
"Kami itu kerja banting tulang buat kamu Lea!"
"Tapi Lea gak butuh ini semua, Lea cuma butuh kasih sayang kalian!"
***
"Demi apapun Lea kangen kalian ma, pa"
"Lea bahkan sampai lupa kapan terakhir kali kalian peluk Lea"
"Lea cuma minta kasih sayang kalian sebagai orang tua, apa itu salah?"
***
"Mama papa gak pernah sayang Lea! kalian terlalu sibuk sama urusan kalian tanpa tahu mental anak kalian itu rusak"
"Dasar anak kurang ajar, gak tahu di untung kamu ya!"
Plak Plak Plak
"Setiap kali ada di rumah, yang kalian lakukan cuma memarahi dan memukul Lea. Sebenarnya Lea anak kalian atau anak pungut?"
"Lea harap Lea segera mati"
***
"Hiks, hiks Tuhan, Lea capek, apa boleh Lea minta pulang sekarang?"
"LEA!"
"Wikta, mereka sama sekali gak sayang Lea, capek banget Ta, bawa Lea pergi jauh dari sini, Lea mohon"
"Lea lupa ya! kan disini ada Wikta yang sayang sama Lea, kita lewatin ini sama-sama ya!"
...***...
"Hosh...Hosh...Hosh!"
Aruna terbangun dengan keringat mengucur deras di dahinya, nafasnya tak beraturan. ingatan saat dirinya masih menjadi Nazalea menjadi mimpi buruk.
Perasaan rindu mulai menyelimuti dirinya, Wikta, laki-laki tampan yang seusia dengan Nazalea adalah satu-satunya orang yang benar-benar peduli dan menyayangi Nazalea dengan tulus.
Di saat kedua orang tuanya tak peduli padanya, ada Wikta yang selalu menggantikan peran kedua orang tuanya. Suara tangis mulai terdengar dari gadis yang baru saja bangun tidur itu.
Nazalea pernah meminta kematian, bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri namun selalu digagalkan oleh Wikta. Sekarang Tuhan mengabulkannya dengan cara membuatnya pindah ke dunia lain.
__ADS_1
Di satu sisi, Nazalea sedih karena merindukan Wikta, Namun di sisi lain, Nazalea senang. Akhirnya impiannya tercapai untuk merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Meski raga Aruna selalu membuat Nazalea sakit, namun rasa sakit itu seolah terbayarkan dengan kasih sayang dan perhatian yang diberikan orang tua Aruna.
"Kalau suatu saat nanti gue kembali menjadi Nazalea, apa gue siap meninggalkan kehidupan Aruna?. Orang tua Aruna ngasih gue kasih sayang yang gak pernah orang tua gue sendiri kasih. Gue kanget Wikta, tapi gue juga bahagia disini"
Nazalea benar-benar bimbang saat ini, jika sedang pusing seperti ini, ingin sekali Nazalea mengendarai motornya sekencang-kencangnya. Namun Nazalea sadar, tubuh Aruna tak memungkinkan melakukan itu.
"Itu urusan belakangan, gue tinggal ikutin takdir yang di kasih tuhan" Aruna menghapus kasar wajahnya yang sudah basah dengan air matanya.
"Aruna kan pinter ngelukis, apa gue coba aja ya, ini kan tubuh Aruna, bisa jadi bakatnya tetap ada. Hitung-hitung ngisi waktu luang"
Di salah satu rak yang berada di kamar Aruna, hanya berisi peralatan melukis, tidak ada buku satupun karena Aruna yang tidak suka membaca Novel atau komik, sangat berbeda dengan Nazalea.
Gadis itu membuka balkon kamarnya dan mulai menyiapkan alat lukisnya, baru saja akan menuangkan cat, gadis itu teringat akan sesuatu.
"Oh iya, gue mau lukis apa ya?"
Aruna menatap indahnya pemandangan berupa hamparan pepohonan hijau yang mengelilingi rumahnya.
"Gue lukis karakter Aruna aja deh"
Sambil sesekali melihat cermin, gadis itu melukis wajahnya sendiri, bibirnya terus menunjukkan senyuman. Ternyata bakat Aruna tetap ada walaupun raganya dirasuki orang lain.
Rambut berwarna kecoklatan yang mengembang, kedua pipi yang memerah juga berbintik. Aruna sangat detail melukis dirinya sendiri.
Jika Aruna lebih aktif pada tangan kanan untuk melakukan pekerjaan sehari-hari. Lain halnya dengan Nazalea yang merupakan Ambidextrous.
Ambidextrous sendiri adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menggunakan kedua tangannya dengan baik, baik itu kanan maupun kiri.
"Wahh bagus juga lukisan gue, makasih loh Aruna, gue dapet bakat baru"
"Ternyata bener yang di bilang para bocil kematian, Aruna tuh mirip Chucky" gadis itu terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Apa gue ubah aja ya penampilannya Aruna, gue bisa buat dia jadi cantik"
"ARUNA, ARUNA"
Saat tengah menikmati hasil karyanya, Aruna dibuat keheranan karena mendengar ada yang terus memanggil namanya, Aruna menoleh ka kanan dan kiri namun tak menemukan seseorang.
"ARUNA DI BAWAH SINI" Suara seorang perempuan kembali terdengar, Aruna menoleh ke bawah dan mendapati seorang gadis cantik tengah tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Itu– itu Belinda bukan sih? gila, di komik aja udah cantik banget, ternyata aslinya lebih cantik"
Ya, seseorang yang sejak tadi memaanggil Aruna adalah Belinda, karakter utama wanita dari komik 'Dunia kita berbeda'.
__ADS_1
...***...
Saat ini, Aruna dan Belinda tengah berada di salah satu toko buku, setelah tadi Belinda duduk sebentar di rumahnya, ia mengajak Aruna pergi.
"Tumben banget deh lo" ucap Belinda dengan lembut seperti biasanya.
"Tumben apanya?"
"Mau gue ajak ke toko buku, biasanya paling gak mau ke tempat ini katanya pusing kalau lihat buku banyak" kata Belinda sambil memilah buku.
"Yaaa, sekarang gue suka aja baca buku, selain nambah pengetahuan, kan gue juga bisa ngisi waktu luang"
Belinda mengangguk mengerti mendengar perkataan Aruna, jika Belinda lebih banyak membeli yang berhubungan dengan bahasa asing, lain halnya dengan Aruna yang membeli beberapa komik dan juga novel.
Puas membeli buku, mereka pergi ke cafe terdekat, lagi-lagi Belinda di buat terkejut dengan perubahan Aruna.
Jika biasanya Aruna akan meminum jus buah naga tanpa gula, kali ini Aruna meminum kopi. Belinda heran, namun ia tak terlalu mempedulikannya.
"Cantik banget"
"Temennya kok aneh gitu sih?"
"Kok mau ya temenan sama orang aneh gitu?"
"Beauty and the beast"
"Rambutnya kok bisa gimbal gitu sih?"
"Pipinya juga merah banget kayak tomat"
Aruna mendengar perkataan di sekitar mengenai dirinya, sejak keluar bersama Belinda tadi, Aruna sudah mendengar beberapa orang mencibirnya.
Sebenarnya hal ini sudah biasa, karena di komik pun sudah di ceritakan bagaimana herannya orang-orang melihat si cantik Belinda berteman dengan si penyakitan Aruna, namun Nazalea tetap kesal mendengar orang-orang mencibir raga yang di rasukinya.
Ternyata ini yang Aruna rasakan selama ini, tekad gue semakin besar buat rubah Aruna menjadi cantik. Batin Nazalea yang sebenarnya ingin sekali merobek mulut semua orang di sana.
Jujur saja ia merasa sedikit sakit, karena ini adalah pengalaman pertama bagi Nazalea di jauhi dan di jelekkan hanya karena fisik.
Suara-suara laknat yang menjelekkan fisik orang lain, seketika berubah menjadi decak kagum ketika seorang laki-laki bertubuh tinggi masuk ke dalam cafe tersebut.
"Ganteng banget astaga"
"Dia lebih mirip anime dibanding manusia"
"Ya Tuhan mata gue yang minus seketika jadi normal"
__ADS_1
Tak mempedulikan perkataan sekitar, laki-laki tersebut berjalan melewati orang-orang yang asik memandangnya.
"Bumantara"