
Hari sudah semakin sore, kedua insan yang tengah tertawa bersama itu seolah tak ada lelahnya menghabiskan waktu seharian ini.
Setelah pergi ke taman tadi, entah mengapa Aruna ingin sekali bermain air, langsung saja Bumantara membawa gadis itu ke pantai.
Aruna sebenarnya sudah merasakan sakit pada tubuhnya, namun ia tak mempedulikannya karena tak ingin merusak waktunya bersama Bumantara.
Kini, kedua insan itu berjalan di pinggir pantai sambil mengobrol. Aruna mengangkat sedikit celananya hingga menampilkan kaki palsunya, seketika ia menjadi pusat perhatian.
Beberapa dari mereka menatap heran bahkan ada yang terang-terangan mengatakan Aruna adalah orang cacat. Sebenarnya ia tak mempermasalahkannya, lagipula yang mereka katakan benar adanya. Namun Bumantara tak terima, kalau bukan karena ditahan Aruna, sudah pasti Bumantara meluapkan emosinya pada orang-orang bermulut tajam itu.
Waktu semakin berjalan, malam harinya Bumantara mengajak Aruna mencari makan. Di tengah perjalanan, mereka melihat keramaian di tanah lapang.
Lampu yang kelap-kelip dengan berbagai jenis wahana. Seketika mata Aruna berbinar, dengan cepat gadis itu menarik lengan pria yang di sampingnya untuk masuk ke dalam.
"Wahh, udah lama banget gue gak ke pasar malam!"
Sisi anak kecil seorang Nazalea tiba-tiba saja keluar. Di balik penampilannya yang tomboy seperti laki-laki, Nazalea hanyalah seorang gadis kecil yang manja dan haus akan kasih sayang kedua orang tua. Sayang, ia hanya bisa berangan untuk mendapat perhatian sekecil usapan di kepala.
Beruntung Nazalea mendapat karakter Aruna yang hidupnya di penuhi kasih sayang kedua orang tuanya. Hingga ia perlahan bisa melupakan kedua orang tua kandungnya.
Gadis yang memakai jaket kebesaran milik seorang laki-laki itu berjingkrak senang ketika mendapatkan makanan sederhana berupa harum manis.
Sedangkan Bumantara, laki-laki itu seperti tak ada bosannya menuruti semua permintaan Aruna.
"Bum, naik itu yuk!" Aruna menunjuk sebuah wahana bernama kora-kora.
"Lo gak takut? Itu tinggi banget lho Run!" Bumantara bergidik ngeri membayangkan dirinya yang akan terombang-ambing jika naik wahana tersebut.
"Tapi gue pengen Bum, udah lama gak naik itu. Atau jangan-jangan lo yang takut ya!" Goda Aruna membuat laki-laki berlesung pipi itu menelan ludahnya susah payah.
"E... enggak kok, kata siapa gue takut! Gue cuma khawatir sama lo aja Run"
"Gue baik-baik aja Bum. Ah lama lo!" Dengan tak sabar Aruna menarik tangan Bumantara menuju wahana dengan antrian panjang itu.
__ADS_1
Setelah membeli tiket, kini tiba giliran Aruna dan Bumantara yang naik, mereka berdua berada di posisi paling belakang kora-kora.
Aruna terkekeh melihat wajah Bumantara yang begitu tegang, tangannya semakin kuat menggenggam tangan Aruna. Bahkan Aruna dapat merasakan tangan laki-laki itu berkeringat.
Awalnya kora-kora itu bergerak pelan, Bumantara masih merasa aman, tapi lama kelamaan kora-kora itu makin tinggi dan makin cepat bergerak membuat Bumantara merasa takut. Sebisa mungkin laki-laki itu mencoba tersenyum meyakinkan dirinya bahwa ia tidak takut, tetapi jantungnya seakan ingin loncat dari tempatnya ketika kora-kora itu terus bergerak.
"Aaaaaaahhhhhhhhhh Arunaaaaaaaa"
Bumantara terus berteriak sambil mencengkeram tangannya sendiri. Aruna yang melihat tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Aruna menarik laki-laki tampan yang memakai kaus hitam itu kedalam pelukannya sambil mengusap pelan punggung Bumantara.
"Tadi katanya gak takut kok!" Aruna meniru ucapan Bumantara. Tak peduli dengan gadis itu, Bumantara terus memeluk erat tubuh Aruna.
Cukup lama permainan itu berlangsung, hingga Bumantara tak menyadari jika permainan itu telah berakhir.
"Bum, udah selesai. Ayo turun!"
Perlahan Bumantara membuka kedua matanya kemudian menegakkan badannya sambil menghela napas panjang.
"Woy udah selesai, turun kali. Pacaran terus!" ucap seorang gadis yang ditujukan pada kedua orang yang tengah asik tertawa.
Aruna mendengus mendengarnya. Saat turun dari wahana mereka berdua berpapasan dengan gadis tersebut.
"Cih, ganteng-ganteng kok mau sama cewek modelan begini." Ucap gadis tersebut sambil memandang rendah Aruna.
"Mau gue robek mulut lo!" Bumantara berbicara dengan nada cukup tinggi sehingga menjadi tontonan sekitar.
"Emang bener kan! lo itu ganteng pasti bisa dapet yang lebih. Kenapa malah pacaran sama cewek jelek begini? cantikan juga gue." Ucapnya sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Sayangnya gue gak tertarik tuh!" Bumantara bersedih di akhir kalimatnya.
"Aneh banget, pasti di pelet sama tuh cewek!" Gadis itu kembali menyerang Aruna namun yang di serang yak peduli.
__ADS_1
Bumantara hendak berbicara namun langsung di tahan oleh Aruna, gadis itu terus menahan tubuh Bumantara sambil menggelengkan kepalanya.
Aruna memandang gadis di depannya dari atas kepala sampai bawah kaki, kemudian ia berdiri tepat di depan gadis tersebut.
"Kenapa? Iri? Mau juga punya pacar ganteng? Uhhhhh kasihan gak punya pacar ya! Beruntungnya gue punya pacar ganteng gini." Ejek Aruna sambil mencubit pelan pipi Bumantara.
"Yuk sayang!" Aruna menarik tangan Bumantara pergi, sedangkan gadis tadi masih marah-marah di tempatnya.
Tanpa Aruna tahu, Bumantara tengah berbunga-bunga karena di panggil sayang. Laki-laki itu memang hanya menampilkan wajah datarnya, namun dadanya sangat berisik dengan debaran jantungnya.
Aruna memicingkan matanya melihat suatu pemandangan. Terlihat seorang pria paruh baya dengan kain kanvas dan cat juga beberapa lukisan disekelilingnya.
Tanpa berkata apa-apa, Aruna menarik tangan Bumantara dan mengajaknya membuat lukisan berdua. Bumantara menurut tanpa membantah sedikitpun.
Dengan posisi yang sama-sama duduk, Aruna menelusup kan tangan kanannya pada lengan kiri Bumantara. Kepalanya ia sandarkan tepat pada bahu laki-laki itu.
Deg Deg Deg
Ya Tuhan gue benar-benar udah gila, masa cuma kayak gini aja udah bikin gue berdebar. Batin Bumantara yang kembali dibuat jantungan dengan tingkah Aruna.
Bumantara mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan beberapa kali bergerak gelisah hingga membuat Aruna kesal.
"Bum, kita tuh lagi dilukis. Kalau lo banyak gerak gitu nanti lukisannya jelek!"
"Maaf, habisnya lo nyender gitu. Gue kan pegel!"
Keduanya malah sibuk bertengkar hingga membuat sang pelukis menjadi pusing sendiri. Tak lagi melihat pelanggannya, pelukis itu menggerakkan kuasnya sesuai imajinasinya sendiri.
Perdebatan Aruna dan Bumantara membuat orang disekitar menatap mereka dengan heran. Hingga beberapa waktu, pelukis itu telah selesai, keduanya masih saja berdebat.
"Dek, ini sudah selesai lukisannya!"
"Hah!" Aruna dan Bumantara sama-sama membulatkan mata dan mulut mereka.
__ADS_1
Keduanya kompak melihat hasil lukisan tersebut, betapa terkejutnya mereka saat itu. Di lukisan itu, Aruna dan Bumantara saling tatap dengan memberikan senyuman. Posisi tangan Bumantara di kepala Aruna membuatnya makin terlihat romantis.
"Bagus"