Transmigrasi ke dalam Komik

Transmigrasi ke dalam Komik
Tak Pantas Menjadi Orang Tua


__ADS_3

Setelah 24 jam berada di ruang ICU, kini Aruna sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Meski dokter mengatakan kondisinya sudah stabil, Aruna tetap membutuhkan alat bantu pernapasan berupa Nasal kanul, yaitu selang yang ditempatkan di kedua lubang hidung.


Sayup-sayup Aruna mendengar suara yang entah dari mana asalnya. Mata yang beberapa jam lalu terpejam, kini mulai terbuka sedikit demi sedikit.


Cahaya lampu seketika menyilaukan mata gadis itu. Aruna melirik ke kanan dan mendapati kedua orang tuanya berada di sana.


Aruna melihat Farhat dan Yunita terus berbicara sambil menangis, namun Aruna tak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.


Farhat berlari keluar dan tak lama kembali dengan seorang dokter laki-laki. Aruna kembali memejamkan matanya kala dokter tersebut semakin mendekatinya.


"Aruna, Aruna kamu bisa dengar saya?"


Kali ini Aruna dapat mendengar dengan jelas suara tersebut, namun mengapa matanya tak bisa terbuka. Seolah ada yang menahan kelopak matanya, Aruna hanya bisa pasrah tak melawan.


...***...


"Lea bangun! merasa jadi jagoan kamu balap motor begitu, Hah? bangun papa bilang!"


"Sebenarnya apa yang kamu cari sih Lea? hadiah balap itu hanya seberapa, tak sebanding dengan uang yang mama dan papa kasih ke kamu!"


"Kamu selalu menyusahkan kami Lea!"


"Tidak bisakah kamu menjadi anak penurut, sekali saja!"


"Sungguh kami malu punya anak seperti kamu Lea!"


Nazalea melihat kedua orang tuanya tengah memarahi sambil sesekali mengguncang tubuhnya yang lemah tak berdaya.


Nazalea ingin berjalan menghampiri kedua orang tuanya, namun mengapa kakinya tak bisa di gerakkan. Orang tuanya pun tak melihat kehadiran dirinya, sebenarnya apa yang terjadi pada Nazalea

__ADS_1


"Papa Mama"


"Bahkan di saat Lea sekarat pun kalian tetap gak peduli"


Tak beberapa lama, Nazalea melihat kedatangan Wikta, laki-laki itu nampak lebih kurus dari biasanya, keadaannya juga terlihat kacau tak seperti biasanya yang selalu rapi.


Wikta terlihat menjauhkan kedua orang tua Nazalea dari brankar. Ia juga terlihat memarahi kedua orang tua Nazalea, meski tak mendengar dengan jelas apa yang mereka ributkan, Nazalea tahu Wikta pasti tengah membelanya, seperti sebelum-sebelumnya.


Saat kedua orang tua Nazalea kembali mendekati brankar, dengan cepat Wikta menghalangi, namun bukan orang tua Nazalea jika tak gila. Tak disangka ayah Nazalea malah menarik selang yang membantu pernapasan Nazalea.


Melihat hal itu, Wikta tak tinggal diam, Wikta langsung memukul ayah Nazalea, tak peduli yang dihadapinya adalah orang tua.


"Wik–ta To–long" dengan napas tersendat, sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, Nazalea berusaha memanggil Wikta.


Samar-samar Nazalea melihat beberapa orang berpakaian serba putih menghampiri raganya yang gelagapan di brankar. Melihat kegelapan, Nazalea kembali menutup matanya yang terasa sangat berat.


...***...


"WIKTA TOLONG" Aruna berteriak dengan keras hingga mengejutkan Farhat dan Yunita yang sejak tadi duduk di sofa menunggunya.


"Aruna, kamu kenapa sayang?"


"Ibu Ayah, huhuhuhuhu" Aruna bangkit kemudian memeluk Farhat dan Yunita sambil menangis tersedu-sedu.


"Mereka jahat bu, yah, hiks hiks. Mereka mau membunuh aku, huwaaa tolong!"


Sekarang Farhat mengerti keanehan tentang Aruna yang diceritakan istrinya.


"Siapa sayang? di sini gak ada siapapun!"


"Mereka berdua yah, mereka mencabut selang oksigen Aku. Mereka gak sayang aku hiks hiks."

__ADS_1


Lagi-lagi Farhat dan Yunita dibuat kebingungan dengan perkataan Aruna. Beberapa jam lalu Aruna membuka matanya, namun hanya sebentar, setelah itu Aruna kembali tak sadarkan diri.


Sekarang setelah sadar sepenuhnya, Aruna malah meracau tidak jelas.


"Sayang, Aruna, dengarkan ayah. Di ruangan ini cuma ada ayah dan ibu, gak ada satupun orang yang mau membunuh kamu."


"Iya sayang, ayah benar. Sejak tadi kami tidak pernah meninggalkan kamu sendiri." timpal Yunita membenarkan ucapan Farhat.


Aruna terdiam, ia melihat sekeliling dan menyadari kamar ini berbeda dengan kamar sebelumnya. Nazalea kembali ke dunia nyata dan melihat raganya masih koma dengan alat medis di sekelilingnya.


Yang begitu menyayat hati adalah kedua orang tua Nazalea, di saat putri mereka terbaring lemah berjuang antara hidup dan mati. Bukannya sedih, mereka malah memarahi bahkan mencoba membunuh Nazalea.


Pastaskah mereka disebut sebagai orang tua?


Salah Lea apa? kenapa kalian berbuat sejahat itu ada Lea? jika memang tidak menyayangi Lea, setidaknya tunjukkan sedikit empati kalian sesama manusia. Tidak cukupkah perlakuan kasar kalian selama ini? hingga kalian dengan teganya ingin mencabut oksigen yang membantu hidup Lea?


Sambil menangis sesegukan, Nazalea terus berbicara dalam hatinya, meratapi takdir yang jahat sekali padanya.


Suara tangis menggema di ruang rawat itu, sebuah tangis yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Di saat Nazalea sudah menyerah dengan kehidupan, di saat itulah ia merasakan pelukan yang menghangatkan. Pelukan yang membawa damai dalam hatinya, pelukan yang memberikan semangat untuk menjalani kehidupan.


Aruna mengangkat wajahnya dan melihat wajah kedua orang tua yang begitu menyayanginya.


"Aku gak tahu harus bilang apalagi, terimakasih untuk semua kasih sayang yang kalian berikan. Terimakasih telah memberikan kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Terimakasih telah membuatku merasa berharga, ibu, ayah, aku sangat menyayangi kalian."


Aruna melebarkan kedua tangannya dan memeluk dua orang yang begitu di sayanginya.


...***...


Satu hal yang harus papa dan mama tahu, Lea tak pernah membenci apalagi menaruh dendam ke kalian. Lea hanya kecewa, bagaimana bisa orang tua memperlakukan anaknya seburuk itu.

__ADS_1


Selama ini Lea selalu berjuang melakukan segala cara hanya untuk mendapat kasih sayang kalian berdua ma, pa. Namun hasilnya tetap sama, sampai kapanpun kalian tak akan pernah menyayangi Lea. Sungguh lelah jiwa dan raga ini.


Lea menyerah pa, ma. Lea janji mulai hari ini Lea tak akan pernah menganggu kehidupan kalian lagi. Sesuai keinginan kalian, silakan pukul dan bunuh Lea sesuka hati kalian. Lea akan berdo'a pada tuhan agar Lea tak pernah kembali ke kehidupan nyata, dengan begitu kalian bisa hidup tenang tanpa pengganggu seperti Lea.


__ADS_2