Transmigrasi ke dalam Komik

Transmigrasi ke dalam Komik
Kelas Motivasi


__ADS_3

"Dudi dudi dam dam dudi dudi dam, dudi dudi dam dam dudi dudi dam. Aruna makannya apa? Nasgor, ibu juru masaknya. Oh yeah!"


Sambil berjalan menuju meja makan, Aruna bersenandung ria dengan menampilkan senyum yang cerah, secerah cuaca pagi ini.


Gadis bertubuh mungil yang memakai celana pendek menampilkan kaki palsunya itu bahkan terlihat beberapa kali menggoyangkan tubuhnya. Tangannya dipetik sesuai irama nyanyiannya.


Aksinya itu tak luput dari pandangan seorang wanita dan pria dewasa yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


"Ada ayah tampan, ada ibu cantik. Semuanya sayang Aruna, asik asik..."


Farhat bangkit dari duduknya dan menghampiri Aruna sambil menarikan Moonwalk layaknya Michael Jackson.


"Wooaaahhh!!!" Aruna berdecak kagum melihat kepiawaian ayahnya menirukan penyanyi dengan julukan 'king of pop' itu.


Dengan menggenggam tangan Aruna, Farhat ikut bernyanyi dan berdansa bersama putri tersayangnya itu.


Yunita yang melihat tak bisa lagi menahan tawanya, wanita dewasa itu sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan putrinya yang benar-benar absurd.


Seolah mengerti dengan tatapan satu sama lain, Aruna dan Farhat kompak menghampiri Yunita.


"Ayo ibu kita menari bersama!"


Awalnya Yunita terus menolak, namun Aruna dan Farhat tetap memaksa, jadilah Yunita berdansa bersama.


Saling menggenggam tangan, dengan posisi Aruna yang berada di tengah, mereka menari dan menyanyi bersama. Kepala mereka bergerak ke kanan dan kiri mengikuti irama.


Pagi ini sungguh indah dengan canda tawa memenuhi seisi rumah. Aruna tak hentinya melakukan hal lucu yang membuat kedua orang tuanya terus tertawa di buatnya.


Puas dengan tingkah konyolnya, keluarga kecil itu kompak duduk bersama. Terlihat Yunita sibuk menghidangkan sarapan yang sudah di buatnya.


"Aruna, sebenarnya hari ini ibu mau ajak kamu ke suatu tempat." Yunita membuka obrolan di tengah sarapan mereka.


"Ke mana bu?" Satu suapan nasi masuk ke dalam mulut Aruna setelah gadis itu bertanya.

__ADS_1


"Ada deh, pokoknya habis sarapan kita langsung berangkat!"


Aruna diam tak menjawab perkataan Yunita, tak biasanya ibunya main rahasia seperti ini. Apalagi ketika melihat ekspresi wanita dewasa itu, Aruna dibuat semakin heran.


...***...


Sepasang mata seorang gadis melihat dengan teliti tempat yang baru saja ditapakinya. Melirik ke kanan dan kiri, gadis itu semakin dibuat penasaran kala melihat seorang pria berjalan dengan membawa tabung oksigen kecil dan selang yang terpasang di kedua lubang hidungnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil yang dikendarai Yunita sendiri berhenti tepat di depan sebuah gedung.


Sejak keluar dari mobil, Aruna terus menatap Yunita dengan wajah penuh tanda tanya. Mengerti akan hal itu, Yunita mengajak Aruna duduk di kursi kayu yang terdapat di bawah pohon rindang.


"Sayang, sebenarnya ibu mau kamu ikut kelas motivasi," Ujar Yunita. Wanita dewasa itu menggenggam tangan kiri putrinya.


"Kelas motivasi? Maksudnya apa bu?" Aruna mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Maaf, ibu menceritakan keanehan sikap kamu beberapa minggu belakang, dokter bilang kemungkinan kamu depresi akibat kanker yang kamu derita." Yunita sangat berhati-hati dalam berbicara, takut putrinya itu akan tersinggung.


"Sayang, gak gitu! Dengarkan ibu ya, disini kan banyak penderita kanker lain, mungkin kamu akan dapat teman baru disini."


Aruna menunduk mencoba mencerna tiap kata yang keluar dari mulut Yunita.


Kelas motivasi? Depresi? Kenapa tiba-tiba alur ceritanya begini? Setahu gue di komik gak ada. Apa iya alurnya berubah! Ah gak mungkin. Aruna sibuk berperang dengan batinnya, hingga melupakan kehadiran Yunita.


Sebuah usapan kecil di tangannya, membuat Aruna tersadar dari lamunannya. Tanpa berpikir panjang, gadis itu menuruti perintah Yunita untuk mengikuti kelas motivasi ini.


Ibu dan anak itu berjalan memasuki gedung, setelah mengisi formulir untuk menjadi anggota, Aruna berjalan memasuki sebuah ruangan. Sedangkan Yunita pergi keluar meninggalkan putrinya.


Ruangan sepi tanpa ada satupun orang disana, terlihat beberapa kursi sudah berjejer rapi. Aruna melangkahkan kakinya masuk ke dalam, kemudian duduk di kursi yang berada di pinggir kiri.


Sekian waktu berlalu, beberapa orang yang juga penderita kanker masuk ke dalam dan menempati kursi kosong.


Aruna kembali membawa matanya melihat sekeliling, tatapannya berhenti pada seorang laki-laki yang ia lihat di depan gedung tadi.

__ADS_1


Seorang pria berkacamata tiba-tiba datang dan duduk di kursi paling depan. Malik, pria berumur sekitar 50 tahun lebih itu mulai berbicara mengenai kanker payudara yaang dialaminya tujuh tahun lalu.


Beruntung Malik yang menyadari benjolan di bawah putingnya langsung memeriksakan keadaannya. Beberapa pengobatan langsung Malik lakukan begitu ia didiagnosa memiliki kanker.


Hingga beberapa bulan setelah pengobatan, ia dinyatakan sembuh total. Selesai dengan ceritanya, Malik meminta beberapa anggota yang lain untuk menceritakan pengalaman mereka.


Aruna diam mendengarkan beberapa orang bergantian berbicara. Ada yang mengalami kanker nasofaring atau kanker tenggorokan, penderitanya biasanya mengalami kesulitan berbicara, dengan susah payah dan artikulasi yang tidak jelas, wanita ini mulai menceritakan kanker yang dialaminya.


Beralih ke yang lain, seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun mengalami Retinoblastoma, atau bisa juga disebut kanker mata. Penglihatan yang awalnya buram semakin lama semakin gelap. Hingga bocah tersebut tak dapat melihat seutuhnya.


Aruna yang melihat begitu tak tega, anak sekecil itu harus mengalami hal menyakitkan seperti ini. Menatap bocah laki-laki itu dengan penuh kesedihan, segera Aruna menghapus air matanya yang tiba-tiba terjatuh.


Usai dengan ceritanya, bocah itu kembali duduk. Kini, giliran seorang laki-laki yang yang terus mencuri perhatian Aruna sejak gadis itu datang ke tempat ini. Laki-laki itu membuka kupluk hitam di kepalanya dan menampilkan rambutnya yang sangat sedikit.


Laki-laki yang sepantaran dengan Aruna bernama Jefry itu ternyata mengidap leukimia yang membuat rambutnya rontok sedikit demi sedikit.


Kanker darah yang dialami Jefry menyebar begitu cepat, hingga dalam waktu satu tahun lebih, leukimia Jefry dinyatakan sudah masuk stadium akhir.


Dokter memang tak bisa memastikan hidup Jefry, namun dokter mengatakan umur laki-laki itu tak akan lebih dari 2 tahun.


Laki-laki tampan bermata sayu itu melirik sedikit dan melihat seorang gadis tengah menatapnya. Jefry tak memedulikannya dan tetap melanjutkan ceritanya hingga selesai.


"Semua orang akan mati dan gak akan ada yang mengingat kalian setelah itu. Jadi... terserah!" Dengan gaya bicaranya yang arogan, Jefry membuat Aruna tersenyum kecil.


Kini, tibalah giliran Aruna. Gadis itu bangkit dari duduknya dan menatap satu persatu orang yang berada di sana.


"Hai semuanya! Emm, nama saya Aruna Salvina, saya berumur 19 tahun. Saya mengidap Osteosarkoma yang membuat saya kehilangan sebelah kaki saya." Aruna mengangkat sedikit celana panjangnya dan orang-orang di sekitar pun melihatnya.


"Sekitar 2 minggu lalu, dokter mengatakan Osteosarkoma yang saya derita menyebar hingga saya dinyatakan memiliki kanker paru-paru. Dokter juga sudah memprediksi hidup saya hanya tinggal beberapa bulan saja." Aruna mengangkat bibirnya hingga menampilkan senyum manisnya.


"Saya setuju dengan ucapan Jefry sebelumnya. Jadi, yang harus saya lakukan sekarang adalah, menikmati hidup sebelum Tuhan benar-benar mengambil nyawa saya."


Lebih tepatnya sebelum kembali ke dunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2