa permisi dan keduanya sedang bemesraan seperti ini.
"Terus? Ada yang beranimengusir kamu? Mereka harus berhadapan dengan Mas," ucap David tegas.
David memutar tubuh Yoan dan kini mereka saling berhadapan. Perlahan bibir David mendekat dan mulai mengecup bibir Yoan dengan lembut dan sangat menikmati. Bibir mungil dan tipis itu sudah menjadi candu bagi David.
Yoan pun berjalan menuju kasurnya dan duduk di tepi ranjang. Entah apa saat ini yang ia rasakan. Perasaannya kembali hancur seperti dulu. Baru saja ingin merengkuh kebahagiaan, tetap saja tak bisa berjalan dengan mulus sesuai dengan keinginan dan harapannya.
David ikut melangkah menghampiri Yoan dan erjongkok di depan gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu gak mau Mas nikahi secara SAH?" tanya DAvid kemudian.
Tatapan Yoan begitu lekat dan sendu. Saiapa yang tidak mau di nikahi oleh Ayah kandung dari kedua anak kembarnya? Ini adalah pilihan terakhir Yoan. Yoan belajar mencintai, dan belajar menerima masa lalunya agar menjadi suatu kebahagiaan di masa yang akan datang demi kedua buah hatinya.
"Mau Mas. Itu harapanku, setelah aku melahirkan Raja dan Ratu. Tapi ... Mas yakin keluarga besar Mas bisa terima Yoan?' tanya Yoan pelan.
"Kamu masih ragu? Apa memang kamu meragukan?" tanya David menerka kebimbangan hati Yoan.
"Yoan ragu," jawab Yoan singkat.
David memegang kedua tangan Yoan dan mencium lembut kedua punggung tangan itu dengan penuh kasih sayang.
"Percaya sama Mas. Satu bulan ini adalah ujian untuk kita. Kamu harus bisa melewatinya dengan baik, toh pada akhirnya, Masakan tetap memilih kamu. Kamu harus yakin dan kamu harus mempercayai semua ucapan Mas. Kalau pun suatu hari sbelum satu bulan itu berakhir, Mas dekat dengan Ineke atau wanita lain. Kamu harus percaya, apa yang Mas lakukan itu tidak lebih hanya untuk menyenangkan hati kedua orang tua Mas saja," ucap David mantap dan tegas.
__ADS_1
tatapan kedua matanya juga begitu tajam dan lekat. Hanya ada ketulusan dan kejujuran di bola mata indah David.