
Sepulangnya Aruna setelah diantar Bumantara tadi, kini gadis itu tengah sibuk memilah lukisannya yang akan ia bawa ke pameran nanti.
Dengan tangan berbakat Aruna, gadis itu memiliki banyak sekali jenis lukisan. Yang paling Aruna suka adalah lukisan kedua orang tuanya yang entah kapan Aruna buat.
"Mimpi lo untuk jadi pelukis terkenal akan segera terwujud Aruna" gumam Aruna dengan wajah yang terlihat begitu senang.
"Gua jadi pengen ngelukis lagi deh" Aruna beranjak dari duduknya dan kembali menyiapkan alat lukisnya, seperti saat pagi tadi, gadis itu memilih balkon kamarnya untuk di jadikan tempat menuangkan karyanya.
Kali ini bukan sebuah lukisan, melainkan gambar sketsa wajah.
Jika pagi tadi melukis wajah Aruna, kini giliran menggambar wajah asli orang yang merasuki raga Aruna, yaitu Nazalea. Gadis itu takut melupakan wajah aslinya jika ia terlalu lama berada di dunia komik.
Menggambar diri sendiri lebih sulit dibandingkan menggambar orang lain, itulah yang Aruna atau Nazalea rasakan saat ini.
Hanya dengan menggunakan pensil tanpa cat air seperti biasa, Aruna beberapa mendesah kesal, wajah Nazalea terpampang jelas di otaknya, namun tangannya seperti tak bisa diajak kerjasama.
Semua berjalan lancar saat melukis Aruna, namun saat menggambar Nazalea, beberapa kali gadis itu menggaruk kepalanya.
Setelah beberapa waktu Aruna habiskan dengan penuh tekanan, kini dirinya bisa menikmati hasil lukisannya. Rambut panjang, tatapan tajam seperti biasa, tahi lalat kecil di pipi kiri atas, juga senyum tipis. Wajah Nazalea begitu cantik dibuatnya.
"Akhirnya berhasil juga gambar wajah gue sendiri, gak di gambar, gak di dunia nyata, lo kenapa cantik banget sih Lea" gadis itu dengan gemas memuji dirinya sendiri.
"Emm sekarang gambar apa lagi ya?" Aruna mengetuk-ngetukkan pensilnya beberapa kali.
"Aha, gue gambar wikta aja deh" semangat yang semula membara, kini lenyap berganti kesedihan.
"Jadi makin kangen"
Sambil sesekali mengusap air matanya yang terjatuh, Aruna menggerakkan pensilnya ke kanan dan kiri. Belum sempat menyelesaikan gambarnya, Aruna menangis sejadi-jadinya.
"Huwaaaa, hiks hiks, demi apapun Lea kangen Wikta."
Aruna tak lagi menahan air matanya, bukan kedua orang tuanya yang ia rindukan, melainkan laki-laki yang selalu melindungi dan menjaganya sejak kecil, yaitu Wikta Buana.
Saking kerasnya Aruna menangis, suaranya terdengar sampai keluar.
"Ya ampun sayang, Aruna, kamu kenapa nak?" Yunita masuk ke kamar Arhna dengan panik dan langsung memeluk putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Ibu, hiks hiks"
"Iya sayang ibu disini" Yunita mengusap pelan kepala hingga punggung Aruna.
...***...
Aruna yang sudah tenang, kini sudah tidur dengan posisi masih memeluk Yunita. Aruna memeluk Yunita begitu kuat seolah tak membiarkan ibunya itu pergi.
Yunita kembali memikirkan perkataan Aruna sebelum terlelap tadi, berkali-kali putrinya itu mengatakan terimakasih padanya dan juga Farhat.
Rasa takut mulai memenuhi kepala Yunita, di tambah beberapa kali Aruna mengigau memanggil nama Wikta, Yunita sendiri pun bingung ada apa dengan Aruna.
Merasa Aruna sudah pulas, Yunita melepaskan tangan Aruna yang melingkar di tubuhnya. Wanita berusia sekitar 45 tahun itu berjalan ke arah balkon dan melihat beberapa lukisan Aruna.
Yang menjadi perhatian Yunita adalah sebuah gambar seorang gadis cantik yang berpenampilan seperti laki-laki yang memakai jaket kulit dengan resleting terbuka. Juga gambar setengah kepala, meski gambar tersebut belum selesai, Yunita tahu itu adalah gambar seorang laki-laki.
"Ini siapa?" gumam Yunita yang masih memperhatikan gambar Nazalea dan Wikta.
Yunita tahu segala hal tentang Aruna, bahkan mengenai teman-temannya. Putrinya itu hanya memiliki satu orang teman perempuan yaitu Belinda, dan satu orang teman laki-laki yaitu Bumantara. Namun dua orang yang di gambar Aruna, sama sekali tidak mirip dengan kedua temannya itu.
Melihat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya, Yunita langsung tahu itu adalah suaminya, bergegas ia menyambut kepulangan Farhat.
"Nanti ayah ceritakan semuanya ke dokter pribadi Aruna ya" ucap Farhat menenangkan istrinya.
"Secepatnya ya yah, ibu takut Aruna kenapa-kenapa"
"Iya"
...***...
Keesokan harinya, Aruna terbangun dengan mata yang bengkak, entah berapa lama dirinya menangis kemarin.
Dilihatnya lukisan yang sempat berantakan kini sudah rapi kembali.
"Pasti ibu yang beresin" suara serak terdengar dari gadis itu.
Saat akan membangunkan dirinya, Aruna merasakan sakit yang luar biasa pada dadanya, lama-kelamaan nyeri mengiringi.
__ADS_1
Aruna mencoba mengatur napasnya, namun sayang rasa sakit itu tak kunjung hilang bahkan semakin menjadi.
"Ibu, ayah" lirih Aruna berusaha memanggil kedua orang tuanya.
"Ya Tuhan, sakit. Uhuk uhuk"
Aruna memukul dadanya berharap menghilangkan rasa nyeri itu, saat akan batuk kembali, Aruna menutup mulut menggunakan kedua tangannya.
Aruna melihat terdapat cairan kental berwarna merah pada tangannya, sudut bibirnya juga terlihat mengeluarkan sedikit darah.
"Ibu–"
Dengan mata sedikit terbuka Aruna melihat kedua orang tuanya datang dan menghampirinya.
Tak kuat menahan semua rasa sakit ini, Aruna memejamkan matanya saat merasa tubuhnya melayang dalam gendongan Farhat.
...***...
Beep Beep Beep
Di sebuah ruangan ICU, seorang gadis dengan wajah pucatnya terbaring lemah dengan mata yang masih tertutup. Ruangan sunyi itu hanya terdengar suara monitor tanda vital.
Di luar ruangan, sepasang suami istri terlihat begitu khawatir dengan pandangan tertuju ke dalam ruangan tersebut.
Yunita yang tak bisa menahan air matanya lagi, hanya bisa menangis di pelukan Farhat. Sungguh tak tega melihat keadaan Aruna yang kembali memburuk.
Setelah melihat kondisi Aruna yang tak berdaya dengan bercak darah di tangan dan juga wajahnya, Yunita dan Farhat langsung melarikan Aruna ke rumah sakit.
Seorang perawat wanita menghampiri dan memberitahu bahwa dokter ingin bertemu, tanpa menunggu waktu lagi, Farhat dan Yunita langsung mengikuti arahan perawat tersebut.
Seorang dokter laki-laki yang menangani Aruna, berbicara sambil menunjukkan hasil rontgen Aruna.
Betapa hancurnya hati Farhat dan Yunita kala mendengar penjelasan dokter, osteosarkoma yang di derita Aruna hingga membuat kakinya harus diamputasi, kini kanker itu telah menyebar ke paru-paru. Dan yang tak kalah membuat sakit, dokter itu mengatakan bahwa umur Aruna hanya tinggal beberapa bulan saja.
Yunita menangis histeris kala mendengar penjelasan dokter, ibu satu anak itu terduduk di lantai dengan rasa sesak yang memenuhi relung dadanya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Farhat, bedanya Farhat bisa mengontrol dirinya, sambil menangis, Farhat menunduk dan memeluk istrinya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kenapa ini terjadi pada putriku? tak cukupkah engkau mengambil sebelah kakinya? sekarang kau malah ingin mengambil nyawanya!, apa salah putriku Tuhan? jika memang kau ingin mengambil sebuah nyawa, ambilah nyawaku, anggap saja sebagai pengganti!"