
Aruna yang baru saja keluar dari ruangan khusus kelas motivasi tersebut, merasakan kelegaan dalam hatinya. Ternyata ide dari dokter tidak seburuk itu.
Dengan bertemu sesama pengidap kanker, Aruna berpikir ternyata masih ada yang lebih menderita darinya. Melihat yang lain masih bisa tersenyum bahkan bergurau di tengah penyakitnya, Aruna malah mempunyai tekad untuk sembuh.
Aruna tak akan terpaku pada alur komik ini. Jika bisa, ia akan mengubahnya meski tahu itu sulit bahkan tak mungkin.
Menyandarkan bahu pada dinding, dengan tangan menekuk di dada, Aruna membawa matanya melirik ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.
Melihat seorang laki-laki keluar dari salah satu ruangan, Aruna menegakkan tubuhnya dan dengan semangat menghampiri laki-laki berjaket hitam tersebut.
"Hai"
Bukannya membalas sapaan Aruna, Jefry malah memberikan tatapan malasnya kemudian meninggalkan Aruna.
"Hei, nama lo Jefry kan?" Dengan susah payah, Aruna mengejar laki-laki itu.
"Kalau lo datang cuma mau mengejek penyakit gue, silakan! Gue gak peduli." Jefry kembali menarik oksigennya yang ia pasang dengan roda kecil di bawah.
"Ppfft hahahahaha!" Aruna yang tak tahan lagi, langsung menggelakkan ketawanya sambil menunjuk wajah laki-laki yang begitu dingin namun tetap tampan.
Jefry mengerutkan keningnya menatap gadis aneh di depannya saat ini. Tak memberikan respon selain tatapan malas, Jefry membuat Aruna salah tingkah.
Melihat wajah Jefry yang semakin tak bersahabat, Aruna menutup mulutnya. "Ngapain juga gue mengejek lo sedangkan penyakit kita sama!"
Aruna menjulurkan tangan kanannya dan memberikan senyuman terbaiknya pada laki-laki di depannya. "Gue cuma mau kenalan aja, gak lebih. Gue Aruna."
Jefry menatap uluran tangan gadis itu tanpa ada niat menyambutnya. Laki-laki itu menghembuskan napasnya berat.
"Lo udah tau nama gue kan? Ck, gue mau pulang. Minggir!" Dengan kasar Jefry menyenggol lengan Aruna hingga gadis itu hampir saja terjatuh.
Aruna menatap kepergian laki-laki arogan itu. Sikap Jefry mengingatkan dirinya akan Wikta.
Ya, Wikta Buana. Laki-laki yang selalu bersikap dingin dan arogan jika di depan orang lain, hanya di depan Nazalea saja Wikta menjadi pribadi yang hangat dan manja.
__ADS_1
"Tetap gak akan ada yang bisa menggantikan lo Ta."
Aruna yang hendak berjalan pergi malah mendengar keributan, dilihatnya orang-orang berkumpul mengerubungi sesuatu yang Aruna sendiri tak tahu ada apa.
Aruna yang penasaran, menghampiri kemudian membelah kerumunan tersebut. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat laki-laki ia ajak berbicara sebelumnya tengah terkapar di jalan.
"Astaga, Jefry!" Pekik Aruna yang langsung menunduk dan menepuk beberapa kali wajah pucat laki-laki itu.
Aruna terus memanggil nama laki-laki tersebut, namun tak ada respon sama sekali. Gadis bertubuh mungil itu berdiri kemudian berjalan perlahan sambil menatap sekitar.
"IBU, TOLONG. BU, TOLONG ARUNA!"
Mendengar putrinya berteriak meminta tolong, Yunita yang tengah duduk mengobrol dengan seorang wanita, langsung mencari sumber suara tersebut.
Begitu melihat putrinya, ibu satu anak itu terlihat sangat khawatir dan langsung memeluk tubuh putri tunggalnya. "Aruna, kamu kenapa? Ada yang sakit? Atau kamu batuk darah lagi?"
Yunita membolak-balikkan tubuh Aruna mencari sekiranya tubuh putrinya itu terluka.
Aruna yang takut terjadi hal buruk, meminta ibunya membawa laki-laki itu menuju rumah sakit. Dengan meminta bantuan beberapa orang di sana, Jefry di masukkan ke dalam mobil Yunita.
Mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi, Yunita menyalip beberapa kendaraan. Wanita dewasa itu bahkan tak segan membunyikan klakson yang membuat Aruna beberapa kali terkejut.
Aruna sesekali melihat ke arah Jefry yang saat ini ia sandarkan pada bahunya. Wajah laki-laki itu semakin pucat membuat Aruna semakin khawatir.
Sampai di rumah sakit setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Yunita berteriak meminta pertolongan.
Terlihat para tim medis berlari menghampiri dengan membawa brankar. Tubuh tak berdaya Jefry di baringkan dan dibawa berlari ke dalam.
Aruna yang tak bisa berlari secepat mereka, hanya bisa mengikuti di belakang sambil berusaha membawa kaki palsunya yang hampir lepas.
...***...
Di depan ruang ICU sebuah rumah sakit, nampak seorang wanita tengah mengusap pelan kepala putrinya yang bersandar di bahunya.
__ADS_1
Hembusan napas berat terdengar dari gadis pemakai cardigan rajut sebagai outer itu. Mengeratkan pelukannya pada tubuh sang ibu, Aruna menutup mata berusaha menghalau rasa takutnya.
Entah sudah berapa lama Aruna dan Yunita duduk menunggu Jefry yang masih terbaring lemah di dalam, hingga tak sadar Aruna tertidur.
Gadis itu sampai tak tahu bahwa dokter yang sejak tadi berada di dalam, sudah keluar dan tengah berbicara dengan ibunya.
Yunita nampak beberapa kali mengangguk kecil ketika mendengar penjelasan dokter mengenai anak laki-laki seumuran putrinya itu.
Sementara itu, di rumah sakit yang sama. Bumantara nampak tengah mengusap pelan punggung tangan Belinda yang saat ini juga berbaring lemah di brankar.
Gadis cantik pemilik senyum manis itu tiba-tiba saja pingsan saat berjalan di lorong kampus. Bumantara yang saat itu memang tengah bersama dengan Belinda langsung menggendong dan membawa gadis itu menuju rumah sakit.
Belinda dinyatakan mengalami anemia akibat kelelahan. Kini, gadis itu masih menutup matanya rapat dengan tangan yang terus di genggam erat laki-laki yang berada di sisi kanan tempat tidurnya.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu, Bumantara mengalihkan pandangannya dan melihat seorang wanita memakai pakaian serba putih berdiri dengan memegang beberapa kertas di tangannya.
Perawat tersebut meminta agar Bumantara segera menyelesaikan administrasi Belinda. Laki-laki itu mengangguk pelan dan bangkit dari duduknya.
Bumantara menyempatkan mengusap pelan kepala Belinda hingga akhirnya benar-benar keluar dari ruang rawat sahabatnya itu.
Usai dengan urusan pembayaran, Bumantara yang hendak kembali malah dibuat terkejut ketika melihat gadis yang begitu di kenalnya tengah tidur dengan posisi bersandar di kursi tunggu.
"Itu Aruna? Dia ngapain di sini? Apa mungkin dia kambuh lagi?"
Bumantara yang berada cukup jauh, langsung berjalan dengan cepat menuju Aruna berada. Saat tinggal beberapa meter lagi, Bumantara dihadang dengan puluhan orang tiba-tiba berjalan menghalanginya hingga ia tak dapat melihat Aruna.
Saat berhasil menghindar, Aruna malah sudah menghilang membuat Bumantara menjadi lemas seketika.
"Ck! Gue jadi kehilangan Aruna. Ke mana perginya dia ya?"
Bumantara menyugar rambutnya ke belakang sambil celingukan mencari gadis itu. Tanpa Bumantara tahu, Aruna sebenarnya masuk ke dalam ruangan yang berada tepat di samping kanannya.
__ADS_1