Transmigrasi ke dalam Komik

Transmigrasi ke dalam Komik
Babu dan Tuan Putri


__ADS_3

Setelah cukup lama pemeriksaan, dokter mengatakan Aruna baik-baik saja, batuk darah bisa terjadi kapan saja bagi pengidap kanker.


Bumantara yang sejak tadi berada di sisi Aruna, bisa bernapas lega. Seolah tak ingin lepas, laki-laki itu terus menggenggam erat tangan Aruna.


"Aruna kalau dadanya sesak atau merasakan apapun, bilang saya ya!" dokter pribadi Aruna berpesan di iringi usapan lembut di kepala pasiennya itu.


"Siap dokter" Aruna mengangkat jempol kanannya.


"Makasih dokter" ujar Bumantara dengan senyum yang dipaksakan.


"Sama-sama, saya permisi ya"


"Hahahaha"


Tepat ketika dokter tersebut keluar, Aruna mengelakkan tawanya hingga membuat Bumantara terkejut.


"Lo kenapa Run?"


"Muka lo lucu banget Bum"


Bumantara dibuat semakin bingung dengan gadis itu, laki-laki itu meraba wajah tampannya. Perilakunya itu makin membuat Aruna mengeraskan ketawanya.


"Run jangan bikin gue takut deh, kalau mau kesurupan nanti aja pas gue udah gak ada!"


Aruna seketika menghentikan tertawanya dan berganti dengan menunjukkan wajah marahnya. "Heh curut! lo bilang apa? kesurupan?"


"Iyalah, tiba-tiba ketawa gak jelas gitu, padahal sebelumnya kesakitan. ahh gue tau, pasti lo kesurupan hantu rumah sakit ini ya!"


Bumantara menghempaskan tangan Aruna yang sebelumnya ia genggam dengan erat.


"Shhh sakit Bum!" Aruna meringis dan memegang tepat pada infusnya berada.


"S–sorry Run, reflek" Bumantara kembali mendekat dan mengusap tangan Aruna.


"Gue ketawa karena ekspresi lo lucu banget Bum! padahal gue gak apa-apa, tapi malah di tangisin" cibir Aruna dengan bibir maju.


"Dih kepedean banget lo, gue gak nangisin lo tuh!" jawab Bumantara gugup.


"Halah, ngaku aja Bum! gue lihat sendiri tadi"


Bumantara hanya bisa mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah karena malu.


"Nangisin gue nih yeee, hahaha"


Aruna tak hentinya menggoda Bumantara hingga membuat Bumantara terpancing, dan jadilah mereka berdua bercanda. Tawa mereka memenuhi ruangan tersebut.


Sementara itu, Yunita yang baru saja sampai, begitu terkejut ketika membuka kamar pintu putrinya.


Aruna dan Bumantara sama-sama tertidur dengan posisi lengan Bumantara menjadi Bantal Aruna.


Tak ingin membangunkan keduanya, Yunita berjalan dengan sangat hati-hati dan meletakkan beberapa buku bawaannya di sofa. Yunita kembali berjalan keluar dari ruangan itu dan menemui dokter pribadi Aruna.

__ADS_1


...***...


"Aruna, bangun sayang udah siang!" suara wanita memanggil di iringi usapan pelan di kepala.


"Aruna"


"Enghhh" gadis yang namanya sejak tadi di panggil, akhirnya menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


Perlahan tapi pasti, mata itu terbuka. "Aruna masih ngantuk bu"


"Kamu kan hari ini mau pergi ke pameran, Bumantara udah nunggu kamu di ruang tamu."


"Hah!" Aruna langsung membuka mata kemudian membangunkan tubuhnya. dengan wajah penuh tanya, mata Aruna menatap sekeliling.


Kenapa gue ada disini, bukannya tadi gue masih di rumah sakit. Batin Aruna heran ketika menyadari ia bangun di kamarnya.


"Kamu kenapa kelihatan bingung gitu sayang?"


"Bu, bukannya Aruna masih di rumah sakit ya?" tanya gadis itu sembari membalikkan tubuhnya.


Yunita tertawa kecil, "karena kondisi kamu sudah membaik, kamu sudah diperbolehkan pulang 3 hari yang lalu."


Aruna dibuat semakin pusing, gadis itu menggaruk kepalanya, rambutnya yang mengembang bergoyang mengikuti arah pergerakan tangannya.


"Tapi kok Aruna ngerasa aneh ya bu? maksudnya, kok Aruna gak inget apapun selama 3 hari itu. Yang Aruna ingat, Aruna bercanda sama Bumantara habis itu... "


"Ketiduran" sambung Yunita.


"Daripada kamu ngelantur gak jelas, mending kamu mandi, kasihan Bumantara terlalu lama nunggu kamu."


Bukannya menuruti perintah Yunita, Aruna malah kembali melamun. Ia masih bingung dengan kejadian ini.


"Apa gue amnesia ya?" gumam Aruna yang masih dapat di dengar Yunita.


"Aruna" ucap Yunita dengan nada peringatan.


"Iya bu, ini mau mandi kok" gadis itu beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi.


"Ahh gue lupa, gue kan lagi hidup di dunia komik. Wajar kalo gue gak inget sebagian"


Selesai mandi dan berpakaian, kini Aruna tengah berusaha untuk memasang kaki palsunya. Sengaja tidak memanggil Yunita karena tak ingin merepotkan.


"Dih, ini gimana lagi masangnya?" baru saja berhasil memasang kaus kaki, Aruna sudah dibuat kebingungan.


"Setiap hari ayah masangin ini kelihatannya gampang banget, kenapa gue gak bisa?"


Aruna membolak-balikan kaki palsunya itu, sambil menggigit bibir bawahnya, Aruna kembali mencoba namun tetap tak bisa.


"Butuh bantuan?"


Suara seseorang mengejutkan Aruna hingga ia tak sengaja membanting alat bantu berjalannya itu.

__ADS_1


"ASTAGA BUMANTARA! ngagetin aja sih lo!"


"Hehehe, lo kaget Run?"


"Menurut lo?" Aruna memutar bola matanya. "kalau jantung gue copot terus gue mati sekarang gimana?"


"Run, bisa gak sehari aja gak usah bawa-bawa kematian!" laki-laki yang memakai kemeja lengan pendek dengan bawahan trousers itu terlihat marah.


"Lo kenapa?, sensi amat kayaknya"


"Gue gak suka lo ngomong gitu Aruna Salvina!" Bumantara menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Iya deh maaf, habisnya lo ngagetin gitu!" Aruna mengambil kembali kaki palsunya yang terjatuh di lantai.


Tanpa berkata apa-apa, Bumantara mengambil alih benda yang terbuat dari besi itu, kemudian menunduk di hadapan Aruna.


"Lo bisa masangnya Bum?"


"Hm"


"Lo belajar dari mana?"


Bukannya menjawab, Bumantara malah mengedikkan bahunya. Aruna menangkap sebuah kemarahan dari sikap sahabatnya itu.


"Bum" panggil Aruna dengan suara pelan.


"Hm"


"Lo marah?"


Bumantara diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Ya udah kalau marah, gue juga marah" ucapan Aruna membuat Bumantara mengangkat wajahnya seketika.


"Lo tuh bener-bener ngeselin ya Run! orang lagi marah bukannya di baikin atau apa gitu, ini malah ikut marah."


"Hehehe, akhirnya lo ngomong juga. Maaf Bum, mulai sekarang gue gak akan bahas kematian lagi deh. Jangan marah lagi ya Bumantara Mahendra!" Aruna memberikan senyum lebarnya seraya mengusap kepala laki-laki itu.


"Jangan senyum gitu! lo makin jelek kalau senyum!" Bumantara kembali menundukkan kepalanya.


"Yeeee dasar biji karet!" Aruna menjitak pelan kepala Bumantara. "Lo kan pemeran utama makanya ganteng, lah gue cuma figuran."


"Gue pemeran utama dan lo figuran, maksud lo apa Run?" Bumantara mengangkat kepalanya dan menatap heran Aruna.


Aruna merutuki dirinya yang sudah keceplosan berbicara, "Emh enggak kok gue cuma asal aja. Udah cepat pasang kaki gue!"


"Tuh kan kumat ngeselinnya. Lo pikir gue babu lo?"


"Iya, dan gue tuan putrinya" Aruna menegakkan tubuhnya kemudian memiringkan kepalanya.


"Kuatkan gue ya tuhan"

__ADS_1


__ADS_2