
"Bumantara" panggil Belinda sambil melambaikan tangannya.
Mendengar Belinda menyebut satu nama, Aruna menoleh ke belakang dan melihat laki-laki itu tersenyum sambil mempercepat langkahnya ke arah mereka.
"Hai" sapa laki-laki yang menjadi pusat perhatian itu.
"Hai Bumantara" Belinda membalas sapaan laki-laki itu sedangkan Aruna hanya diam dan fokus pada makanannya.
Bimantara duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Aruna, tepat di samping Belinda.
Aruna tak heran melihat kedekatan Belinda dan Bumantara, di komik pun mereka sering melakukan interaksi karena mereka berdua memang karakter utama komik ini. Berbeda dengan Aruna yang jarang sekali muncul.
Sambil mengobrol sesekali Bumantara melirik Aruna, Bumantara merasa ada yang berbeda dari gadis itu. Jika biasanya Aruna lebih banyak diam dan menundukkan kepalanya, kali ini Aruna banyak berbicara dan tertawa terbahak-bahak.
"Aruna, lo sehat kan?" tanya Bumantara dengan pandangan aneh.
"Sehat kok, kenapa?" tanya Aruna sambil mengunyah makanannya.
"Lo beda banget"
"Itu juga yang gue rasain" Belinda menimpali ucapan Bumantara.
Aruna terdiam, beberapa kali ia mendengar orang lain mengatakan hal tersebut, ia jadi salah tingkah sendri.
"Mungkin bawaan penyakit, bisa jadi kan. Hahahah" Aruna mencoba mencairkan suasan agar kedua orang di hadapannya ini tak lagi curiga.
Bumantara dan Belinda saling pandang, mereka merasa bersalah jika Aruna menyinggung penyakitnya.
"Oh iya, Belinda bilang lo udah pakai kaki palsu ya, gue boleh lihat?" laki-laki bermata teduh itu menatap Aruna dengan senyuman.
"Boleh" jawab Aruna yang langsung menaikkan sedikit celananya.
Bumantara bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke sisi kiri Aruna dan menunduk di bawah kaki Aruna.
"Pakai ini lo kesusahan jalan gak Run?" tanya Bumantara yang masih menunduk memperhatikan setiap inci kaki palsu Aruna.
"Awalnya sih agak ribet karena gak biasa, tapi sekarang enak-enak aja tuh, yaa walaupun kalau jalan harus pelan-pelan" Aruna berbicara sesuai pengalamannya.
Bumantara mengangkat wajah dan menatap Aruna dengan senyuman manisnya, "kalau susah lo bisa minta bantu gue"
Aruna hanya mengiyakan perkataan Bumantara walau sejujurnya ia tak terlalu paham dengan arah pembicaraan Bumantara.
Laki-laki berwajah manis dengan mata, hidung dan bibir yang juga kecil. Memang benar yang orang katakan, Bumantara memang lebih mirip anime dibanding manusia, itu semua tentu saja karena dunia yang Nazalea tempati saat ini adalah komik.
__ADS_1
Saat belum masuk ke dunia komik, Nazalea sering berdecak kagum dengan visual seorang Bumantara. Walaupun hanya sebuah gambar, namun Bumantara sangatlah tampan, mampu membuat siapapun jatuh cinta, bahkan seorang Nazalea. Berkali-kali Nazalea memuji pencipta komik berjudul 'DUNIA KITA BERBEDA' tersebut.
Sekarang setelah melihat asli penampakan seorang Bumantara, entah mengapa Nazalea merasa biasa saja, nama Wikta terus saja berputar di otak Nazalea. Walau lebih tampan Bumantara, hal itu tak membuat hati Nazalea berpaling.
Wikta dan Nazalea lebih dari sekedar sahabat, mereka berdua saling mencintai, walapun begitu salah satu dari mereka tak ada yang ingin berpacaran. Alasannya sederhana, Nazalea dan Wikta tak ingin menjadi orang asing kala suatu waktu mereka mempunyai masalah dan putus.
Nazalea dan Wikta hanya berkomitmen satu sama lain, jika memang mereka berjodoh, pasti suatu saat nanti akan bersama.
"Run, Aruna, Aruna" melihat Aruna diam saja membuat Bumantara dan Belinda menjadi heran.
Terlebih lagi ketika melihat Aruna meneteskan ari mata, mereka tak tahu saat ini Nazalea tengah merindukan orang yang paling berharga di hidupnya.
"Aruna" Bumantara menggoyangkan pelan lutut Aruna membuag gadis itu langsung tersadar dari lamunannya.
"Hah!"
"Lo kenapa Run? ada yang sakit?" tanya Bumantara yang beralih duduk di sampingnya.
"Gue baik-baik aja kok"
"Baik-baik aja gimana? lo nangis gitu" kali ini Belinda yang menunjukkan kekhawatirannya.
Aruna memegang wajahnya yang basah, "kok gue nangis sih?"
"Nah itu dia, lo kenapa nangis?"
"Tuh kan lo malah bengong lagi, kesambet kah?" Bumantara meletakkan telapak tangannya pada dahi Aruna.
"Gue cuma kecapekan aja" jawab Aruna seadanya, jujur saat ini ia merasa lelah, tubuh Aruna memang selemah itu.
"Ya udah gue anter pulang yuk!" ajak Bumantara yang langsung menggenggam tangan Aruna.
"Gue bisa pulang sendiri" tolak Aruna melepaskan tangan Bumantara.
"Gak boleh!, yang ada nanti lo malah pingsan di tengah jalan!"
"Bener yang di bilang Belinda, kalian mending bareng gue, kebetulan gue bawa mobil"
"Yuk Run" Belinda langsung menggandeng lengan Aruna begitu saja.
"Eh guys sebentar!, kayaknya gue gak bisa ikut kalian deh, gue mau ngerjain tugas kuliah, teman gue udah nunggu, gue duluan ya!" Belinda langsung pergi begitu saja.
Belinda dan Bumantara memang melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang universitas, berbeda dengan Aruna yang tidak bisa, sekali lagi karena kesehatannya yang tidak memungkinkan.
__ADS_1
"Yuk Run"
Dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, Bumantara membantu Aruna berjalan hingga menaiki mobilnya.
...***...
"Lo masih hobi ngelukis Run?" tanya Bumantara di tengah-tengah kegiatan menyetirnya.
"Masih"
"Kenapa gak lo coba salurin?"
"Salurin gimana?" tanya Aruna dengan tatapan lurus ke depan.
"Ya di salurin, lo bisa jual lukisan lo itu, lo juga bisa promosi lewat pameran"
"Bukannya kalau pameran itu buat pelukis yang udah terkenal ya? sedangkan lukisan gue jelek banget"
"Hei, gue pernah lihat lukisan lo Run, jujur lukisan lo tuh bagus. Minggu depan di salah satu mall ada pameran karya seni, gue bisa daftarin lo kalau lo mau"
Mendengar perkataan Bumantara, Aruna langsung menatap laki-laki itu, "serius lo bisa daftarin gue?"
"Serius Run, panitia acara itu sepupu gue" jawab Bumantara penuh keyakinan.
Bukan Aruna, melainkan Nazalea yang bersorak kegirangan di dalam hatinya, sesuai janjinya, Nazalea akan membuat hidup Aruna lebih berwarna, salah satunya adalah mewujudkan mimpi Aruna.
"Gue mau"
Melihat Aruna tersenyum membuat Bumantara juga ikut tersenyum, "oke, nanti gue urus, lo tinggal siapin aja beberapa lukisan lo!"
"Siap bos Bumantara" Aruna memberikan hormat pada laki-laki itu.
"Gue senang banget deh" ujar Bumantara membuat Aruna kembali menatapnya.
"Kenapa? lo jadian sama Belinda?" terka Aruna asal.
"Bukan, gue senang melihat perubahan lo yang sekarang"
"Perubahan?"
"Iya, sekarang lo tuh aktif banget anaknya, gampang ketawa dan banyak omong juga. Beda banget sama Aruna yang dulu, yang lebih banyak diamnya, kalau gak ditanya, ya, gak bersuara" jelas Bumantara masih dengan pandangan lurus ke depan.
"Lo lebih suka Aruna yang sekarang atau yang dulu?"
__ADS_1
"Sekarang" jawab Bumantara tanpa ragu.
"Terus kayak gini ya Run, jangan buat gue khawatir lagi" lanjut Bumantara kemudian membawa tangannya mengusap kepala Aruna.