Transmigrasi ke dalam Komik

Transmigrasi ke dalam Komik
Aruna Yang Penuh teka-teki


__ADS_3

Kini Aruna tengah berdiri di antara para seniman yang lain, senyum gadis itu tak luntur sejak tadi. Betapa bangga dirinya bisa melakukan ini semua, apalagi dengan semua pujian yang diterimanya.


Terlihat beberapa pengunjung mendatangi Aruna dan menanyakan perihal lukisannya. Dengan senang hati Aruna menjelaskannya.


Sedangkan Bumantara, laki-laki itu masih setia menunggu sambil memperhatikan gadis itu.


"Shh"


Ringisan kecil terdengar dari Bumantara, laki-laki itu merasakan perutnya yang perih karena belum diisi apapun. Bumantara lebih memilih menahan rasa laparnya daripada harus meninggalkan Aruna.


Di tengah-tengah kebahagiaan yang Aruna rasakan, gadis itu merasakan sesak yang mulai menjalar di dadanya. Sebisa mungkin Aruna menahannya.


Sambil terus mengatur napasnya, Aruna menggigit bibirnya kala serangan nyeri itu datang. Tak tahan lagi, Aruna pamit pergi ke toilet.


Sambil berjalan dengan cepat, gadis itu langsung menutup mulutnya begitu merasa akan terbatuk.


Benar saja apa yang ia pikirkan, darah kembali keluar dari mulutnya. Aruna langsung membasuh mulutnya dengan air yang mengalir.


Dokter sudah memperingatkan agar ia banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah. Namun Aruna tak mempedulikannya, toh kematiannya memang sudah direncanakan di komik, pikir gadis itu.


"Lo kuat, lo gak boleh ngerusak mimpi sendiri. Lawan semua rasa sakit ini Aruna!" Dengan suaranya yang mulai berat, gadis itu berbicara sendiri.


Aruna berjalan kembali ke acara pameran tersebut, wajahnya sudah ia basuh hingga tak begitu pucat.


...***...


Acara selesai dengan waktu menjelang sore hari, beberapa pengunjung terlihat sudah meninggalkan tempat itu. Kini tinggalah para seniman dan juga para panitia sedang berkumpul membicarakan lukisan mereka.


Beberapa lukisan mereka di beli dan akan dipajang di museum. Aruna senang bukan main mendengar ketiga lukisannya terpilih, gadis itu sampai tak sadar memeluk Bumantara saking senangnya.


Aruna yang memang tak mengerti, hanya diam ketika para panitia itu membahas masalah harga. Sejujurnya ia pun tak tahu harus mematok berapa karena ini adalah pengalaman pertama baginya.


Melihat wajah kebingungan Aruna, Bumantara mengambil alih pembicaraan dan mulai melakukan negosiasi.


Aruna hanya diam melihat para pria itu berbicara, terbiasa mendapat uang dengan cara balap motor, hari ini ia mendapat uang dengan cara lain.


Cukup lama pembicaraan, hingga rasa bosan Aruna berganti dengan wajah puas karena lukisannya dibeli dengan harga yang lumayan.

__ADS_1


"Sebagai tanda terimakasih, gue traktir lo sepuasnya." Ucap Aruna sambil menggandeng lengan Bumantara.


"Astaga Bum! gue lupa sesuatu. Lo belum makan dari pagi ya? Mana sekarang udah sore, lo pasti laper! Ayo kita cari makan!"


Bumantara hanya diam mengikuti Aruna yang sangat aktif hari ini.


...***...


"Run, pelan-pelan aja makannya! Gak akan ada yang ngambil makanan lo kok!" Bumantara memberi peringatan pada Aruna yang saat ini makan yang saat ini makan dengan terburu-buru.


Aruna hanya tersenyum mendengar omelan Bumantara, entah mengapa akhir-akhir ini ia cepat merasa lapar.


Dengan keadaan restoran yang cukup ramai, Aruna dan Bumantara kembali menjadi pusat perhatian. Lagi dan lagi Aruna harus menelan semua kata-kata menyakitkan yang menjelekkannya.


"Bum, gue boleh minta sesuatu?" Tanya Aruna sesaat setelah mereka selesai makan.


"Apa?"


"Gue pengen banget ke tempat yang banyak pepohonannya, tolong bawa gue ke tempat itu ya!" Pinta Aruna dengan mata berbinar.


"Kata siapa gue gak mau, tadi tuh gue lagi mikirin tempatnya. Yuk!" Bumantara segera menggenggam tangan gadis itu membuat Aruna tersenyum lebar.


"Khusus untuk hari ini saya akan menuruti semua permintaan nona Aruna." Bumantara memberatkan suaranya kemudian membuka pintu mobil dan menundukkan tubuhnya layaknya seorang pelayan.


Sedangkan Aruna hanya bisa tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu.


Sesampainya di sebuah taman, Aruna langsung keluar dari mobil dan berlari sambil meretangkan kedua tangannya.


Melihat puluhan burung gereja tengah berkumpul, dengan iseng Aruna berlari yang seketika membuat para burung itu berterbangan.


Kegiatan Aruna itu tak luput dari pemandangan Bumantara, laki-laki itu dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan memotret Aruna untuk yang kesekian kalinya.


Suara tertawa Aruna terdengar bbegitu nyaring m, gadis itu terlihat sangat bahagia dan melupakan sejenak penyakit yang menyerang tubuhnya.


Saking sibuk meluapkan kegembiraannya, Aruna sampai tak memperhatikan sekitar. Gadis itu terjatuh karena tersandung batu yang berada di dekatnya, hingga membuat kaki palsunya seketika terlepas


Bumantara yang melihat tentu saja khawatir, laki-laki itu langsung menghampiri dan mengecek kondisi Aruna.

__ADS_1


Bumantara mendesah kesal melihat telapak tangan Aruna tergores dan mengeluarkan sedikit darah. "Gue tau lo senang, tapi hati-hati juga Run, sampe kayak gini. Astaga!"


"Gue gak apa-apa Bum, ini mah cuma luka dikit, gue sering dapat yang lebih sakit!"


Melihat wajah tenang Aruna membuat Bumantara makin kesal, "Bisa gak sehari aja dengerin orang lain! Kita tuh khawatir sama lo Aruna!"


"Gue bukan cewek lemah Bumantara! Luka segini gak sebanding sama pukulan yang biasa mereka kasih ke gue! Jadi lo gak usah lebay!" Aruna membalas perkataan Bumantara dengan nada cukup tinggi.


"Maksud lo? Siapa yang pukulin lo?" Bumantara menangkap keanehan dari kata-kata Aruna. "Jawab Run!"


Ah sial, gue lupa!


Bukannya menjawab pertanyaan Bumantara, Aruna malah diam sambil mencoba memasang kembali kaki palsunya.


Bumantara mengambil alih kaki palsu tersebut kemudian berjongkok di depan Aruna. "Naik!" Laki-laki itu menepuk punggungnya.


"Gue–"


"Gak usah ngebantah Aruna! gue gendong, cepat naik!"


Aruna pasrah, gadis itu merambat memegang bahu Bumantara dan menumpukkan tubuhnya di punggung Bumantara.


Perlahan Bumantara berdiri dengan tangan kiri menggenggam erat belakang lutut Aruna, dan tangan kanan memegang kaki palsu gadis itu.


"Bum, gendongnya yang bener, gue hampir jatuh!" Ucap Aruna yang merasa tubuhnya merosot.


"Lo gak lihat tangan gue! kaki lo mau taruh di mana?" Jawab Bumantara dengan nada yang masih terdengar kesal.


"Kok lo jawabnya sewot gitu sih! Kalau gak ikhlas ya udah turunin gue!" Aruna memberontak dan memukul pelan bahu Bumantara.


"DIEM!" Bumantara menghentikan langkahnya dan meninggikan suaranya membuat Aruna seketika diam.


"Nih lo pegang!"


Aruna menuruti perintah Bumantara dan memegang kaki palsunya menggunakan kedua tangannya.


Sambil berjalan, mereka terus saja berdebat karena Aruna yang menekan leher Bumantara hingga laki-laki itu merasa seperti tercekik.

__ADS_1


__ADS_2